Pernahkah anda membuka kembali album foto kenangan saat-saat pernikahan anda, belasan atau mungkin puluhan tahun silam ? Bayangkanlah kembali suasana saat itu yang penuh cinta, suka cita dan kebahagiaan. Apa yang ada dalam benak pikiran anda kala itu ? Tentu ada kegembiraan, optimisme dan keyakinan untuk membangun keluarga sesuai impian anda. Yang indah, harmonis dan nyaman ibarat surga dunia.
Namun kenyataannya kini, mengapa tak seindah harapan ? Yang dulu indah didengar dan silihat, kini jadi menyebalkan dan menjemukan. Yang dulu terasa hangat dan segar, pun telah berubah kering dan panas. Dulu, suami nampak paling gagah, ganteng dan paling baik hati. Istri pun tampil sebagai putrid yang paling cantik, menarik dan senantiasa menyenangkan hati. Kemana semuanya pergi ?
Padahal kalau mau jujur dan bertanya pada hati nurani, sebenarnya tidak terlalu banyak yang berubah pada diri anda, juga pasangan hidup anda. Kalau sejak dulu suami bertubuh gemuk, mengapa dulu dirasa semakin menambah keren, tetapi sekarang dirasa mengganggu pandangan mata ? Kalau sejak dulu istri bertubuh pendek dan mungil, mengapa dulu dibangga-banggakan sebagai putrid imut, tetapi sekarang menjadi kalah menarik dengan rekan kerja di kantor yang tinggi semampai ?
Seringkali terjadi, bahwa perubahan yang terjadi justru dari dalam diri anda sendiri. Perubahan yang terjadi adalah dari cara pandang anda. Kalau dulu anda memandang dengan cara pandang positif, maka segala sesuatu yang terlihat, nampak sebagai sesuatu yang positif. Gemuknya suami, pendeknya istri, gondrongnya rambut hingga sumbingnya bibir pun semua terlihat indah.
Tetapi ketika cara pandang anda bergeser kea rah negative, maka tiba-tiba segalanya menjadi nampak negative. Secantik apapun istri, masih tak bisa mengalahkan kecantikan rekan bisnis di kantor. Setampan apapun suami pun tak bisa menghapuskan kenangan terhadap teman lama yang kini telah sukses dengan bisnisnya.
Itulah cara kerja otak manusia,dimana ia berpikir sesuai kea rah mana konsentrasi dilakukan. Ketika otak berkonsentrasi kea rah positif, maka otomatis segera nampak begitu banyak hal-hal positif yang ada. Sementara kekurangan sebesar apapun tidak dirasa mengganggu, bahkan bisa diterima sebagai sesuatu yang positif.
Sebaliknya saat otak bekerja dengan konsentrasi negative, maka segala jenis hal negative,walau sekecil apapun, segera nampak di depan mata. Sementara hal positif yang sangat besar di depan mata pun bisa-bisa tak terlihat.
Itu sebabnya, Rasulullah berpesan agar kita senantiasa mempergunakan cara pandang positif ini dalam kehidupan keluarga. Dalam sebuah hadis beliau berpesan, ‘Jika kamu tak suka terhadap satu perangai istrimu, maka lihatlah perangai baiknya yang lain, karena Allah lebih tahu akan dirinya.’………..
Nah, sahabat, mari kita coba membuat daftar penilaian terhadap pasangan hidup kita, seberapa banyak hal-hal positif dalam dirinya yang mampu kita tangkap dan kita syukuri ? Allah memerintahkan kita untuk pandai-pandai mensyukuri nikmat, sekecil apapun nikmat itu, karena semakin banyak kita bersyukur, maka akan semakin banyak nikmat yang Dia berikan kepada kita. Ini menyiratkan, semakin positif cara kita memandag segala sesuatu, semakin banyak pula hal-hal positif akan kita peroleh.