<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>BERBAGI UNTUK MENGERTI</title>
	<atom:link href="http://masteja.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://masteja.wordpress.com</link>
	<description>Aku Bisa Karena Engkau Ada</description>
	<lastBuildDate>Tue, 20 May 2008 06:40:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='masteja.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>BERBAGI UNTUK MENGERTI</title>
		<link>http://masteja.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://masteja.wordpress.com/osd.xml" title="BERBAGI UNTUK MENGERTI" />
	<atom:link rel='hub' href='http://masteja.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Asyiknya Saat Berdua</title>
		<link>http://masteja.wordpress.com/2008/05/20/asyiknya-saat-berdua/</link>
		<comments>http://masteja.wordpress.com/2008/05/20/asyiknya-saat-berdua/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 May 2008 06:40:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masteja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Baiti Jannati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masteja.wordpress.com/2008/05/20/asyiknya-saat-berdua/</guid>
		<description><![CDATA[  ASYIKNYA SAAT BERDUA By : Irawati Istadi   Ketika menikah dengan Rasulullah, Ummu Salamah masih memiliki seorang balita. Seperti lazimnya kanak-kanak lain, anak ini tentu saja masih begitu menyita perhatian penuh dari ibundanya itu. Pagi, siang hingga malam, sebagian besar waktu Ummu Salamah habis untuk menjaga, merawat dan mendidik putra bungsunya ini. Namun begitu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masteja.wordpress.com&amp;blog=2603666&amp;post=29&amp;subd=masteja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="post-body entry-content">
<p> </p>
<p class="MsoTitle" style="font-family:arial;text-align:center;" dir="ltr">ASYIKNYA<span> </span>SAAT<span> </span>BERDUA</p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;font-family:arial;unicode-bidi:embed;text-align:center;" dir="ltr">By : Irawati Istadi</p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;font-family:arial;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr"> </p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;text-indent:36pt;font-family:arial;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr">Ketika menikah dengan Rasulullah, Ummu Salamah masih memiliki seorang balita. Seperti lazimnya kanak-kanak lain, anak ini tentu saja masih begitu menyita perhatian penuh dari ibundanya itu. Pagi, siang hingga malam, sebagian besar waktu Ummu Salamah habis untuk menjaga, merawat dan mendidik putra bungsunya ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;text-indent:36pt;font-family:arial;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr">Namun begitu menjadi istri Rasulullah, Ummu Salamah sadar bahwa ia perlu menyediakan banyak waktu luang untuk kebutuhan suaminya itu akan dirinya. Maka ia pun mengatur untuk mengambil orang yang membantu menjagakan balitanya, jika saatnya Rasulullah berada di rumahnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;text-indent:36pt;font-family:arial;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr">Kondisi Ummu Salamah yang disibukkan oleh balitanya, juga kerap dialami oleh banyak ibu hingga jaman sekarang. Betapa banyak suami istri yang harus tenggelam dalam kehidupan rutinitas keluarga, mulai dari urusan anak hingga urusan domestic, yang akhirnya membuat mereka tak lagi memiliki waktu untuk menikmati waktu berdua saja. Tetapi, ternyata Rasulullah saw dan Ummu Salamah memandang bahwa waktu berdua begitu pentinng untuk diadakan, sesibuk apapun keduanya. Bagaimana dengan anda ?</p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;text-indent:36pt;font-family:arial;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr">Kebanyakan pasangan suami istri merasa terlalu tua untuk menyisihkan waktu berduaan seperti itu. &#8216;Kok seperti pengantin baru saja&#8217;, begitu komentar mereka. Padahal, hingga menjadi pasangan tua renta sekalipun, setiap pasangan suami istri tetap membutuhkan waktu untuk menyendiri berdua. Untuk berbagi rasa, berbagi cerita, dan berbagi cinta..</p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;font-family:arial;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr"> </p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;font-family:arial;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr"> </p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;font-family:arial;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr"><strong>Kebutuhan untuk Berdua</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;font-family:arial;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr"> </p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;text-indent:36pt;font-family:arial;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr">Hubungan antara suami istri, bukan sekedar hubungan fisik dan biologis semata. Justru hubungan jenis ini merupakan satu bagian kecil saja, dan dibatasi oleh<span> </span>kekuatan fisik, usia serta keinginan. Pasangan yang sudah tua, misalnya,<span> </span>bisa jadi tak lagi memiliki kebutuhan terlalu besar akan hubungan tersebut.</p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;text-indent:36pt;font-family:arial;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr">Namun tidaklah demikian dengan keadaan hubungan batin di antara keduanya, karena kebutuhan akan hubungan batin ini tidaklah dibatasi oleh apapun. Setiap pasangan suami istri meebutuhkannya kapanpun, dimanapun dan dalam kondisi apapun. Ketika salah satu menghadapi masalah, akan membutuhkan dukungan dari pasangannya, walau sekedar untuk mendengar apa yang menjadi keluhanya. Sebaliknya ketika salah satu memperoleh kebahagiaan pun tetap membutuhkan pasangannya, untuk berbagi raas bahagia.</p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;text-indent:36pt;font-family:arial;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr">Kebutuhan akan perhatian dan kasih saying antara satu orang dengan pasangan hidupnya, bisa menjadi pemicu gairah utama dalam kehidupan. Perhatian dan kasih saying ini begitu pribadi dan spesiial, sehingga tak akan mampu tergantikan oleh orang lain. Sentuhan raas emosinya begitu kental, sehingga mampu menggerakkan sendi-sendi kekuatan diri yang terdalam sekalipun. Inilah kebutuhan untuk dicintai, yang tak dibatasi oleh ruang dan waktu.</p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;font-family:arial;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr"> </p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;font-family:arial;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr"> </p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;font-family:arial;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr"> </p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;font-family:arial;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr"> </p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;font-family:arial;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr"> </p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;font-family:arial;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr"> </p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;font-family:arial;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr"><strong>Merancang &#8216;Waktu Berdua&#8217;</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;font-family:arial;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr"> </p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;font-family:arial;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr"><strong>Lepaskan Segala Jerat</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;font-family:arial;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr">Ada jerat pikiran, kelelahan fisik hingga jerat rutinitas yang menggumpal menunggu untuk dikerjakan. Tetapi seluruhnya harus anda lepas dari pikiran dan perasaan untuk sementara. Emosi anda harus benar-benar relaks saat ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;font-family:arial;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr"> </p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;font-family:arial;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr"><strong>Katakan Apa Saja</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;font-family:arial;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr">Membangun komunikasi produktif, itu intinya. Mulailah dengan menyampaikan apa saja yang ingin anda sampaikan. Apa yang memberatkan hati dan pikiran, atau yang justru membahagiakan. Curhatlah sepenuh hati, tanpa beban, tanpa prasangka.</p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;font-family:arial;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr"> </p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;font-family:arial;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr"><strong>Dengarkan Semuanya.</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;font-family:arial;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr">Keseimbangannya, dengarkanlah apa yang<span> </span>disampaikan pasangan anda. Jika anda pandai mendengarkan dengan sabar dan lapang dada, selanjutnya anda akan didengarkan oleh pasangan anda.</p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;font-family:arial;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr"> </p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;font-family:arial;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr"><strong>Indahnya Persamaan.</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;font-family:arial;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr">Tak ada pasangan yang tak memiliki perbedaan, bahkan mungkin jurang perbedaan itu begitu besar. Namun ingat, semuanya bisa diatasi dengan terus mencari dan terus menemukan, sekecil apapun, persamaan yang ada antar pasangan. Semakin banyak anda membicarakan persamaan-persamaan di antara anda dan semakin jarang mengunngkit-ungkit perbedaan yang ada, maka emosi cinta akan lebih mudah terbangun.</p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;font-family:arial;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr"> </p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;font-family:arial;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr"><strong>Saling Dukung, Saling Percaya.</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;font-family:arial;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr">Dukungan dan kepercayaan, adalah dua hal yang sangat dibutuhkan oleh seseorang dari pasangan hidupnya. Berilah empati, dukungan dan semangat kepada pendapat pasangan anda, jika anda sepakat dengannya. Jika tidak, ajak dialog terbuka dengan baik-baik. Beri kepercayaan pada pasangan anda untuk berbuat sesuai yang telah anda sepakati berdua. Bangun prasangka positif, pahami kesalahan dan kekhilafan yang mungkin terjadi di awal, dan beri kesempatan pasangan anda untuk memperbaiki diri.</p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;font-family:arial;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr"> </p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;font-family:arial;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr">***</p>
<p> </p>
</div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/masteja.wordpress.com/29/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/masteja.wordpress.com/29/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masteja.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masteja.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masteja.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masteja.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masteja.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masteja.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masteja.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masteja.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masteja.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masteja.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masteja.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masteja.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masteja.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masteja.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masteja.wordpress.com&amp;blog=2603666&amp;post=29&amp;subd=masteja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masteja.wordpress.com/2008/05/20/asyiknya-saat-berdua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d77f755a75d1ed7cebc5fcf838842e82?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">masteja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cara Pandang Positif</title>
		<link>http://masteja.wordpress.com/2008/05/20/cara-pandang-positif/</link>
		<comments>http://masteja.wordpress.com/2008/05/20/cara-pandang-positif/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 May 2008 06:38:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masteja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Rumah Tangga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masteja.wordpress.com/?p=28</guid>
		<description><![CDATA[Pernahkah anda membuka kembali album foto kenangan saat-saat pernikahan anda, belasan atau mungkin puluhan tahun silam ? Bayangkanlah kembali suasana saat itu yang penuh cinta, suka cita dan kebahagiaan. Apa yang ada dalam benak pikiran anda kala itu ? Tentu ada kegembiraan, optimisme dan keyakinan untuk membangun keluarga sesuai impian anda. Yang indah, harmonis dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masteja.wordpress.com&amp;blog=2603666&amp;post=28&amp;subd=masteja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;font-family:courier new;text-align:justify;"><span>Pernahkah anda membuka kembali album foto kenangan saat-saat pernikahan anda, belasan atau mungkin puluhan tahun silam ? Bayangkanlah kembali suasana saat itu yang penuh cinta, suka cita dan kebahagiaan. Apa yang ada dalam benak pikiran anda kala itu ? Tentu ada kegembiraan, optimisme dan keyakinan untuk membangun keluarga sesuai impian anda. Yang indah, harmonis dan nyaman ibarat surga dunia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;font-family:courier new;text-align:justify;"><span>Namun kenyataannya kini, mengapa tak seindah harapan ? Yang dulu indah didengar dan silihat, kini jadi menyebalkan dan menjemukan. Yang dulu terasa hangat dan segar, pun telah berubah kering dan panas. Dulu, suami nampak paling gagah, ganteng dan paling baik hati. Istri pun tampil sebagai putrid yang paling cantik, menarik dan senantiasa menyenangkan hati. Kemana semuanya pergi ?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;font-family:courier new;text-align:justify;"><span>Padahal kalau mau jujur dan bertanya pada hati nurani, sebenarnya tidak terlalu banyak yang berubah pada diri anda, juga pasangan hidup anda. Kalau sejak dulu suami bertubuh gemuk, mengapa dulu dirasa semakin menambah keren, tetapi sekarang dirasa mengganggu pandangan mata ? Kalau sejak dulu istri bertubuh pendek dan mungil, mengapa dulu dibangga-banggakan sebagai putrid imut, tetapi sekarang menjadi kalah menarik dengan rekan kerja di kantor yang tinggi semampai ?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;font-family:courier new;text-align:justify;"><span>Seringkali terjadi, bahwa perubahan yang terjadi justru dari dalam diri anda sendiri. Perubahan yang terjadi adalah dari cara pandang anda. Kalau dulu anda memandang dengan cara pandang positif, maka segala sesuatu yang terlihat, nampak sebagai sesuatu yang positif. Gemuknya suami, pendeknya istri, gondrongnya rambut hingga sumbingnya bibir pun semua terlihat indah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;font-family:courier new;text-align:justify;"><span>Tetapi ketika cara pandang anda bergeser kea rah negative, maka tiba-tiba segalanya menjadi nampak negative. Secantik apapun istri, masih tak bisa mengalahkan kecantikan rekan bisnis di kantor. Setampan apapun suami pun tak bisa menghapuskan kenangan terhadap teman lama yang kini telah sukses dengan bisnisnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;font-family:courier new;text-align:justify;"><span>Itulah cara kerja otak manusia,dimana ia berpikir sesuai kea rah mana konsentrasi dilakukan. Ketika otak berkonsentrasi kea rah positif, maka otomatis segera nampak begitu banyak hal-hal positif yang ada. Sementara kekurangan sebesar apapun tidak dirasa mengganggu, bahkan bisa diterima sebagai sesuatu yang positif. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;font-family:courier new;text-align:justify;"><span>Sebaliknya saat otak bekerja dengan konsentrasi negative, maka segala jenis hal negative,walau sekecil apapun, segera nampak di depan mata. Sementara hal positif yang sangat besar di depan mata pun bisa-bisa tak terlihat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;font-family:courier new;text-align:justify;"><span>Itu sebabnya, Rasulullah berpesan agar kita senantiasa mempergunakan cara pandang positif ini dalam kehidupan keluarga. Dalam sebuah hadis beliau berpesan, ‘Jika kamu tak suka terhadap satu perangai istrimu, maka lihatlah perangai baiknya yang lain, karena Allah lebih tahu akan dirinya.’………..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;"><span><span style="font-family:courier new;">Nah, sahabat, mari kita coba membuat daftar penilaian terhadap pasangan hidup kita, seberapa banyak hal-hal positif dalam dirinya yang mampu kita tangkap dan kita syukuri ? Allah memerintahkan kita untuk pandai-pandai mensyukuri nikmat, sekecil apapun nikmat itu, karena semakin banyak kita bersyukur, maka akan semakin banyak nikmat yang Dia berikan kepada kita. Ini menyiratkan, semakin positif cara kita memandag segala sesuatu, semakin banyak pula hal-hal positif akan kita peroleh.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;"><span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/masteja.wordpress.com/28/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/masteja.wordpress.com/28/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masteja.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masteja.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masteja.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masteja.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masteja.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masteja.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masteja.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masteja.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masteja.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masteja.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masteja.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masteja.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masteja.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masteja.wordpress.com/28/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masteja.wordpress.com&amp;blog=2603666&amp;post=28&amp;subd=masteja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masteja.wordpress.com/2008/05/20/cara-pandang-positif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d77f755a75d1ed7cebc5fcf838842e82?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">masteja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8220;Ayah Galak,&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..Ayah Jahat&#8230;&#8230;&#8221;</title>
		<link>http://masteja.wordpress.com/2008/05/20/ayah-galakayah-jahat/</link>
		<comments>http://masteja.wordpress.com/2008/05/20/ayah-galakayah-jahat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 May 2008 06:36:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masteja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Parenting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masteja.wordpress.com/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Supardi Lee, Penulis &#38; Trainer Seorang ayah punya tugas memandikan putra kesayangannya setiap pagi. Sang anak berusia tiga tahun. Dan ia tidak suka mandi! Berbagai cara dicoba untuk membuat sang anak mandi. Dari cara terhalus berbentuk bujukan sampai cara kasar,&#8230; paksaan dan pukulan. Semuanya gagal. Putranya bukan jadi mau mandi, tapi jadi membencinya. Ia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masteja.wordpress.com&amp;blog=2603666&amp;post=27&amp;subd=masteja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 class="post-title entry-title"><span style="font-weight:bold;">Oleh Supardi Lee, Penulis &amp; Trainer</span></h3>
<div class="post-body entry-content">
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span></span></div>
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span></span></div>
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:Times New Roman;">Seorang ayah punya tugas memandikan putra kesayangannya setiap pagi.<span> </span>Sang anak berusia tiga tahun.<span> </span>Dan ia tidak suka mandi!<span> </span></span></span></span></div>
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span></span></div>
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:Times New Roman;">Berbagai cara dicoba untuk membuat sang anak mandi.<span> </span>Dari cara terhalus berbentuk bujukan sampai cara kasar,&#8230; paksaan dan pukulan.<span> </span>Semuanya gagal.<span> </span>Putranya bukan jadi mau mandi, tapi jadi membencinya.<span> </span>Ia menangis dan mulai membalas pukulan.<span> </span>Dua hal yang sudah dianggap nggak apa-apa oleh sang ayah.<span> </span>Apalagi ia harus mengejar waktu untuk bisa masuk kerja tepat waktu.<span> </span>Rutinitas yang membuat sang ayah kesal, marah dan hampir putus asa.<span> </span>Tapi ia tidak mau melepaskan tugas tersebut.<span> </span>Gengsi menghalanginya.<span> </span>”Masa mandiin anak kecil aja nggak bisa”, begitu pikirnya.</span></span></span></div>
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span></span></div>
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>Sampai suatu pagi, prosesi paksaan mandi kembali dilakukan.<span> </span>Sambil menangis pilu, sang anak berkata pada ayahnya : ”Ayah galak, Ayah jahat”.<span> </span></span><span>Kata-kata itu benar-benar menusuk hatinya.<span> </span></span></span></span></div>
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span></span></div>
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:Times New Roman;">Selama ini, ia juga kena pukul anaknya.<span> </span>Tapi sakitnya tidak sesakit kata-kata ”Ayah galak, ayah jahat” tadi.<span> </span>Seharian ia tidak bisa bekerja dengan baik.<span> </span>Kata-kata anaknya benar-benar menyentaknya.<span> </span>Tak terasa, matanya berkaca-kaca.<span> </span>Sang ayah menangis.<span> </span>Ia benar-benar menyesal telah memperlakukan anak kesayangannya demikian buruk.<span> </span></span></span></span></div>
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span></span></div>
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:Times New Roman;">Sejak hari itu, ia tidak lagi memaksa anaknya mandi.<span> </span>Sang anak memang tidak mandi.<span> </span>Paling ganti baju saja.<span> </span>Tapi,&#8230; tidak ada tangisan dan teriakan setiap hari.</span></span></span></div>
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span></span></div>
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:Times New Roman;">Sang ayah kembali berpikir bagaimana membuat anaknya senang mandi tanpa paksaan, teriakan apalagi pukulan. Berbagai alternatif muncul.<span> </span>Beberapa dicoba.<span> </span>Gagal total.<span> </span>Tapi sang ayah tidak menyerah.<span> </span>Ia kembali mencari cara yang lebih baik.</span></span></span></div>
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span></span></div>
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:Times New Roman;">Sampai suatu ketika, suatu kesadaran baru timbul.<span> </span>Sang ayah sadar, membuat anaknya senang mandi adalah sudut pandang yang keliru.<span> </span>Bagi anak usia tiga tahun, tidak ada aktivitas yang disenanginya, kecuali bermain.<span> </span>Jadi pertanyaannya bukan bagaimana membuat anaknya senang mandi, tapi bagaimana bersenang-senang dengan anaknya, termasuk ketika mandi.<span> </span>Pemikiran ini menggeser fokus dan pendekatannya.<span> </span>Dari fokus pada anaknya menjadi fokus pada dirinya sendiri.<span> </span></span></span></span></div>
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span></span></div>
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:Times New Roman;">Kesadaran ini membuat sang ayah merubah perintah mandi : ”Nak, mandi sana!” menjadi ajakan untuk memandikan sang ayah : ”Nak, mandiin ayah dong&#8230;”.<span> </span>Selain itu, mandi justru menjadi aktivitas sampingan.<span> </span>Aktivitas utamanya adalah main.<span> </span>Dari mencuci bola anaknya, membuat gelembung sabun, main robot-robotan di air, mengisi air ke botol, dan sebagainya.<span> </span>Mandi pun menjadi aktivitas yang menyenangkan.<span> </span></span></span></span></div>
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span></span></div>
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>Beberapa kali, sang anak memang masih tidak mau mandi.<span> </span>Tapi, hal ini bukan lagi suatu masalah besar.<span> </span>Sang ayah menjadi sangat kreatif dan sabar mencari permainan yang akhirnya membawa mereka ke kamar mandi, main air dan mandi.<span> </span></span><span>Makin lama, proses main dan mandi ini menjadi makin cepat.<span> </span>Dan akhirnya, suatu pagi sang anak berkata pada ayahnya: ”Yah, mandi yuk&#8230;”<span> </span>Sang ayah pun langsung memeluk dan menggendong anak tercintanya.<span> </span>Dengan mata berkaca-kaca, sang ayah berkata: ”Ayuk&#8230;”</span></span></span></div>
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span></span></div>
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:Times New Roman;">Saudara, mendidik anak membutuhkan kesabaran, bukan kemarahan.<span> </span>Kreatifitas menjadi penting dalam proses menumbuhkan kesabaran ini.<span> </span>Anda tidak akan jadi orang tua yang sabar bila anda tidak kreatif.<span> </span>Kekerasan dalam memperlakukan anak tidak akan mendidik apapun selain dendam.<span> </span></span></span></span></div>
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span></span></div>
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:Times New Roman;">Dalam kasus di atas, diperlukan banyak waktu untuk menjalin cinta dan keakraban antara sang ayah dengan anaknya.<span> </span>Tidak efisien.<span> </span>Tapi memang bukan efisiensi (hemat sumberdaya) yang menjadi fokus utama dalam mendidik anak.<span> </span>Efektifitas (tujuan tercapai dengan baik) adalah fokusnya.<span> </span>Jadi, asalkan terjalin cinta tulus antara orang tua dengan anaknya, masalah diperlukan banyak waktu, tenaga, pikiran, dana, dan sebagainya tidak lah menjadi masalah.</span></span></span></div>
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span></span></div>
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:Times New Roman;">Nah saudara, jangan salah fokus.<span> </span>Jangan ingin cepat-cepat mendidik anak. Tenang saja.<span> </span>Anda punya waktu yang berlebih untuk mendidik anak dan terutama mendidik diri anda sendiri untuk menumbuhkan cinta tulus diantara anda dan buah hati anda.<span> </span></span></span></span></div>
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span></span></div>
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:Times New Roman;">Selamat bersabar dan kreatif&#8230;</span></span></span></div>
<p> </p>
</div>
<div class="post-footer">
<div class="post-footer-line post-footer-line-1"><span class="post-author vcard">http://rumahcintafoundation.blogspot.com</span></div>
</div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/masteja.wordpress.com/27/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/masteja.wordpress.com/27/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masteja.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masteja.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masteja.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masteja.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masteja.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masteja.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masteja.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masteja.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masteja.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masteja.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masteja.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masteja.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masteja.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masteja.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masteja.wordpress.com&amp;blog=2603666&amp;post=27&amp;subd=masteja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masteja.wordpress.com/2008/05/20/ayah-galakayah-jahat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d77f755a75d1ed7cebc5fcf838842e82?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">masteja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pudarnya Pesona Cleopatra</title>
		<link>http://masteja.wordpress.com/2008/05/20/pudarnya-pesona-cleopatra/</link>
		<comments>http://masteja.wordpress.com/2008/05/20/pudarnya-pesona-cleopatra/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 May 2008 02:20:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masteja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Rumah Tangga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masteja.wordpress.com/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[Pudarnya Pesona Cleopatra     Toek para suami, Yakinlah&#8230; istrimu selalu berusaha membahagiakanmu&#8230;   Dengan panjang lebar ibu menjelaskan, sebenarnya sejak ada dalan kandungan aku telah dijodohkan dengan Raihana yang tak pernah kukenal.&#8221; Ibunya Raihana adalah teman karib ibu waktu nyantri di pesantren Mangkuyudan Solo dulu&#8221; kata ibu. &#8220;Kami pernah berjanji, jika dikarunia anak berlainan jenis akan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masteja.wordpress.com&amp;blog=2603666&amp;post=26&amp;subd=masteja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<ol>
<li>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="95%" align="center">
<tbody>
<tr>
<td class="judul-berita">Pudarnya Pesona Cleopatra    </td>
</tr>
<tr>
<td><em>Toek para suami, Yakinlah&#8230; istrimu selalu berusaha membahagiakanmu&#8230;</em></td>
</tr>
<tr>
<td> </td>
</tr>
<tr>
<td class="text-content">
<div>
<div>
<p>Dengan panjang lebar ibu menjelaskan, sebenarnya sejak ada dalan kandungan aku telah dijodohkan dengan Raihana yang tak pernah kukenal.&#8221; Ibunya Raihana adalah teman karib ibu waktu nyantri di pesantren Mangkuyudan Solo dulu&#8221;<br />
kata ibu.</p>
<p>&#8220;Kami pernah berjanji, jika dikarunia anak berlainan jenis akan besanan untuk memperteguh tali persaudaraan. Karena itu ibu mohon keikhlasanmu&#8221; , ucap beliau dengan nada mengiba.</p>
<p>Dalam pergulatan jiwa yang sulit berhari-hari, akhirnya aku pasrah. Aku menuruti keinginan ibu. Aku tak mau mengecewakan ibu. Aku ingin menjadi mentari pagi dihatinya, meskipun untuk itu aku harus mengorbankan diriku.</p>
<p>Dengan hati pahit kuserahkan semuanya bulat-bulat pada ibu. Meskipun sesungguhnya dalam hatiku timbul kecemasan-kecemasan yang datang begitu saja dan tidak tahu alasannya. Yang jelas aku sudah punya kriteria dan impian tersendiri untuk calon istriku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa berhadapan dengan air mata ibu yang amat kucintai. Saat khitbah (lamaran) sekilas kutatap wajah Raihana, benar kata Aida adikku, ia memang baby face dan anggun.</p>
<p>Namun garis-garis kecantikan yang kuinginkan tak kutemukan sama sekali.<br />
Adikku, tante Lia mengakui Raihana cantik, &#8220;cantiknya alami, bisa jadi bintang iklan Lux lho, asli ! kata tante Lia. Tapi penilaianku lain, mungkin karena aku begitu hanyut dengan gadis-gadis Mesir titisan Cleopatra, yang tinggi semampai, wajahnya putih jelita, dengan hidung melengkung indah, mata bulat bening khas arab, dan bibir yang merah. Di hari-hari menjelang pernikahanku, aku berusaha menumbuhkan bibit-bibit cintaku untuk calon istriku, tetapi usahaku selalu sia-sia.</p>
<p>Aku ingin memberontak pada ibuku, tetapi wajah teduhnya meluluhkanku. Hari pernikahan datang. Duduk dipelaminan bagai mayat hidup, hati hampa tanpa cinta, Pestapun meriah dengan emapt group rebana. Lantunan shalawat Nabipun terasa menusuk-nusuk hati. Kulihat Raihana tersenyum manis, tetapi hatiku terasa teriris-iris dan jiwaku meronta. Satu-satunya harapanku adalah mendapat berkah dari Allah SWT atas baktiku pada ibuku yang kucintai.<br />
Rabbighfir li wa liwalidayya!</p>
<p>Layaknya pengantin baru, kupaksakan untuk mesra tapi bukan cinta, hanya sekedar karena aku seorang manusia yang terbiasa membaca ayat-ayatNya.<br />
Raihana tersenyum mengembang, hatiku menangisi kebohonganku dan kepura-puraanku. Tepat dua bulan Raihana kubawa ke kontrakan dipinggir kota Malang.</p>
<p>Mulailah kehidupan hampa. Aku tak menemukan adanya gairah. Betapa susah hidup berkeluarga tanpa cinta. Makan, minum, tidur, dan shalat bersama dengan makhluk yang bernama Raihana, istriku, tapi Masya Allah bibit cintaku belum juga tumbuh. Suaranya yang lembut terasa hambar, wajahnya yang teduh tetap terasa asing. Memasuki bulan keempat, rasa muak hidup bersama Raihana mulai kurasakan, rasa ini muncul begitu saja. Aku mencoba membuang jauh-jauh rasa tidak baik ini, apalagi pada istri sendiri yang seharusnya kusayang dan kucintai. Sikapku pada Raihana mulai lain. Aku lebih banyak diam, acuh tak acuh, agak sinis, dan tidur pun lebih banyak di ruang tamu atau ruang kerja.</p>
<p>Aku merasa hidupku ada lah sia-sia, belajar di luar negeri sia-sia, pernikahanku sia-sia, keberadaanku sia-sia.</p>
<p>Tidak hanya aku yang tersiksa, Raihanapun merasakan hal yang sama, karena ia orang yang berpendidikan, maka diapun tanya, tetapi kujawab &#8221; tidak apa-apa koq mbak, mungkin aku belum dewasa, mungkin masih harus belajar berumah tangga&#8221; Ada kekagetan yang kutangkap diwajah Raihana ketika kupanggil &#8216;mbak&#8217;, &#8221; kenapa mas memanggilku mbak, aku kan istrimu, apa mas sudah tidak mencintaiku&#8221; tanyanya dengan guratan wajah yang sedih. &#8220;wallahu a&#8217;lam&#8221; jawabku sekenanya. Dengan mata berkaca-kaca Raihana diam menunduk, tak lama kemudian dia terisak-isak sambil memeluk kakiku, &#8220;Kalau mas tidak mencintaiku, tidak menerimaku sebagai istri kenapa mas ucapkan akad nikah?</p>
<p>Kalau dalam tingkahku melayani mas masih ada yang kurang berkenan, kenapa mas tidak bilang dan menegurnya, kenapa mas diam saja, aku harus bersikap bagaimana untuk membahagiakan mas, kumohon bukalah sedikit hatimu untuk menjadi ruang bagi pengabdianku, bagi menyempurnakan ibadahku didunia ini&#8221;. Raihana mengiba penuh pasrah. Aku menangis menitikan air mata buka karena Raihana tetapi karena kepatunganku. Hari terus berjalan, tetapi komunikasi kami tidak berjalan. Kami hidup seperti orang asing tetapi Raihana tetap melayaniku menyiapkan segalanya untukku.</p>
<p>Suatu sore aku pulang mengajar dan kehujanan, sampai dirumah habis maghrib, bibirku pucat, perutku belum kemasukkan apa-apa kecuali segelas kopi buatan Raihana tadi pagi, Memang aku berangkat pagi karena ada janji dengan teman. Raihana memandangiku dengan khawatir. &#8220;Mas tidak apa-apa&#8221; tanyanya dengan perasaan kuatir. &#8220;Mas mandi dengan air panas saja, aku sedang menggodoknya, lima menit lagi mendidih&#8221; lanjutnya. Aku melepas semua pakaian yang basah. &#8220;Mas airnya sudah siap&#8221; kata Raihana. Aku tak bicara sepatah katapun, aku langsung ke kamar mandi, aku lupa membawa handuk, tetapi Raihana telah berdiri didepan pintu membawa handuk. &#8220;Mas aku buatkan wedang jahe&#8221; Aku diam saja. Aku merasa mulas dan mual dalam perutku tak bisa kutahan.</p>
<p>Dengan cepat aku berlari ke kamar mandi dan Raihana mengejarku dan memijit-mijit pundak dan tengkukku seperti yang dilakukan ibu. &#8221; Mas masuk angin. Biasanya kalau masuk angin diobati pakai apa, pakai balsam, minyak putih, atau jamu?&#8221; Tanya Raihana sambil menuntunku ke kamar. &#8220;Mas jangan diam saja dong, aku kan tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk membantu Mas&#8221;. &#8221; Biasanya dikerokin&#8221; jawabku lirih. &#8221; Kalau begitu kaos mas dilepas ya, biar Hana kerokin&#8221; sahut Raihana sambil tangannya melepas kaosku. Aku seperti anak kecil yang dimanja ibunya. Raihana dengan sabar mengerokin punggungku dengan sentuhan tangannya yang halus. Setelah selesai dikerokin, Raihana membawakanku semangkok bubur kacang hijau. Setelah itu aku merebahkan diri di tempat tidur. Kulihat Raihana duduk di kursi tak jauh dari tempat tidur sambil menghafal Al Quran dengan khusyu. Aku kembali sedih dan ingin menangis, Raihana manis tapi tak semanis gadis-gadis mesir titisan Cleopatra.</p>
<p>Dalam tidur aku bermimpi bertemu dengan Cleopatra, ia mengundangku untuk makan malam di istananya.&#8221; Aku punya keponakan namanya Mona Zaki, nanti akan aku perkenalkan denganmu&#8221; kata Ratu Cleopatra. &#8221; Dia memintaku untuk mencarikannya seorang pangeran, aku melihatmu cocok dan berniat memperkenalkannya denganmu&#8221;. Aku mempersiapkan segalanya. Tepat puku 07.00 aku datang ke istana, kulihat Mona Zaki dengan pakaian pengantinnya, cantik sekali. Sang ratu mempersilakan aku duduk di kursi yang berhias berlian.</p>
<p>Aku melangkah maju, belum sempat duduk, tiba-tiba &#8221; Mas, bangun, sudah jam setengah empat, mas belum sholat Isya&#8221; kata Raihana membangunkanku. Aku terbangun dengan perasaan kecewa. &#8221; Maafkan aku Mas, membuat Mas kurang suka, tetapi Mas belum sholat Isya&#8221; lirih Hana sambil melepas mukenanya, mungkin dia baru selesai sholat malam. Meskipun cuman mimpi tapi itu indah sekali, tapi sayang terputus. Aku jadi semakin tidak suka sama dia, dialah pemutus harapanku dan mimpi-mimpiku. Tapi apakah dia bersalah, bukankah dia berbuat baik membangunkanku untuk sholat Isya.</p>
<p>Selanjutnya aku merasa sulit hidup bersama Raihana, aku tidak tahu dari mana sulitnya. Rasa tidak suka semakin menjadi-jadi. Aku benar-benar terpenjara dalam suasana konyol. Aku belum bisa menyukai Raihana. Aku sendiri belum pernah jatuh cinta, entah kenapa bisa dijajah pesona gadis-gadis titisan Cleopatra.</p>
<p>&#8221; Mas, nanti sore ada acara qiqah di rumah Yu Imah. Semua keluarga akan datang termasuk ibundamu. Kita diundang juga. Yuk, kita datang bareng, tidak enak kalau kita yang dieluk-elukan keluarga tidak datang&#8221; Suara lembut Raihana menyadarkan pengembaraanku pada Jaman Ibnu Hazm. Pelan-pelan ia letakkan nampan yang berisi onde-onde kesukaanku dan segelas wedang jahe.</p>
<p>Tangannya yang halus agak gemetar. Aku dingin-dingin saja. &#8221; Maaf..maaf jika mengganggu Mas, maafkan Hana,&#8221; lirihnya, lalu perlahan-lahan beranjak meninggalkan aku di ruang kerja. &#8221; Mbak! Eh maaf, maksudku D..Din..Dinda Hana!, panggilku dengan suara parau tercekak dalam tenggorokan. &#8221; Ya Mas!&#8221;<br />
sahut Hana langsung menghentikan langkahnya dan pelan-pelan menghadapkan dirinya padaku. Ia berusaha untuk tersenyum, agaknya ia bahagia dipanggil &#8220;dinda&#8221;. &#8221; Matanya sedikit berbinar. &#8220;Te..terima kasih Di..dinda, kita berangkat bareng kesana, habis sholat dhuhur, insya Allah,&#8221; ucapku sambil menatap wajah Hana dengan senyum yang kupaksakan.</p>
<p>Raihana menatapku dengan wajah sangat cerah, ada secercah senyum bersinar dibibirnya. &#8221; Terima kasih Mas, Ibu kita pasti senang, mau pakai baju yang mana Mas, biar dinda siapkan? Atau biar dinda saja yang memilihkan ya?&#8221;.<br />
Hana begitu bahagia.</p>
<p>Perempuan berjilbab ini memang luar biasa, Ia tetap sabar mencurahkan bakti meskipun aku dingin dan acuh tak acuh padanya selama ini. Aku belum pernah melihatnya memasang wajah masam atau tidak suka padaku. Kalau wajah sedihnya ya. Tapi wajah tidak sukanya belum pernah. Bah, lelaki macam apa aku ini, kutukku pada diriku sendiri. Aku memaki-maki diriku sendiri atas sikap dinginku selama ini., Tapi, setetes embun cinta yang kuharapkan membasahi hatiku tak juga turun. Kecantikan aura titisan Cleopatra itu? Bagaimana aku mengusirnya. Aku merasa menjadi orang yang paling membenci diriku sendiri di dunia ini.</p>
<p>Acara pengajian dan qiqah putra ketiga Fatimah kakak sulung Raihana membawa sejarah baru lembaran pernikahan kami. Benar dugaan Raihana, kami dielu-elukan keluarga, disambut hangat, penuh cinta, dan penuh bangga. &#8220;</p>
<p>Selamat datang pengantin baru! Selamat datang pasangan yang paling ideal dalam keluarga! Sambut Yu Imah disambut tepuk tangan bahagia mertua dan bundaku serta kerabat yang lain. Wajah Raihana cerah. Matanya berbinar-binar bahagia. Lain dengan aku, dalam hatiku menangis disebut pasangan ideal.</p>
<p>Apanya yang ideal. Apa karena aku lulusan Mesir dan Raihana lulusan terbaik dikampusnya dan hafal Al Quran lantas disebut ideal? Ideal bagiku adalah seperti Ibnu Hazm dan istrinya, saling memiliki rasa cinta yang sampai pada pengorbanan satu sama lain. Rasa cinta yang tidak lagi memungkinkan adanya pengkhianatan. Rasa cinta yang dari detik ke detik meneteskan rasa bahagia.</p>
<p>Tapi diriku? Aku belum bisa memiliki cinta seperti yang dimiliki Raihana.<br />
Sambutan sanak saudara pada kami benar-benar hangat. Aku dibuat kaget oleh sikap Raihana yang begitu kuat menjaga kewibawaanku di mata keluarga. Pada ibuku dan semuanya tidak pernah diceritakan, kecuali menyanjung kebaikanku sebagai seorang suami yang dicintainya. Bahkan ia mengaku bangga dan bahagia menjadi istriku. Aku sendiri dibuat pusing dengan sikapku. Lebih pusing lagi sikap ibuku dan mertuaku yang menyindir tentang keturunan. &#8221; Sudah satu tahun putra sulungku menikah, koq belum ada tanda-tandanya ya, padahal aku ingin sekali menimang cucu&#8221; kata ibuku. &#8221; Insya Allah tak lama lagi, ibu akan menimang cucu, doakanlah kami. Bukankah begitu, Mas?&#8221; sahut Raihana sambil menyikut lenganku, aku tergagap dan mengangguk sekenanya.</p>
<p>Setelah peristiwa itu, aku mencoba bersikap bersahabat dengan Raihana. Aku berpura-pura kembali mesra dengannya, sebagai suami betulan. Jujur, aku hanya pura-pura. Sebab bukan atas dasar cinta, dan bukan kehendakku sendiri aku melakukannya, ini semua demi ibuku. Allah Maha Kuasa. Kepura-puraanku memuliakan Raihana sebagai seorang istri. Raihana hamil. Ia semakin manis.</p>
<p>Keluarga bersuka cita semua. Namun hatiku menangis karena cinta tak kunjung tiba. Tuhan kasihanilah hamba, datangkanlah cinta itu segera. Sejak itu aku semakin sedih sehingga Raihana yang sedang hamil tidak kuperhatikan lagi. Setiap saat nuraniku bertanya&#8221; Mana tanggung jawabmu!&#8221; Aku hanya diam dan mendesah sedih. &#8221; Entahlah, betapa sulit aku menemukan cinta&#8221; gumamku.</p>
<p>Dan akhirnya datanglah hari itu, usia kehamilan Raihana memasuki bulan ke enam. Raihana minta ijin untuk tinggal bersama orang tuanya dengan alasan kesehatan. Kukabulkan permintaanya dan kuantarkan dia kerumahnya. Karena rumah mertua jauh dari kampus tempat aku mengajar, mertuaku tak menaruh curiga ketika aku harus tetap tinggal dikontrakan. Ketika aku pamitan, Raihana berpesan, &#8221; Mas untuk menambah biaya kelahiran anak kita, tolong nanti cairkan tabunganku yang ada di ATM. Aku taruh dibawah bantal, no.pinnya sama dengan tanggal pernikahan kita&#8221;.</p>
<p>Setelah Raihana tinggal bersama ibunya, aku sedikit lega. Setiap hari Aku tidak bertemu dengan orang yang membuatku tidak nyaman. Entah apa sebabnya bisa demikian. Hanya saja aku sedikit repot, harus menyiapkan segalanya.<br />
Tapi toh bukan masalah bagiku, karena aku sudah terbiasa saat kuliah di Mesir.</p>
<p>Waktu terus berjalan, dan aku merasa enjoy tanpa Raihana. Suatu saat aku pulang kehujanan. Sampai rumah hari sudah petang, aku merasa tubuhku benar-benar lemas. Aku muntah-muntah, menggigil, kepala pusing dan perut mual. Saat itu terlintas dihati andaikan ada Raihana, dia pasti telah menyiapkan air panas, bubur kacang hijau, membantu mengobati masuk angin dengan mengeroki punggungku, lalu menyuruhku istirahat dan menutupi tubuhku dengan selimut. Malam itu aku benar-benar tersiksa dan menderita. Aku terbangun jam enam pagi. Badan sudah segar. Tapi ada penyesalan dalam hati, aku belum sholat Isya dan terlambat sholat subuh. Baru sedikit terasa, andaikan ada Raihana tentu aku ngak meninggalkan sholat Isya, dan tidak terlambat sholat subuh.</p>
<p>Lintasan Raihana hilang seiring keberangkatan mengajar di kampus. Apalagi aku mendapat tugas dari universitas untuk mengikuti pelatihan mutu dosen mata kuliah bahasa arab. Diantaranya tutornya adalah professor bahasa arab dari Mesir. Aku jadi banyak berbincang dengan beliau tentang mesir. Dalam pelatihan aku juga berkenalan dengan Pak Qalyubi, seorang dosen bahasa arab dari Medan. Dia menempuh S1-nya di Mesir. Dia menceritakan satu pengalaman hidup yang menurutnya pahit dan terlanjur dijalani. &#8220;Apakah kamu sudah menikah?&#8221; kata Pak Qalyubi. &#8220;Alhamdulillah, sudah&#8221; jawabku. &#8221; Dengan orang mana?. &#8221; Orang Jawa&#8221;. &#8221; Pasti orang yang baik ya. Iya kan? Biasanya pulang dari Mesir banyak saudara yang menawarkan untuk menikah dengan perempuan shalehah. Paling tidak santriwati, lulusan pesantren. Istrimu dari pesantren?&#8221;. &#8220;Pernah, alhamdulillah dia sarjana dan hafal Al Quran&#8221;. &#8221; Kau sangat beruntung, tidak sepertiku&#8221;. &#8221; Kenapa dengan Bapak?&#8221; &#8221; Aku melakukan langkah yang salah, seandainya aku tidak menikah dengan orang Mesir itu, tentu batinku tidak merana seperti sekarang&#8221;. &#8221; Bagaimana itu bisa terjadi?&#8221;. &#8220;</p>
<p>Kamu tentu tahu kan gadis Mesir itu cantik-cantik, dank arena terpesona dengan kecantikanya saya menderita seperti ini. Ceritanya begini, Saya seorang anak tunggal dari seorang yang kaya, saya berangkat ke Mesir dengan biaya orang tua. Disana saya bersama kakak kelas namanya Fadhil, orang Medan juga. Seiring dengan berjalannya waktu, tahun pertama saya lulus dengan predkat jayyid, predikat yang cukup sulit bagi pelajar dari Indonesia.</p>
<p>Demikian juga dengan tahun kedua. Karena prestasi saya, tuan rumah tempat saya tinggal menyukai saya. Saya dikenalkan dengan anak gadisnya yang bernama Yasmin. Dia tidak pakai jilbab. Pada pandangan pertama saya jatuh cinta, saya belum pernah melihat gadis secantuk itu. Saya bersumpah tidak akan menikaha dengan siapapun kecuali dia. Ternyata perasaan saya tidak bertepuk sebelah tangan. Kisah cinta saya didengar oleh Fadhil. Fadhil membuat garis tegas, akhiri hubungan dengan anak tuan rumah itu atau sekalian lanjutkan dengan menikahinya. Saya memilih yang kedua.</p>
<p>Ketika saya menikahi Yasmin, banyak teman-teman yang memberi masukan begini, sama-sama menikah dengan gadis Mesir, kenapa tidak mencari mahasiswi Al Azhar yang hafal Al Quran, salehah, dan berjilbab. Itu lebih selamat dari pada dengan YAsmin yang awam pengetahuan agamanya. Tetpai saya tetap teguh untuk menikahinya. Dengan biaya yang tinggi saya berhasil menikahi YAsmin.<br />
Yasmin menuntut diberi sesuatu yang lebih dari gadis Mesir.</p>
<p>Perabot rumah yang mewah, menginap di hotel berbintang. Begitu selesai S1 saya kembali ke Medan, saya minta agar asset yang di Mesir dijual untuk modal di Indonesia. KAmi langsung membeli rumah yang cukup mewah di kota Medan. Tahun-tahun pertama hidup kami berjalan baik, setiap tahunnya Yasmin mengajak ke Mesir menengok orang tuanya. Aku masih bisa memenuhi semua yang diinginkan YAsmin. Hidup terus berjalan, biaya hidup semakin nambah, anak kami yang ketiga lahir, tetapi pemasukan tidak bertambah. Saya minta YAsmin untuk berhemat. Tidak setiap tahun tetapi tiga tahun sekali YAsmin tidak bisa.</p>
<p>Aku mati-matian berbisnis, demi keinginan Yasmin dan anak-anak terpenuhi.<br />
Sawah terakhir milik Ayah saya jual untuk modal. Dalam diri saya mulai muncul penyesalan. Setiap kali saya melihat teman-teman alumni Mesir yang hidup dengan tenang dan damai dengan istrinya. Bisa mengamalkan ilmu dan bisa berdakwah dengan baik. Dicintai masyarakat. Saya tidak mendapatkan apa yang mereka dapatkan. Jika saya pengin rending, saya harus ke warung. YAsmin tidak mau tahu dengan masakan Indonesia.</p>
<p>Kau tahu sendiri, gadis Mesir biasanya memanggil suaminya dengan namanya.<br />
Jika ada sedikit letupan, maka rumah seperti neraka. Puncak penderitaan saya dimulai setahun yang lalu. Usaha saya bangkrut, saya minta YAsmin untuk menjual perhiasannya, tetapi dia tidak mau. Dia malah membandingkan dirinya yang hidup serba kurang dengan sepupunya. Sepupunya mendapat suami orang Mesir.</p>
<p>Saya menyesal meletakkan kecantikan diatas segalanya. Saya telah diperbudak dengan kecantikannya. Mengetahui keadaan saya yang terjepit, ayah dan ibu mengalah. Mereka menjual rumah dan tanah, yang akhirnya mereka tinggal di ruko yang kecil dan sempit. Batin saya menangis. Mereka berharap modal itu cukup untuk merintis bisnis saya yang bangkrut. Bisnis saya mulai bangkit, Yasmin mulai berulah, dia mengajak ke Mesir. Waktu di Mesir itulah puncak tragedy yang menyakitkan. &#8221; Aku menyesal menikah dengan orang Indonesia, aku minta kau ceraikan aku, aku tidak bisa bahagia kecuali dengan lelaki Mesir&#8221;.<br />
Kata Yasmin yang bagaikan geledek menyambar. Lalu tanpa dosa dia bercerita bahwa tadi di KBRI dia bertemu dengan temannya. Teman lamanya itu sudah jadi bisnisman, dan istrinya sudah meninggal.</p>
<p>Yasmin diajak makan siang, dan dilanjutkan dengan perselingkuhan. Aku pukul dia karena tak bisa menahan diri. Atas tindakan itu saya dilaporkan ke polisi. Yang menyakitkan adalah tak satupun keluarganya yang membelaku.<br />
Rupanya selama ini Yasmin sering mengirim surat yang berisi berita bohong.<br />
Sejak saat itu saya mengalami depresi. Dua bulan yang lalu saya mendapat surat cerai dari Mesir sekaligus mendapat salinan surat nikah Yasmin dengan temannya. Hati saya sangat sakit, ketika si sulung menggigau meminta ibunya pulang&#8221;.</p>
<p>Mendengar cerita Pak Qulyubi membuatku terisak-isak. Perjalanan hidupnya menyadarkanku. Aku teringat Raihana. Perlahan wajahnya terbayang dimataku, tak terasa sudah dua bualn aku berpisah dengannya. Tiba-tiba ada kerinduan yang menyelinap dihati. Dia istri yang sangat shalehah. Tidak pernah meminta apapun. Bahkan yang keluar adalah pengabdian dan pengorbanan. Hanya karena kemurahan Allah aku mendapatkan istri seperti dia. Meskipun hatiku belum terbuka lebar, tetapi wajah Raihana telah menyala didindingnya. Apa yang sedang dilakukan Raihana sekarang? Bagaimana kandungannya? Sudah delapan bulan. Sebentar lagi melahirkan. Aku jadi teringat pesannya. Dia ingin agar aku mencairkan tabungannya.</p>
<p>Pulang dari pelatihan, aku menyempatkan ke took baju muslim, aku ingin membelikannya untuk Raihana, juga daster, dan pakaian bayi. Aku ingin memberikan kejutan, agar dia tersenyum menyambut kedatanganku. Aku tidak langsung ke rumah mertua, tetapi ke kontrakan untuk mengambil uang tabungan, yang disimpan dibawah bantal. Dibawah kasur itu kutemukan kertas Merah jambu. Hatiku berdesir, darahku terkesiap. Surat cinta siapa ini, rasanya aku belum pernah membuat surat cinta untuk istriku. Jangan-jangan ini surat cinta istriku dengan lelaki lain. Gila! Jangan-jangan istriku serong. Dengan rasa takut kubaca surat itu satu persatu. Dan Rabbiï¿½?ï¿½ternyata surat-surat itu adalah ungkapan hati Raihana yang selama ini aku zhalimi. Ia menulis, betapa ia mati-matian mencintaiku, meredam rindunya akan belaianku. Ia menguatkan diri untuk menahan nestapa dan derita yang luar biasa. Hanya Allah lah tempat ia meratap melabuhkan dukanya. Dan ya .. Allah, ia tetap setia memanjatkan doa untuk kebaikan suaminya.<br />
Dan betapa dia ingin hadirnya cinta sejati dariku.</p>
<p>&#8220;Rabbi dengan penuh kesyukuran, hamba bersimpuh dihadapan-Mu. Lakal hamdu ya Rabb. Telah muliakan hamba dengan Al Quran. Kalaulah bukan karena karunia-Mu yang agung ini, niscaya hamba sudah terperosok kedalam jurang kenistaan. Ya Rabbi, curahkan tambahan kesabaran dalam diri hamba&#8221; tulis Raihana.</p>
<p>Dalam akhir tulisannya Raihana berdoa&#8221; Ya Allah inilah hamba-Mu yang kerdil penuh noda dan dosa kembali datang mengetuk pintumu, melabuhkan derita jiwa ini kehadirat-Mu. Ya Allah sudah tujuh bulan ini hamba-Mu ini hamil penuh derita dan kepayahan. Namun kenapa begitu tega suami hamba tak mempedulikanku dan menelantarkanku. Masih kurang apa rasa cinta hamba padanya. Masih kurang apa kesetiaanku padanya. Masih kurang apa baktiku padanya? Ya Allah, jika memang masih ada yang kurang, ilhamkanlah pada hamba-Mu ini cara berakhlak yang lebih mulia lagi pada suamiku.</p>
<p>Ya Allah, dengan rahmatMu hamba mohon jangan murkai dia karena kelalaiannya.<br />
Cukup hamba saja yang menderita. Maafkanlah dia, dengan penuh cinta hamba masih tetap menyayanginya. Ya Allah berilah hamba kekuatan untuk tetap berbakti dan memuliakannya. Ya Allah, Engkau maha Tahu bahwa hamba sangat mencintainya karena-Mu. Sampaikanlah rasa cinta ini kepadanya dengan cara-Mu. Tegurlah dia dengan teguran-Mu. Ya Allah dengarkanlah doa hamba-Mu ini. Tiada Tuhan yang layak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau&#8221;.</p>
<p>Tak terasa air mataku mengalir, dadaku terasa sesak oleh rasa haru yang luar biasa. Tangisku meledak. Dalam tangisku semua kebaikan Raihana terbayang. Wajahnya yang baby face dan teduh, pengorbanan dan pengabdiannya yang tiada putusnya, suaranya yang lembut, tanganya yang halus bersimpuh memeluk kakiku, semuanya terbayang mengalirkan perasaan haru dan cinta. Dalam keharuan terasa ada angina sejuk yang turun dari langit dan merasuk dalam jiwaku. Seketika itu pesona Cleopatra telah memudar berganti cinta Raihana yang datang di hati. Rasa sayang dan cinta pada Raihan tiba-tiba begitu kuat mengakar dalam hatiku. Cahaya Raihana terus berkilat-kilat dimata. Aku tiba-tiba begitu merindukannya. Segera kukejar waktu untuk membagi Cintaku dengan Raihana.</p>
<p>Kukebut kendaraanku. Kupacu kencang seiring dengan air mataku yang menetes sepanjang jalan. Begitu sampai di halaman rumah mertua, nyaris tangisku meledak. Kutahan dengan nafas panjang dan kuusap air mataku. Melihat kedatanganku, ibu mertuaku memelukku dan menangis tersedu- sedu. Aku jadi heran dan ikut menangis. &#8221; Mana Raihana Bu?&#8221;. Ibu mertua hanya menangis dan menangis. Aku terus bertanya apa sebenarnya yang telah terjadi.</p>
<p>&#8221; Raihanaï&#8230;istrimu. .istrimu dan anakmu yang dikandungnya&#8221; . &#8221; Ada apa dengan dia&#8221;. &#8221; Dia telah tiada&#8221;. &#8221; Ibu berkata apa!&#8221;. &#8221; Istrimu telah meninggal seminggu yang lalu. Dia terjatuh di kamar mandi. Kami membawanya ke rumah sakit. Dia dan bayinya tidak selamat. Sebelum meninggal, dia berpesan untuk memintakan maaf atas segala kekurangan dan kekhilafannya selama menyertaimu.</p>
<p>Dia meminta maaf karena tidak bisa membuatmu bahagia. Dia meminta maaf telah dengan tidak sengaja membuatmu menderita. Dia minta kau meridhionya&#8221; .<br />
Hatiku bergetar hebat. &#8221; kenapa ibu tidak memberi kabar padaku?&#8221;. &#8220;</p>
<p>Ketika Raihana dibawa ke rumah sakit, aku telah mengutus seseorang untuk menjemputmu di rumah kontrakan, tapi kamu tidak ada. Dihubungi ke kampus katanya kamu sedang mengikuti pelatihan. Kami tidak ingin mengganggumu. Apalagi Raihana berpesan agar kami tidak mengganggu ketenanganmu selama pelatihan. Dan ketika Raihana meninggal kami sangat sedih, Jadi Maafkanlah kami&#8221;.</p>
<p>Aku menangis tersedu-sedu. Hatiku pilu. Jiwaku remuk. Ketika aku merasakan cinta Raihana, dia telah tiada. Ketika aku ingin menebus dosaku, dia telah meninggalkanku. Ketika aku ingin memuliakannya dia telah tiada. Dia telah meninggalkan aku tanpa memberi kesempatan padaku untuk sekedar minta maaf dan tersenyum padanya. Tuhan telah menghukumku dengan penyesalan dan perasaan bersalah tiada terkira.</p>
<p>Ibu mertua mengajakku ke sebuah gundukan tanah yang masih baru dikuburan pinggir desa. Diatas gundukan itu ada dua buah batu nisan. Nama dan hari wafat Raihana tertulis disana. Aku tak kuat menahan rasa cinta, haru, rindu dan penyesalan yang luar biasa. Aku ingin Raihana hidup kembali. Dunia tiba-tiba gelap semua &#8230;&#8230;..</p>
<p><em>Sumber :<br />
Buku : Pudarnya Pesona Cleopatra ( Novel Psikologi Islam Pembangun Jiwa )<br />
Karangan : Habiburrahman El Shirazy ( Penulis Novel best seller Ayat-ayat cinta)</em></p>
<p><a href="http://www.dudung.net/">http://www.dudung.net/</a></p>
</div>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</li>
</ol>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/masteja.wordpress.com/26/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/masteja.wordpress.com/26/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masteja.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masteja.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masteja.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masteja.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masteja.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masteja.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masteja.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masteja.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masteja.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masteja.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masteja.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masteja.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masteja.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masteja.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masteja.wordpress.com&amp;blog=2603666&amp;post=26&amp;subd=masteja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masteja.wordpress.com/2008/05/20/pudarnya-pesona-cleopatra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d77f755a75d1ed7cebc5fcf838842e82?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">masteja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ketulusan</title>
		<link>http://masteja.wordpress.com/2008/05/15/ketulusan/</link>
		<comments>http://masteja.wordpress.com/2008/05/15/ketulusan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 May 2008 03:15:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masteja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Miranda Risang Ayu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masteja.wordpress.com/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[Miranda Risang Ayu Resonansi, Republika, Senin, 22 April 2002 Ketulusan sering diibaratkan sebagai kertas putih. Kirana Nina pernah mengungkapkan mengalirnya ketulusan sebagai sesuatu yang hadir begitu saja, tanpa pretensi atau kepentingan apa pun untuk melakukan sesuatu. Ia seperti mata air yang mengalir dari kedalaman hati dengan sendirinya. Ia bening adanya.   Bening berarti tidak bewarna. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masteja.wordpress.com&amp;blog=2603666&amp;post=22&amp;subd=masteja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Miranda Risang Ayu</strong><br />
<em>Resonansi, Republika, Senin, 22 April 2002</em></p>
<p align="justify">Ketulusan sering diibaratkan sebagai kertas putih. Kirana Nina pernah mengungkapkan mengalirnya ketulusan sebagai sesuatu yang hadir begitu saja, tanpa pretensi atau kepentingan apa pun untuk melakukan sesuatu. Ia seperti mata air yang mengalir dari kedalaman hati dengan sendirinya. Ia bening adanya.</p>
<p> </p>
<p align="justify">Bening berarti tidak bewarna. Dari sudut pandang tradisi spiritual, ia bebas dari merah, jingga, kuning, dan bahkan putih; warna-warna yang menyimbolkan nafsu amarah, nafsu kepemilikan, nafsu kepada lawan jenis, sampai nafsu yang sebetulnya paling ilahiah, yakni nafsu untuk mengumpulkan sebanyak mungkin nilai kebenaran. Bening dapat diwarnai oleh apa saja, tetapi ia juga menghadirkan semua warna seperti adanya.</p>
<p align="justify">Seperti halnya air bening yang selalu menjadi tujuan dahaga yang telak, ketulusan juga menjadi dambaan jiwa yang kering. Ketulusan, siapa sangka, adalah harta yang esensial. Mungkin seseorang akan bahagia dengan memiliki uang, pangkat, atau jabatan. Tetapi, bahagia karena uang, pangkat, atau kedudukan itu baru kemungkinan. Bahagia karena ketulusan adalah kepastian.</p>
<p align="justify">Hadirnya ketulusan dalam hati, mengisyaratkan kondisi hati yang sederhana. Sederhana dari pretensi, kepentingan, atau hasil apa pun selain nikmatnya merasakan ketulusan itu saja, yang mengalir begitu saja. Nikmat itu membuat orang yang sedang tulus menjadi trans, hilang ingatan, lupa bahwa di ujung amal perbuatannya yang tulus, ada hasil lain yang layak ditagih olehnya selain sejuknya ketulusan itu sendiri.</p>
<p align="justify">Uniknya, di sinilah agaknya keadilan Tuhan hadir dengan feminin; tidak dengan berwibawa dan bermuatan ancaman atau hukuman, tetapi dengan bersahaja, bertaburkan keindahan dan keharuan. Kehadiran keadilan Tuhan seperti ini membuat sesuatu yang sederhana menjadi tidak sederhana: menjadi bermakna, dan abadi dalam ingatan.</p>
<p align="justify">Seorang teman saya, baru beberapa hari lalu, berdiri menunggu bus di halte, seperti biasa. Kepalanya dipenuhi oleh agenda program pekerjaan dan pemikiran yang harus diselesaikannya, seperti biasa. Yang tidak biasa adalah ketika seorang perempuan tua, yang mungkin lupa banyaknya uang yang telah disimpan di dompetnya, kehabisan uang dan mengulurkan tangan kepadanya: meminta. Teman saya itu sebetulnya orang yang paling berhati-hati untuk menyambut “peminta-minta”. Tetapi, ketulusan tiba-tiba memabukkannya sehingga ia sodorkan sepuluh ribu rupiah dari dompetnya, begitu saja. Lalu, karena sedang trans, tentu saja ia lupa. Esoknya, ia baru sadar sesuatu yang abadi baru saja menyapanya dengan begitu nyata ketika di trotoar, selembar uang sepuluh ribu tak bertuan tersangkut di sepatunya, menjadi miliknya.</p>
<p align="justify">Seorang teman saya yang lain, juga baru beberapa hari yang lalu, mengikhlaskan shalatnya di sebuah tempat yang, bagi budaya ritual yang kita kenal, menyedihkan: di dekat halte bus, di atas rerumputan hijau yang agak lengang, dekat dok pelabuhan. Tetapi, ia tampaknya tidak melihat bahwa orang-orang di sekitarnya bekerja, bermain, hingga berpesta. Uniknya, tidak dilihatnya juga keseronokan natural yang lain, ketika puluhan camar tiba-tiba hinggap diam-diam di tanah, mengitarinya, bersamaan dengan dahinya yang bertemu dengan bumi. Mungkin, camar-camar itu, ya, begitu itu tabiatnya. Tetapi, kebetulan itu menjadi begitu bernilai bagi orang yang melihatnya. Dan teman saya itu baru sadar, ketika disadarkan.</p>
<p align="justify">Sungguh mengherankan bahwa ketulusan itu sebetulnya sudah mengalir deras, tidak ada habisnya, dari balik tanah, bebatuan, dan hati Anda. Betulkah? </p>
<p align="justify"><a href="http://pojok-kanayakan.net">http://pojok-kanayakan.net</a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/masteja.wordpress.com/22/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/masteja.wordpress.com/22/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masteja.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masteja.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masteja.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masteja.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masteja.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masteja.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masteja.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masteja.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masteja.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masteja.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masteja.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masteja.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masteja.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masteja.wordpress.com/22/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masteja.wordpress.com&amp;blog=2603666&amp;post=22&amp;subd=masteja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masteja.wordpress.com/2008/05/15/ketulusan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d77f755a75d1ed7cebc5fcf838842e82?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">masteja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Suka Duka Menyikat Gigi Balita/Batita</title>
		<link>http://masteja.wordpress.com/2008/05/08/suka-duka-menyikat-gigi-balitabatita/</link>
		<comments>http://masteja.wordpress.com/2008/05/08/suka-duka-menyikat-gigi-balitabatita/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 May 2008 02:12:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masteja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Parenting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masteja.wordpress.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Ditulis pada 2 April 2008 oleh parentingislami Pagi, siang, malam. Minimal 3 kali si kecil makan. Nasi, ikan dan buah pisang makanan kesehariannya. Sudah pasti ada yang tersangkut gigi disana-sini. Apalagi gigi susu si kecil sudah lengkap. Kalau tidak dibersihkan, sangat boleh jadi kuman-kuman akan berubah menjadi malapetaka, sakit gigi. Tidak ayal lagi si ummi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masteja.wordpress.com&amp;blog=2603666&amp;post=21&amp;subd=masteja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="postinfo">Ditulis pada <span class="postdate"><span style="color:#a12a2a;">2 April 2008</span></span> oleh parentingislami</div>
<div class="entry">
<div class="snap_preview">
<p>Pagi, siang, malam. Minimal 3 kali si kecil makan. Nasi, ikan dan buah pisang makanan kesehariannya. Sudah pasti ada yang tersangkut gigi disana-sini. Apalagi gigi susu si kecil sudah lengkap. Kalau tidak dibersihkan, sangat boleh jadi kuman-kuman akan berubah menjadi malapetaka, sakit gigi.</p>
<p>Tidak ayal lagi si ummi sangat menyiapkan diri supaya si kecil bisa menyikat gigi. Dibelinya sikat gigi khusus buat si kecil. Anda pernah lihat sikat gigi khusus batita? Saya pun baru tahu sejak menjadi ayah. Bahannya dari silicon yang melingkupi jadi telunjuk. Di ujungnya ada terdapat rambut-rambut silicon yang halus. Cukup halus sehingga tidak akan merusak gusi si kecil. Cara menggunakannya? Ya tinggal di pasang di jari telunjuk, kemudian tinggal kita gosokkan pada gigi si kecil.</p>
<p>Ternyata bukan hal gampang. Si kecil berontak. Berkali-kali mulutnya dia tutup rapat-rapat. Namun si ummi bersikeras, dia tidak ingin anaknya nanti sakit gigi. Lebih baik nangis ketika sikat gigi daripada nangis karena sakit gigi, begitu prinsip yang dipegangnya. “Bi pegangin”, katanya. Ku pegang si kecil dan mulailah si ummi menyikat gigi si kecil. Jelas, si kecil menangis. Semakin disikat, si kecil kayaknya semakin kesal, digigitnya jari si ummi. Sakit? Sok pasti dong. Silikon itu tidak cukup tebal untuk melindungi jari dari gigitan si kecil. Tapi si ummi tidak menyerah. Terus disikatnya sampai akhirnya selesai. Sesaat si kecil masih sesegukan. Tapi tidak lama kemudian, ternyata berhenti juga. Tanpa bekas, tanpa dendam. Biasa, namanya juga anak kecil.</p>
<p>Hari-hari berikutnya, si ummi berpikir keras mencari akal supaya ga susah lagi nyikat gigi si kecil. Ternyata betul, di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Pertama, si kecil di distimulasi, “eh itu ada makanan yang nyangkut, sini ummi bersihin”. Si kecil mau membuka mulutnya lebar-lebar. Di akhir menyikat gigi si kecil, si ummi pun menghadiahinya dengan pujian luar biasa sehingga si kecil senang. Oya, satu lagi. Suatu ketika om si kecil datang sambil membawa sebuah buku cerita. Ceritanya tentang kehidupan seekor harimau cilik. Ternyata di salah satu ceritanya, sebelum harimau pergi bermain, harimau itu sikat gigi dulu. Si kecil mulai berubah pikirannya. Dan alhamdulillah, di hari-hari berikutnya dia sendiri sudah mau menyikat giginya sendiri.</p>
<p>[deFatih,  http://parentingislami.wordpress.com]</p>
</div>
</div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/masteja.wordpress.com/21/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/masteja.wordpress.com/21/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masteja.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masteja.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masteja.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masteja.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masteja.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masteja.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masteja.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masteja.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masteja.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masteja.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masteja.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masteja.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masteja.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masteja.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masteja.wordpress.com&amp;blog=2603666&amp;post=21&amp;subd=masteja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masteja.wordpress.com/2008/05/08/suka-duka-menyikat-gigi-balitabatita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d77f755a75d1ed7cebc5fcf838842e82?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">masteja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Aa, abi mau berangkat</title>
		<link>http://masteja.wordpress.com/2008/05/08/aa-abi-mau-berangkat/</link>
		<comments>http://masteja.wordpress.com/2008/05/08/aa-abi-mau-berangkat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 May 2008 02:09:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masteja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Parenting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masteja.wordpress.com/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[Ditulis pada 17 April 2008 oleh parentingislami “Aa abi mau berangkat”, ucapku pada si kecil yang sedang asyik bermain. Seolah teringatkan, tangannya kemudian terentang sambil berkata “yais”. Si kecil minta dipangku dulu sebelum aku pergi ke kantor. Begitulah kebiasaan kami. Setiap kali pergi, pasti si kecil minta dipangku dulu. Setelah itu “sun tangan”, kemudian “dadah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masteja.wordpress.com&amp;blog=2603666&amp;post=20&amp;subd=masteja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 class="postinfo">Ditulis pada <span class="postdate"><span style="color:#a12a2a;">17 April 2008</span></span> oleh parentingislami</h2>
<h2 class="snap_preview">“Aa abi mau berangkat”, ucapku pada si kecil yang sedang asyik bermain. Seolah teringatkan, tangannya kemudian terentang sambil berkata “yais”. Si kecil minta dipangku dulu sebelum aku pergi ke kantor. Begitulah kebiasaan kami. Setiap kali pergi, pasti si kecil minta dipangku dulu. Setelah itu “sun tangan”, kemudian “dadah assalamu’alaikum”. Dan setelah itu, si kecil biasanya pergi ke jendela melepas kepergianku.</p>
<p>Karena sudah terbiasa, kadang hanya dengan melihat aku memakai jaket [artinya akan pergi], tangannya sudah terentang meminta aku memangkunya. Segera kupangku untuk menunaikan keinginannya.</p>
<p>Eh, ternyata lain orang lain kebiasaan. Si kecil punya kebiasaan yang berbeda pada setiap orang. Kalau ketemu kakeknya, senengannya dipijit punggungnya sambil diolesi kayu putih. Sampai setiap dua hari habis satu botol kecil kayu putih. Biasanya si kecil bilang “putih… putih..” dan segera pergi ke kasur, tiduran sambil menyodorkan punggungnya. Setelah diusap dengan kayu putih, si kecil pun tertidur lelap.</p>
<p>Begitulah, si kecil sepertinya sudah punya kebiasaan tersendiri dengan masing-masing orang. Dan sampai sekarang saya tidak berani menyalahi kebiasaan tadi. Sepertinya saya akan merasa bersalah jika si kecil minta dipangku sebelum berangkat, tapi saya tidak melakukannya.</p>
<p>Ketika saya mencoba berempati padanya, walaupun hal tersebut sangat sederhana, tapi hal itu sangat bermakna baginya. Lebih bermakna dari sekedar mainan bola atau sebuah mobil remote sekalipun.</p>
<p>[deFatih,   http://parentingislami.wordpress.com]</h2>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/masteja.wordpress.com/20/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/masteja.wordpress.com/20/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masteja.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masteja.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masteja.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masteja.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masteja.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masteja.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masteja.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masteja.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masteja.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masteja.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masteja.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masteja.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masteja.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masteja.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masteja.wordpress.com&amp;blog=2603666&amp;post=20&amp;subd=masteja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masteja.wordpress.com/2008/05/08/aa-abi-mau-berangkat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d77f755a75d1ed7cebc5fcf838842e82?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">masteja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Permainan Seru Mengasah Panca Indera Anak</title>
		<link>http://masteja.wordpress.com/2008/05/08/permainan-seru-mengasah-panca-indera-anak/</link>
		<comments>http://masteja.wordpress.com/2008/05/08/permainan-seru-mengasah-panca-indera-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 May 2008 02:03:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masteja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Parenting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masteja.wordpress.com/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[Permainan seru mengasah Panca Indera Anak dr. Ariani, http://parentingislami.wordpress.com 1. Buah untuk dilihat, dicium dan dicicipi Umur : 2 tahun ke atas Material : Buah-bahan Cara bermain : • Sediakan buah-buahan (misalnya apel merah, pisang, jeruk anggur). • Perlihatkan dan perkenalkan kepada si kecil nama buah satu per satu. • Mintalah si kecil untuk menyebutkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masteja.wordpress.com&amp;blog=2603666&amp;post=19&amp;subd=masteja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="entry">
<div class="snap_preview">
<p>Permainan seru mengasah Panca Indera Anak</p>
<p>dr. Ariani, http://parentingislami.wordpress.com</p>
<p>1. Buah untuk dilihat, dicium dan dicicipi<br />
Umur : 2 tahun ke atas<br />
Material : Buah-bahan<br />
Cara bermain :<br />
• Sediakan buah-buahan (misalnya apel merah, pisang, jeruk anggur).<br />
• Perlihatkan dan perkenalkan kepada si kecil nama buah satu per satu.<br />
• Mintalah si kecil untuk menyebutkan kembali nama-nama buah-buahan tersebut<br />
• Setelah mengenal warna si kecil dapat anda ajak diskusi mengenai warna,rasa, tekstur dan lain-lain..</p>
<p>Variasi<br />
• Menggunakan buah plastik (tentunya tidak ada kegiatan mencium dan mencicipi)<br />
• Menggunakan aneka sayur atau daging sebagai pengganti buah-buahan<br />
• Menutup mata dengan sapu tangan, dan minta ia menebak buah yang sedang dipegangnya, atau yang kita masukkan ke mulutnya</p>
<p>2. Berjalan-jalan sambil mendengar suara<br />
Umur : 5-7 tahun<br />
Material : Bila memungkinkan bawalah tape recorder untuk merekamsuara-suara yang Anda dan si kecil dengar selama perjalanan, alternatif lain, bawalah buku catatan.<br />
Cara bermain :<br />
• Ajak si kecil berjalan-jalan. Tak perlu jauh, ke taman dekat rumah juga boleh<br />
• Anda bisa katakan pada si kecil,”Selama perjalanan kita hanya boleh mrndengar dan tidak boleh bersuara.”Atau bisa saja tidak ada aturan itu, namun anda dan si kecil bisa saja berhenti sejenak di beberapa tempat dan mendengar suara di sekitarnya.<br />
• Pada saat berhenti,ciptakan suasana hening, sehingga banyak suara-suara itu dengan tape recorder.<br />
• Setelah sampai di rumah, anda bisa memutar tape recorder dan melakukan diskusi tentang suara yang direkam tersebut<br />
• Bila anda menggunakan buku catatan, diskusikan berdasarkan hasil catatan.<br />
Variasi :<br />
• Pergi ke tempat yang jarang didatangi si kecil, seperti pantai atau gunung. Disana si kecil bisa mendengar debur ombak atau gemerisik aliran sungai.</p>
<p>3. Mencium toples dengan aroma yang berbeda<br />
Umur : 3 tahun<br />
Material ;<br />
8 buah toples dan 4 macam aroma yang berbeda (misalnya: kayu putih, mint, durian dan kopi)<br />
Teteskan aroma tersebut di atas kapas. Masukkan kapas k edalam botol. Masing-masing aroma dimasukkan ke dalam dua toples yang berbeda.<br />
Beri tanda di bawah botol untuk pasangan botol dengan aroma yang sama. Taruh botol-botol tersebut di baki.<br />
Cara bermain :<br />
• Dekatkan salah satu botol ke hidung anak anda. Tanyakan, “Ade, tahu, aroma apa ini?, bila si kecil tahu, lanjutkan ke botol yanglain<br />
• Bila si kecil tidak tahu, anda harus memberitahunya lalu lanjutkan ke botol yang lain.<br />
• Setelah itu ajak anak untuk memasangkan botol yang aromanya sama.</p>
<p>4. Permainan kantong misteri<br />
Umur : 2 tahun ke atas<br />
Material : 2 buah kantong dengan tali cord yang sama (tidak tembus pandang), 2 set benda dengan bentuk geometris berbeda (kubus, bola, prisma, dll). Masukkan benda tersebut ke dalam kantong, setiap bentuk ada dalam tiap kantong.<br />
Cara bermain :<br />
• Berikan satu kantong misteri pada anak, dan satunya lagi Anda pegang<br />
• Masukkan tangan anda ke dalam kantong dan ambillah sebuah benda, contohnya kubus, keluarkan dan tunjukkan kepada buah hati anda, “lihat, bunda dapat kubus. Ade ingat, nama benda ini kubus.<br />
• Minta anak anda untuk mengambil be nda yang bentuknya sama dari kantong tanpa membukanya(ia hanya boleh meraba).<br />
• Bila si kecil sudah mendapatkan, puujilah dia<br />
• Selanjutnya Anda coba dengan bentuk benda yang lain<br />
Variasi :<br />
Untuk permainan yang sederhana, Anda bisa lakukan dengan bentuk benda yang biasa ditemukan sehari-hari, misalnya sendok, pensil, bola kecil, dll.</p>
<p>Selamat bermain!</p>
<p>Daftar Pustaka<br />
1. Majalah Parents Guide Vol V No 6 Maret 2007.<br />
2. R. Oberlander, June. Slow and steady get me ready. Primamedia Pustaka. Jakarta : 2005.</p>
</div>
<p class="postinfo">DIarsipkan di bawah: <a title="Lihat seluruh tulisan dalam Games" rel="category tag" href="http://id.wordpress.com/tag/games/"><span style="color:#578cca;">Games</span></a>, <a title="Lihat seluruh tulisan dalam PAUD" rel="category tag" href="http://id.wordpress.com/tag/paud/"><span style="color:#578cca;">PAUD</span></a> | yang berkaitan: <a rel="tag" href="http://id.wordpress.com/tag/artikel/"><span style="color:#578cca;">artikel</span></a>, <a rel="tag" href="http://id.wordpress.com/tag/games/"><span style="color:#578cca;">Games</span></a>, <a rel="tag" href="http://id.wordpress.com/tag/islamic/"><span style="color:#578cca;">Islamic</span></a>, <a rel="tag" href="http://id.wordpress.com/tag/islamic-parenting/"><span style="color:#578cca;">islamic parenting</span></a>, <a rel="tag" href="http://id.wordpress.com/tag/parenting/"><span style="color:#578cca;">Parenting</span></a>, <a rel="tag" href="http://id.wordpress.com/tag/parenting-islami/"><span style="color:#578cca;">parenting islami</span></a>, <a rel="tag" href="http://id.wordpress.com/tag/paud/"><span style="color:#578cca;">PAUD</span></a>, <a rel="tag" href="http://id.wordpress.com/tag/pendidikan/"><span style="color:#578cca;">Pendidikan</span></a>, <a rel="tag" href="http://id.wordpress.com/tag/pendidikan-anak/"><span style="color:#578cca;">Pendidikan Anak</span></a>, <a rel="tag" href="http://id.wordpress.com/tag/perkembangan-anak/"><span style="color:#578cca;">perkembangan anak</span></a>, <a rel="tag" href="http://id.wordpress.com/tag/permainan-anak/"><span style="color:#578cca;">Permainan Anak</span></a></p>
</div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/masteja.wordpress.com/19/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/masteja.wordpress.com/19/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masteja.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masteja.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masteja.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masteja.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masteja.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masteja.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masteja.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masteja.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masteja.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masteja.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masteja.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masteja.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masteja.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masteja.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masteja.wordpress.com&amp;blog=2603666&amp;post=19&amp;subd=masteja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masteja.wordpress.com/2008/05/08/permainan-seru-mengasah-panca-indera-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d77f755a75d1ed7cebc5fcf838842e82?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">masteja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tarbiyah Imaniyah Buat Anak</title>
		<link>http://masteja.wordpress.com/2008/05/06/tarbiyah-imaniyah-buat-anak/</link>
		<comments>http://masteja.wordpress.com/2008/05/06/tarbiyah-imaniyah-buat-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 May 2008 02:10:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masteja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Parenting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masteja.wordpress.com/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu aspek yang sering kita lupakan dalam mendidik anak-anak adalah tarbiyah ruhiyah. Jangankan untuk anak, untuk diri sendiri pun kita sering lupa dengan tarbiyah bentuk ini. Padahal, seperti halnya akal dan pikiran perlu mendapat pendidikan, ruh kitapun wajib mendapatkan haknya. Untuk mendidik akal dan meningkatkan kapasitas intelektual orang tua menyekolahkan anak ke sekolah-sekolah favorit. Tetapi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masteja.wordpress.com&amp;blog=2603666&amp;post=18&amp;subd=masteja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" align="justify">Salah satu aspek yang sering kita lupakan dalam mendidik anak-anak adalah tarbiyah ruhiyah. Jangankan untuk anak, untuk diri sendiri pun kita sering lupa dengan tarbiyah bentuk ini. Padahal, seperti halnya akal dan pikiran perlu mendapat pendidikan, ruh kitapun wajib mendapatkan haknya.</p>
<p><a id="more-40"></a></p>
<div>Untuk mendidik akal dan meningkatkan kapasitas intelektual orang tua menyekolahkan anak ke sekolah-sekolah favorit. Tetapi dalam masalah pendidikan keimanan seringkali enggan memberi porsi yang cukup. Bahkan tidak perduli walaupun sekolah tersebut tidak memberikan pendidikan Islam yang memadai. </p>
<p>Iman merupakan hal asasi dalam kehidupan seorang muslim, sedang tarbiyah merupakan kebutuhan pokok setiap insan. Tarbiyah imaniyah adalah tarbiyah yang ditujukan untuk meningkatkan iman, ma’nawiyah (mentalitas), akhlaq (moralitas), dan syakhsyiyah (kepribadian) daripada mutarobiyyin (anak didik).</p>
<p>Iman kepada Allah dan hari akhir wajib mendapat pupuk yang menyegarkan, disiram dengan air agar terus menerus tumbuh di lahannya secara bertahap dan tawazun (seimbang) menuju kesempurnaan. Iman tumbuh subur karena didasari hubungan yang intens dengan Allah dalam berbagai bentuknya. Cobalah simak hasil tarbiyah pada seorang anak di masa salaf dahulu.</p>
<p>Abdullah bin Dinar berkisah tentang perjalanannya bersama Khalifah Umar bin Khattab. Beliau mengatakan, &#8220;Saya bersama Umar bin Khattab r.a. pergi ke Makkah dan beristirahat di suatu tempat. Lalu terlihatlah anak gembala dengan membawa banyak gembalaannya turun dari gunung dan berjumpa dengan kami. Umar bin Khattab berkata, &#8220;Hai penggembala, juallah seekor kambingmu itu kepadaku!&#8221;</p>
<p>Anak kecil penggembala itu menjawab, &#8220;Aku bukan pemilik kambing ini, aku hanya seorang budaknya.&#8221; Umar menguji anak itu, &#8220;Katakanlah kepada tuanmu bahwa salah seekor kambingnya dimakan srigala.&#8221;</p>
<p>Anak itu termenung lalu menatap wajah Umar, dan berkata, &#8220;Maka di manakah Allah?&#8221;</p>
<p>Mendengar kata-kata yang terlontar dari anak kecil ini, menangislah Umar. Kemudian beliau mengajak budak itu kepada tuannya kemudian memerdekakannya. Beliau berkata pada anak itu, &#8220;Kalimat yang telah engkau ucapkan tadi telah membebebaskanmu di dunia ini, aku harap kalimat-kalimat tersebut juga akan membebaskanmu kelak di akhirat.&#8221;</p>
<p>Kejadian di atas menunjukkan salah satu pengaruh dari pengenalan terhadap Allah. Kejadian serupa itu sudah sangat jarang terjadi saat ini. Sekarang ini, di masyarakat kita kejujuran dan kebenaran seolah sudah tak ada harganya. Coba bandingkan dengan sikap Umar yang menghargai anak tersebut dengan membebaskannya dari perbudakan.</p>
<p>Mungkin timbul pertanyaan: bagaimanakah seorang anak kecil di masa itu bisa menjadi begitu yakin dengan pengawasan Allah (muroqobatullah) yang berlaku pada setiap manusia?</p>
<p>Keyakinan lahir dari suatu pendidikan dan latihan yang benar. Di mana kekhalifahan Umar, masyarakat Islam sudah terbentuk dan masyarakat ini menghasilkan bi’ah (lingkungan) yang baik bagi anak tersebut, kendati ia berada di gurun. Pengaruh sistem pendidikan Islam telah merembes ke berbagai tempat sehingga setiap orang benar-benar meyakini dan menghayati syariat Allah.</p>
<p>Tarbiyah imaniyah untuk anak-anak merupakan satu pendidikan yang meliputi hal-hal berikut:</p>
</div>
<p class="MsoNormal" align="justify">1. Upaya melaksanakan dan menghayati nilai-nilai ibadah kepada Allah dalam arti yang seluas-luasnya sesuai dengan bimbingan Rasulullah SAW.</p>
<p class="MsoNormal" align="justify">2. Pembiasaan dalam mengingat Allah (dzikrullah) dengan membaca ayat-ayat Al Qur’an atau dengan menyebut-nyebut nama Allah dengan cara yang tepat di saat-saat tertentu.</p>
<div>3. Membiasakan merasakan adanya bimbingan Allah dalam melaksanakan kebaikan dan pengawasan Allah dalam setiap aspek kehidupan. Yaitu dengan menghubungkan kejadian-kejadian sehari-hari yang dialaminya dengan kekuasaan Allah. </p>
<p>4. Membiasakan menggantungkan diri kepada Allah misalnya dengan berdo’a dalam berbagai situasi dan kondisi.</p>
<p>5. Meningkatkan akhlak (perilaku) yang baik dengan mencontohkan tindakan-tindakan baik dan memperbaiki perilakunya pada saat anak melakukan keburukan.</p>
<p>6. Memberikan motivasi dan rangsangan dengan memuji atau memberi hadiah ketika anak berbuat baik, memberi manfaat kepada orang lain, atau menyenangkan orang lain kendati orang tersebut tidak menyadarinya.</p>
<p>7. Membimbing hal-hal lain untuk yang berhubungan dengan pendekatan diri kepada Allah.</p>
<p>Metode Tarbiyah</p>
<p>Pembekalan keimanan bagi anak-anak berorientasi pada penyiapan pemahaman dan pembiasaan berbagai hal yang kelak dapat menolong anak untuk melakukan sendiri berbagai kegiatan yang dapat memelihara ruhiyahnya.</p>
<p>Anak-anak sebenarnya lebih mudah menerima hal-hal yang bersifat teoritis kendati bersumber dari alam ghaib (tidak nampak). Karena secara fitrah mereka mudah mempercayai orang tua, guru, atau kawan dekatnya. Anak-anak senantiasa jujur dan tidak mau didustai seperti pada kisah Umar bin Khattab di atas. Ini menunjukkan bahwa kejujuran mereka amat mudah mendekatkan mereka kepada Allah.</p>
<p>Tarbiyah imaniyah untuk anak-anak dapat diberikan dengan jalan:</p>
<p>1. Dengan Contoh dan Keteladanan</p>
<p>Anak-anak adalah makhluk yang paling senang meniru. Orang tuanya merupakan figur dan idolanya. Bila mereka melihat kebiasaan baik dari ayah ibunya, maka mereka pun akan dengan cepat mencontohnya. Orang tua yang berperilaku buruk akan ditiru perilakunya oleh anak-anak. Anak paling mudah mengikuti kata-kata yang keluar dari mulut kita. Misalnya dalam mensyukuri segala nikmat yang diperoleh dalam keluarga. Kepada anak harus senantiasa diingatkan betapa semua rezeki bersumber dari Allah. Apabila kita memberi pisang kepada anak misalnya, sempatkanlah bertanya , &#8220;Darimana pisang ini, Nak?&#8221; &#8220;Dari Umi,&#8221; jawab si anak. &#8220;Ya. Tetapi sebenarnya pisang ini pemberian Allah kepada kita. Allah menyampaikannya melalui Umi.&#8221;</p>
<p>Dengan cara demikian, dalam peristiwa sederhana ini kita mencontohkan bagaimana mengingatkan Allah dan mensyukuri pemberian-Nya. Mengucapkan hamdalah ketika menerima sesuatu dan menjelaskan kepada mereka bahwa semuanya merupakan kasih sayang Allah dan merupakan suatu kewajiban yang tidak dapat dipungkiri.  Demikian pula mengucapkan insya Allah, subhannallah, dan berbagai ungkapan tasbih lainnya akan dicontohkan oleh anak.</p>
<p>2. Dengan Latihan dan Pembiasaan</p>
<p>Banyak pembiasaan ibadah harus dilakukan pada anak. Misalnya pembacaan do’a pada tiap-tiap kesempatan dan menguraikan maksud dan isi do’a tersebut. Di setiap munasabah, ada do’a yang pantas diucapkan. Mau makan, minum, tidur, mau belajar, mau berwudhu, menaiki kendaraan, dan lain-lain ada do’a yang khas untuknya. Anak-anak sangat mudah menghafalkan do’a-do’a ini. Apalagi bila di sekolah mereka mendapat program khusus mengenai do’a ini. Tetapi pengamalan do’a-do’a tersebut sangat tergantung pada pengawasan orang tua.  Biar pun anak mampu menghafal seratus do’a di sekolah atau madrasahnya, dia tidak akan mampu meningkatkan imannya bila tidak ada pengamalan dan penghayatannya. Secara rutin dan teratur ayah atau ibu hendaknya membimbing anak membiasakan pembacaan do’a ini, menjelaskan dan memberi pengertian tentang nilai-nilai kandungannya.</p>
<p>Pembiasaan lain yang perlu dilakukan semenjak dini antara lain:</p>
<p>- Membawa anak-anak ke masjid, beri’tikaf, serta mencintai dan menghormati jamaahnya.</p>
<p>- Memberikan perhatian khusus agar anak senantiasa membaca Al Qur’an secara rutin.</p>
<p>3. Dengan Nasihat dan Bimbingan</p>
<p>Orientasi nasihat dan bimbingan bertujuan mengingatkan anak terhadap pengawasan Allah di mana pun mereka berada. Ibnu Abbas r.a. menceritakan bahwa sewaktu masih anak-anak, beliau pernah dibonceng Rasulullah di atas untanya. Perjalanan yang mengasyikkan ini digunakan Rasulullah untuk menasihati Ibnu Abbas. Waktu itu Rasulullah SAW berkata, &#8220;Hai anak, jagalah semua perintah Allah, niscaya Allah memeliharamu. Periharalah semua perintah Allah, niscaya engkau dapati Dia di hadapanmu. Apabila engkau memohon sesuatu, mohonlah hal itu kepada Allah, dan bila meminta pertolongan, mintalah kepada Allah. Dan ketahuilah, sekiranya seluruh masyarakat sepakat berbuat sesuatu yang bermanfaat bagimu, maka semua manfaat itu hanyalah Allah yang menentukannya, dan bila mereka akan berbuat jahat kepadamu, maka kejahatan itu tidak akan menimpamu kecuali yang telah ditetapkan Allah pula. Terangkat qalam dan keringlah pena.&#8221; (At-Turmudzi)</p>
<p>4. Dengan Pengarahan dan Pengajaran</p>
<p>Bila nasihat disampaikan di mana saja, di tempat-tempat di mana orang tua (murobbi) berinteraksi dengan anak didiknya, maka pengarahan dan bimbingan mengambil waktu dan tempat tertentu misalnya seusai shalat Shubuh atau Maghrib berjamaah. Rasulullah pernah memberi pengajaran kepada Ibnu Abbas sebagai berikut, &#8220;Periharalah perintah Allah, engkau dapatkan Allah di hadapanmu. Kenalkan dirimu kepada Allah di waktu senang, niscaya Allah akan mengingatmu di saat kesukaran. Ketahuilah bahwa sesuatu yang terlepas darimu tidak akan mengenaimu, dan yang menjadi bagianmu tidak akan terlepas darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan itu beserta keshabaran, dan kegembiraan itu setelah kesukaran, dan setiap ada kesukaran akan ada kelapangan.&#8221;</p>
<p>Anak-anak pra sekolah dapat mulai dimasukkan ke TPA di mana mereka mendapatkan arahan dan pengajaran dari guru-guru yang sudah memahami metoda pendidikan keimanan kepada balita.</p>
<p>5. Dengan Bercerita dan Berkisah</p>
<p>Anak-anak sangat senang pada cerita-cerita dan kisah-kisah masa lampau. Apalagi di dalamnya terkandung unsur-unsur heroik dan semangat perjuangan. Islam memiliki khazanah kekayaan sejarah yang sangat besar. Mulai zaman nabi-nabi, Nabi Muhammad dan para sahabat beliau, serta sejarah umat Islamnya. Ibnu Mas’ud berkata, &#8220;Kami (generasi sahabat) mengajarkan perang-perang Rasulullah kepada anak-anak kami sebagaimana kami mengajarkan Al Qur’an.&#8221;</p>
<p>Ayah dan ibu yang bercerita kepada anaknya akan lebih melekatkan anak-anak pada keteladanan dan ibroh (pelajaran) yang dapat diambil oleh anak. Sesungguhnya apabila kita mampu bercerita dengan baik, kisah dari seorang ibu yang lembut dan penuh keakraban insya Allah dapat lebih disukai anak tenimbang acara-acara telivisi. Karena pendekatan cerita sebelum tidur bersifat timbal balik dan mempunyai dampak psikologis yang dibutuhkan anak.</p>
<p>6. Dengan Dorongan, Rangsangan dan Penghargaan</p>
<p>Usia kanak-kanak sangat memerlukan dorongan dan penghargaan ketika meraih sesuatu kendati sangat sederhana. Jangan segan-segan mengucapkan terima kasih kepada anak yang berhasil nilai yang bagus, atau memberi hadiah ketika berhasil dalam salah satu kegiatan. Di dalam hadiah tercermin kasih sayang, karena Rasulullah bersabda, &#8220;Saling beri hadiahlah kalian dengan demikian kalian akan saling mencintai.&#8221; (Al-Hadits)</p>
<p>Bagi seorang anak, perhatian, ciuman, dekapan yang mesra, atau gendongan dapat dipahami sebagai hadiah. Anak yang lebih besar ingin hadiah yang lebih kongkrit. Tak ada salahnya ayah memberi sesuatu ketika anak telah berprestasi dalam peningkatan pribadinya. Misalnya, ketika berhasil menghafal satu surat di antara surat-surat Al Qur’an.</p>
<p>(Dikutip dari Majalah Ummi, No. 9/VIII Tahun 1417H/1997)<br />
&lt;!&#8211;[if !supportLineBreakNewLine]&#8211;&gt;  <a href="http://beranda.blogsome.com">http://beranda.blogsome.com</a></p>
<p> </p>
</div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/masteja.wordpress.com/18/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/masteja.wordpress.com/18/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masteja.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masteja.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masteja.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masteja.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masteja.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masteja.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masteja.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masteja.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masteja.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masteja.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masteja.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masteja.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masteja.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masteja.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masteja.wordpress.com&amp;blog=2603666&amp;post=18&amp;subd=masteja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masteja.wordpress.com/2008/05/06/tarbiyah-imaniyah-buat-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d77f755a75d1ed7cebc5fcf838842e82?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">masteja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>7 Kecerdasan dan Sekolah</title>
		<link>http://masteja.wordpress.com/2008/05/06/7-kecerdasan-dan-sekolah/</link>
		<comments>http://masteja.wordpress.com/2008/05/06/7-kecerdasan-dan-sekolah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 May 2008 02:08:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masteja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Parenting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masteja.wordpress.com/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[Di dalam buku Frames of Mind yang terbit tahun 1983, seorang psikolog bernama Howard Gardner menyimpulkan hasil risetnya yang mengatakan bahwa sedikitnya ada tujuh jenis kecerdasan:   Kecerdasan linguistik, berkaitan dengan kemampuan bahasa dan penggunaannya. Orang-orang yang berbakat dalam bidang ini senang bermain-main dengan bahasa, gemar membaca dan menulis, tertarik dengan suara, arti dan narasi. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masteja.wordpress.com&amp;blog=2603666&amp;post=17&amp;subd=masteja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="post-content">
<p>Di dalam buku Frames of Mind yang terbit tahun 1983, seorang psikolog bernama Howard Gardner menyimpulkan hasil risetnya yang mengatakan bahwa sedikitnya ada tujuh jenis kecerdasan:</p>
<p> </p>
<ol>
<li>Kecerdasan linguistik, berkaitan dengan kemampuan bahasa dan penggunaannya. Orang-orang yang berbakat dalam bidang ini senang bermain-main dengan bahasa, gemar membaca dan menulis, tertarik dengan suara, arti dan narasi. Mereka seringkali pengeja yang baik dan mudah mengingat tanggal, tempat dan nama. <a id="more-153"></a></li>
<li>Kecerdasan musikal, berkaitan dengan musik, melodi, ritme dan nada. Orang-orang ini pintar membuat musik sendiri dan juga sensitif terhadap musik dan melodi. Sebagian bisa berkonsentrasi lebih baik jika musik diperdengarkan; banyak dari mereka seringkali menyanyi atau bersenandung sendiri atau mencipta lagu serta musik.</li>
<li>Kecerdasan logis-matematis, berhubungan dengan pola, rumus-rumus, angka-angka dan logika. Orang-orang ini cenderung pintar dalam teka-teki, gambar, aritmatika, dan memecahkan masalah matematika; mereka seringkali menyukai komputer dan pemrograman. </li>
<li>Kecerdasan spasial, berhubungan dengan bentuk, lokasi dan mebayangkan hubungan di antaranya. Orang-orang ini biasanya menyukai perancangan dan bangunan, disamping pintar membaca peta, diagram dan bagan.</li>
<li>Kecerdasan tubuh-kinestetik, berhubungan dengan pergerakan dan ketrampilan olah tubuh. Orang-orang ini adalah para penari dan aktor, para pengrajin dan atlet. Mereka memiliki bakat mekanik tubuh dan pintar meniru mimik serta sulit untuk duduk diam. </li>
<li>Kecerdasan interpersonal, berhubungan dengan kemampuan untuk bisa mengerti dan menghadapi perasaan orang lain. Orang-orang ini seringkali ahli berkomunikasi dan pintar mengorganisasi, serta sangat sosial. Mereka biasanya baik dalam memahami perasaan dan motif orang lain.</li>
<li>Kecerdasan intrapersonal, berhubungan dengan mengerti diri sendiri. Orang-orang ini seringkali mandiri dan senang menekuni aktifitas sendirian. Mereka cenderung percaya diri dan punya pendapat, dan memilih pekerjaan dimana mereka bisa memiliki kendali terhadap cara mereka menghabiskan waktu. </li>
</ol>
<p class="MsoNormal">Menurut Gardner, masing-masing dari kita memiliki sebuah kombinasi dari kecerdasan-kecerdasan ini. Setiap orang mempunyai kekuatan relatif dari tiap kecerdasan di atas sedemikian rupa sehingga orang tersebut cenderung menentukan pilihan aktifitas apapun yang dia sukai tanpa keterpaksaan. Kita menyebutnya sebagai bakat.</p>
<p class="MsoNormal">Dari sini kita bisa mengukur sejauh mana cakupan pendidikan yang pernah kita terima saat duduk dibangku SD hingga perguruan tinggi? Rasanyan, kebanyakan institusi pendidikan di Indonesia memberikan porsi yang besar terfokus  pada pembangunan kecerdasan logis-matematis. Bahkan secara tak sadar masyarakat kitapun cenderung memberikan apresiasi yang berlebihan bagi orang yang memiliki kecerdasan logis-matematis. Banyak orang tua yang merasa prihatin bila mendapatkan anak-anaknya lemah dalam hal yang berbau logis-matematis. Keprihatinan tersebut mendorong para orang tua untuk memasukan anak-anaknya ke tempat bimbingan belajar atau mencari guru private yang mampu mengajarkan anaknya tentang dunia logis-matematis. Namun sesungguhnya mereka tidak mengajarkan apapun, yang jelas mereka melakukan pemaksaan terhadap suatu hal yang memang bukanlah bakat sang anak.</p>
<p class="MsoNormal">Lalu dimana anak-anak kita bisa mendapatkan ruang dan waktu yang bisa menumbuhkan dan menyalurkan atau setidaknya mengakomodir bakat mereka? Jawaban yang pasti adalah diluar sekolah. Saatnya kita harus berfikir untuk mendidik tanpa sekolah. Bagaimana caranya memberikan pendidikan tanpa sekolah? Wallahu’alam.</p>
<p class="MsoNormal"><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#800080;">http://beranda.blogsome.com/</span></span><a href="http://masteja.wordpress.com"></a></p>
</div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/masteja.wordpress.com/17/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/masteja.wordpress.com/17/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masteja.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masteja.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masteja.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masteja.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masteja.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masteja.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masteja.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masteja.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masteja.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masteja.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masteja.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masteja.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masteja.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masteja.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masteja.wordpress.com&amp;blog=2603666&amp;post=17&amp;subd=masteja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masteja.wordpress.com/2008/05/06/7-kecerdasan-dan-sekolah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d77f755a75d1ed7cebc5fcf838842e82?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">masteja</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
