ASYIKNYA SAAT BERDUA
By : Irawati Istadi
Ketika menikah dengan Rasulullah, Ummu Salamah masih memiliki seorang balita. Seperti lazimnya kanak-kanak lain, anak ini tentu saja masih begitu menyita perhatian penuh dari ibundanya itu. Pagi, siang hingga malam, sebagian besar waktu Ummu Salamah habis untuk menjaga, merawat dan mendidik putra bungsunya ini.
Namun begitu menjadi istri Rasulullah, Ummu Salamah sadar bahwa ia perlu menyediakan banyak waktu luang untuk kebutuhan suaminya itu akan dirinya. Maka ia pun mengatur untuk mengambil orang yang membantu menjagakan balitanya, jika saatnya Rasulullah berada di rumahnya.
Kondisi Ummu Salamah yang disibukkan oleh balitanya, juga kerap dialami oleh banyak ibu hingga jaman sekarang. Betapa banyak suami istri yang harus tenggelam dalam kehidupan rutinitas keluarga, mulai dari urusan anak hingga urusan domestic, yang akhirnya membuat mereka tak lagi memiliki waktu untuk menikmati waktu berdua saja. Tetapi, ternyata Rasulullah saw dan Ummu Salamah memandang bahwa waktu berdua begitu pentinng untuk diadakan, sesibuk apapun keduanya. Bagaimana dengan anda ?
Kebanyakan pasangan suami istri merasa terlalu tua untuk menyisihkan waktu berduaan seperti itu. ‘Kok seperti pengantin baru saja’, begitu komentar mereka. Padahal, hingga menjadi pasangan tua renta sekalipun, setiap pasangan suami istri tetap membutuhkan waktu untuk menyendiri berdua. Untuk berbagi rasa, berbagi cerita, dan berbagi cinta..
Kebutuhan untuk Berdua
Hubungan antara suami istri, bukan sekedar hubungan fisik dan biologis semata. Justru hubungan jenis ini merupakan satu bagian kecil saja, dan dibatasi oleh kekuatan fisik, usia serta keinginan. Pasangan yang sudah tua, misalnya, bisa jadi tak lagi memiliki kebutuhan terlalu besar akan hubungan tersebut.
Namun tidaklah demikian dengan keadaan hubungan batin di antara keduanya, karena kebutuhan akan hubungan batin ini tidaklah dibatasi oleh apapun. Setiap pasangan suami istri meebutuhkannya kapanpun, dimanapun dan dalam kondisi apapun. Ketika salah satu menghadapi masalah, akan membutuhkan dukungan dari pasangannya, walau sekedar untuk mendengar apa yang menjadi keluhanya. Sebaliknya ketika salah satu memperoleh kebahagiaan pun tetap membutuhkan pasangannya, untuk berbagi raas bahagia.
Kebutuhan akan perhatian dan kasih saying antara satu orang dengan pasangan hidupnya, bisa menjadi pemicu gairah utama dalam kehidupan. Perhatian dan kasih saying ini begitu pribadi dan spesiial, sehingga tak akan mampu tergantikan oleh orang lain. Sentuhan raas emosinya begitu kental, sehingga mampu menggerakkan sendi-sendi kekuatan diri yang terdalam sekalipun. Inilah kebutuhan untuk dicintai, yang tak dibatasi oleh ruang dan waktu.
Merancang ‘Waktu Berdua’
Lepaskan Segala Jerat
Ada jerat pikiran, kelelahan fisik hingga jerat rutinitas yang menggumpal menunggu untuk dikerjakan. Tetapi seluruhnya harus anda lepas dari pikiran dan perasaan untuk sementara. Emosi anda harus benar-benar relaks saat ini.
Katakan Apa Saja
Membangun komunikasi produktif, itu intinya. Mulailah dengan menyampaikan apa saja yang ingin anda sampaikan. Apa yang memberatkan hati dan pikiran, atau yang justru membahagiakan. Curhatlah sepenuh hati, tanpa beban, tanpa prasangka.
Dengarkan Semuanya.
Keseimbangannya, dengarkanlah apa yang disampaikan pasangan anda. Jika anda pandai mendengarkan dengan sabar dan lapang dada, selanjutnya anda akan didengarkan oleh pasangan anda.
Indahnya Persamaan.
Tak ada pasangan yang tak memiliki perbedaan, bahkan mungkin jurang perbedaan itu begitu besar. Namun ingat, semuanya bisa diatasi dengan terus mencari dan terus menemukan, sekecil apapun, persamaan yang ada antar pasangan. Semakin banyak anda membicarakan persamaan-persamaan di antara anda dan semakin jarang mengunngkit-ungkit perbedaan yang ada, maka emosi cinta akan lebih mudah terbangun.
Saling Dukung, Saling Percaya.
Dukungan dan kepercayaan, adalah dua hal yang sangat dibutuhkan oleh seseorang dari pasangan hidupnya. Berilah empati, dukungan dan semangat kepada pendapat pasangan anda, jika anda sepakat dengannya. Jika tidak, ajak dialog terbuka dengan baik-baik. Beri kepercayaan pada pasangan anda untuk berbuat sesuai yang telah anda sepakati berdua. Bangun prasangka positif, pahami kesalahan dan kekhilafan yang mungkin terjadi di awal, dan beri kesempatan pasangan anda untuk memperbaiki diri.
***