BERBAGI UNTUK MENGERTI

Aku Bisa Karena Engkau Ada

Asyiknya Saat Berdua Mei 20, 2008

Diarsipkan di bawah: Baiti Jannati — masteja @ 6:40 am

 

ASYIKNYA SAAT BERDUA

By : Irawati Istadi

 

Ketika menikah dengan Rasulullah, Ummu Salamah masih memiliki seorang balita. Seperti lazimnya kanak-kanak lain, anak ini tentu saja masih begitu menyita perhatian penuh dari ibundanya itu. Pagi, siang hingga malam, sebagian besar waktu Ummu Salamah habis untuk menjaga, merawat dan mendidik putra bungsunya ini.

Namun begitu menjadi istri Rasulullah, Ummu Salamah sadar bahwa ia perlu menyediakan banyak waktu luang untuk kebutuhan suaminya itu akan dirinya. Maka ia pun mengatur untuk mengambil orang yang membantu menjagakan balitanya, jika saatnya Rasulullah berada di rumahnya.

Kondisi Ummu Salamah yang disibukkan oleh balitanya, juga kerap dialami oleh banyak ibu hingga jaman sekarang. Betapa banyak suami istri yang harus tenggelam dalam kehidupan rutinitas keluarga, mulai dari urusan anak hingga urusan domestic, yang akhirnya membuat mereka tak lagi memiliki waktu untuk menikmati waktu berdua saja. Tetapi, ternyata Rasulullah saw dan Ummu Salamah memandang bahwa waktu berdua begitu pentinng untuk diadakan, sesibuk apapun keduanya. Bagaimana dengan anda ?

Kebanyakan pasangan suami istri merasa terlalu tua untuk menyisihkan waktu berduaan seperti itu. ‘Kok seperti pengantin baru saja’, begitu komentar mereka. Padahal, hingga menjadi pasangan tua renta sekalipun, setiap pasangan suami istri tetap membutuhkan waktu untuk menyendiri berdua. Untuk berbagi rasa, berbagi cerita, dan berbagi cinta..

 

 

Kebutuhan untuk Berdua

 

Hubungan antara suami istri, bukan sekedar hubungan fisik dan biologis semata. Justru hubungan jenis ini merupakan satu bagian kecil saja, dan dibatasi oleh kekuatan fisik, usia serta keinginan. Pasangan yang sudah tua, misalnya, bisa jadi tak lagi memiliki kebutuhan terlalu besar akan hubungan tersebut.

Namun tidaklah demikian dengan keadaan hubungan batin di antara keduanya, karena kebutuhan akan hubungan batin ini tidaklah dibatasi oleh apapun. Setiap pasangan suami istri meebutuhkannya kapanpun, dimanapun dan dalam kondisi apapun. Ketika salah satu menghadapi masalah, akan membutuhkan dukungan dari pasangannya, walau sekedar untuk mendengar apa yang menjadi keluhanya. Sebaliknya ketika salah satu memperoleh kebahagiaan pun tetap membutuhkan pasangannya, untuk berbagi raas bahagia.

Kebutuhan akan perhatian dan kasih saying antara satu orang dengan pasangan hidupnya, bisa menjadi pemicu gairah utama dalam kehidupan. Perhatian dan kasih saying ini begitu pribadi dan spesiial, sehingga tak akan mampu tergantikan oleh orang lain. Sentuhan raas emosinya begitu kental, sehingga mampu menggerakkan sendi-sendi kekuatan diri yang terdalam sekalipun. Inilah kebutuhan untuk dicintai, yang tak dibatasi oleh ruang dan waktu.

 

 

 

 

 

 

Merancang ‘Waktu Berdua’

 

Lepaskan Segala Jerat

Ada jerat pikiran, kelelahan fisik hingga jerat rutinitas yang menggumpal menunggu untuk dikerjakan. Tetapi seluruhnya harus anda lepas dari pikiran dan perasaan untuk sementara. Emosi anda harus benar-benar relaks saat ini.

 

Katakan Apa Saja

Membangun komunikasi produktif, itu intinya. Mulailah dengan menyampaikan apa saja yang ingin anda sampaikan. Apa yang memberatkan hati dan pikiran, atau yang justru membahagiakan. Curhatlah sepenuh hati, tanpa beban, tanpa prasangka.

 

Dengarkan Semuanya.

Keseimbangannya, dengarkanlah apa yang disampaikan pasangan anda. Jika anda pandai mendengarkan dengan sabar dan lapang dada, selanjutnya anda akan didengarkan oleh pasangan anda.

 

Indahnya Persamaan.

Tak ada pasangan yang tak memiliki perbedaan, bahkan mungkin jurang perbedaan itu begitu besar. Namun ingat, semuanya bisa diatasi dengan terus mencari dan terus menemukan, sekecil apapun, persamaan yang ada antar pasangan. Semakin banyak anda membicarakan persamaan-persamaan di antara anda dan semakin jarang mengunngkit-ungkit perbedaan yang ada, maka emosi cinta akan lebih mudah terbangun.

 

Saling Dukung, Saling Percaya.

Dukungan dan kepercayaan, adalah dua hal yang sangat dibutuhkan oleh seseorang dari pasangan hidupnya. Berilah empati, dukungan dan semangat kepada pendapat pasangan anda, jika anda sepakat dengannya. Jika tidak, ajak dialog terbuka dengan baik-baik. Beri kepercayaan pada pasangan anda untuk berbuat sesuai yang telah anda sepakati berdua. Bangun prasangka positif, pahami kesalahan dan kekhilafan yang mungkin terjadi di awal, dan beri kesempatan pasangan anda untuk memperbaiki diri.

 

***

 

 

Cara Pandang Positif Mei 20, 2008

Diarsipkan di bawah: Dunia Rumah Tangga — masteja @ 6:38 am

Pernahkah anda membuka kembali album foto kenangan saat-saat pernikahan anda, belasan atau mungkin puluhan tahun silam ? Bayangkanlah kembali suasana saat itu yang penuh cinta, suka cita dan kebahagiaan. Apa yang ada dalam benak pikiran anda kala itu ? Tentu ada kegembiraan, optimisme dan keyakinan untuk membangun keluarga sesuai impian anda. Yang indah, harmonis dan nyaman ibarat surga dunia.

Namun kenyataannya kini, mengapa tak seindah harapan ? Yang dulu indah didengar dan silihat, kini jadi menyebalkan dan menjemukan. Yang dulu terasa hangat dan segar, pun telah berubah kering dan panas. Dulu, suami nampak paling gagah, ganteng dan paling baik hati. Istri pun tampil sebagai putrid yang paling cantik, menarik dan senantiasa menyenangkan hati. Kemana semuanya pergi ?

Padahal kalau mau jujur dan bertanya pada hati nurani, sebenarnya tidak terlalu banyak yang berubah pada diri anda, juga pasangan hidup anda. Kalau sejak dulu suami bertubuh gemuk, mengapa dulu dirasa semakin menambah keren, tetapi sekarang dirasa mengganggu pandangan mata ? Kalau sejak dulu istri bertubuh pendek dan mungil, mengapa dulu dibangga-banggakan sebagai putrid imut, tetapi sekarang menjadi kalah menarik dengan rekan kerja di kantor yang tinggi semampai ?

Seringkali terjadi, bahwa perubahan yang terjadi justru dari dalam diri anda sendiri. Perubahan yang terjadi adalah dari cara pandang anda. Kalau dulu anda memandang dengan cara pandang positif, maka segala sesuatu yang terlihat, nampak sebagai sesuatu yang positif. Gemuknya suami, pendeknya istri, gondrongnya rambut hingga sumbingnya bibir pun semua terlihat indah.

Tetapi ketika cara pandang anda bergeser kea rah negative, maka tiba-tiba segalanya menjadi nampak negative. Secantik apapun istri, masih tak bisa mengalahkan kecantikan rekan bisnis di kantor. Setampan apapun suami pun tak bisa menghapuskan kenangan terhadap teman lama yang kini telah sukses dengan bisnisnya.

Itulah cara kerja otak manusia,dimana ia berpikir sesuai kea rah mana konsentrasi dilakukan. Ketika otak berkonsentrasi kea rah positif, maka otomatis segera nampak begitu banyak hal-hal positif yang ada. Sementara kekurangan sebesar apapun tidak dirasa mengganggu, bahkan bisa diterima sebagai sesuatu yang positif.

Sebaliknya saat otak bekerja dengan konsentrasi negative, maka segala jenis hal negative,walau sekecil apapun, segera nampak di depan mata. Sementara hal positif yang sangat besar di depan mata pun bisa-bisa tak terlihat.

Itu sebabnya, Rasulullah berpesan agar kita senantiasa mempergunakan cara pandang positif ini dalam kehidupan keluarga. Dalam sebuah hadis beliau berpesan, ‘Jika kamu tak suka terhadap satu perangai istrimu, maka lihatlah perangai baiknya yang lain, karena Allah lebih tahu akan dirinya.’………..

Nah, sahabat, mari kita coba membuat daftar penilaian terhadap pasangan hidup kita, seberapa banyak hal-hal positif dalam dirinya yang mampu kita tangkap dan kita syukuri ? Allah memerintahkan kita untuk pandai-pandai mensyukuri nikmat, sekecil apapun nikmat itu, karena semakin banyak kita bersyukur, maka akan semakin banyak nikmat yang Dia berikan kepada kita. Ini menyiratkan, semakin positif cara kita memandag segala sesuatu, semakin banyak pula hal-hal positif akan kita peroleh.

 

“Ayah Galak,…………..Ayah Jahat……” Mei 20, 2008

Diarsipkan di bawah: Parenting — masteja @ 6:36 am

Oleh Supardi Lee, Penulis & Trainer

Seorang ayah punya tugas memandikan putra kesayangannya setiap pagi. Sang anak berusia tiga tahun. Dan ia tidak suka mandi!
Berbagai cara dicoba untuk membuat sang anak mandi. Dari cara terhalus berbentuk bujukan sampai cara kasar,… paksaan dan pukulan. Semuanya gagal. Putranya bukan jadi mau mandi, tapi jadi membencinya. Ia menangis dan mulai membalas pukulan. Dua hal yang sudah dianggap nggak apa-apa oleh sang ayah. Apalagi ia harus mengejar waktu untuk bisa masuk kerja tepat waktu. Rutinitas yang membuat sang ayah kesal, marah dan hampir putus asa. Tapi ia tidak mau melepaskan tugas tersebut. Gengsi menghalanginya. ”Masa mandiin anak kecil aja nggak bisa”, begitu pikirnya.
Sampai suatu pagi, prosesi paksaan mandi kembali dilakukan. Sambil menangis pilu, sang anak berkata pada ayahnya : ”Ayah galak, Ayah jahat”. Kata-kata itu benar-benar menusuk hatinya.
Selama ini, ia juga kena pukul anaknya. Tapi sakitnya tidak sesakit kata-kata ”Ayah galak, ayah jahat” tadi. Seharian ia tidak bisa bekerja dengan baik. Kata-kata anaknya benar-benar menyentaknya. Tak terasa, matanya berkaca-kaca. Sang ayah menangis. Ia benar-benar menyesal telah memperlakukan anak kesayangannya demikian buruk.
Sejak hari itu, ia tidak lagi memaksa anaknya mandi. Sang anak memang tidak mandi. Paling ganti baju saja. Tapi,… tidak ada tangisan dan teriakan setiap hari.
Sang ayah kembali berpikir bagaimana membuat anaknya senang mandi tanpa paksaan, teriakan apalagi pukulan. Berbagai alternatif muncul. Beberapa dicoba. Gagal total. Tapi sang ayah tidak menyerah. Ia kembali mencari cara yang lebih baik.
Sampai suatu ketika, suatu kesadaran baru timbul. Sang ayah sadar, membuat anaknya senang mandi adalah sudut pandang yang keliru. Bagi anak usia tiga tahun, tidak ada aktivitas yang disenanginya, kecuali bermain. Jadi pertanyaannya bukan bagaimana membuat anaknya senang mandi, tapi bagaimana bersenang-senang dengan anaknya, termasuk ketika mandi. Pemikiran ini menggeser fokus dan pendekatannya. Dari fokus pada anaknya menjadi fokus pada dirinya sendiri.
Kesadaran ini membuat sang ayah merubah perintah mandi : ”Nak, mandi sana!” menjadi ajakan untuk memandikan sang ayah : ”Nak, mandiin ayah dong…”. Selain itu, mandi justru menjadi aktivitas sampingan. Aktivitas utamanya adalah main. Dari mencuci bola anaknya, membuat gelembung sabun, main robot-robotan di air, mengisi air ke botol, dan sebagainya. Mandi pun menjadi aktivitas yang menyenangkan.
Beberapa kali, sang anak memang masih tidak mau mandi. Tapi, hal ini bukan lagi suatu masalah besar. Sang ayah menjadi sangat kreatif dan sabar mencari permainan yang akhirnya membawa mereka ke kamar mandi, main air dan mandi. Makin lama, proses main dan mandi ini menjadi makin cepat. Dan akhirnya, suatu pagi sang anak berkata pada ayahnya: ”Yah, mandi yuk…” Sang ayah pun langsung memeluk dan menggendong anak tercintanya. Dengan mata berkaca-kaca, sang ayah berkata: ”Ayuk…”
Saudara, mendidik anak membutuhkan kesabaran, bukan kemarahan. Kreatifitas menjadi penting dalam proses menumbuhkan kesabaran ini. Anda tidak akan jadi orang tua yang sabar bila anda tidak kreatif. Kekerasan dalam memperlakukan anak tidak akan mendidik apapun selain dendam.
Dalam kasus di atas, diperlukan banyak waktu untuk menjalin cinta dan keakraban antara sang ayah dengan anaknya. Tidak efisien. Tapi memang bukan efisiensi (hemat sumberdaya) yang menjadi fokus utama dalam mendidik anak. Efektifitas (tujuan tercapai dengan baik) adalah fokusnya. Jadi, asalkan terjalin cinta tulus antara orang tua dengan anaknya, masalah diperlukan banyak waktu, tenaga, pikiran, dana, dan sebagainya tidak lah menjadi masalah.
Nah saudara, jangan salah fokus. Jangan ingin cepat-cepat mendidik anak. Tenang saja. Anda punya waktu yang berlebih untuk mendidik anak dan terutama mendidik diri anda sendiri untuk menumbuhkan cinta tulus diantara anda dan buah hati anda.
Selamat bersabar dan kreatif…

 

 

Pudarnya Pesona Cleopatra Mei 20, 2008

Diarsipkan di bawah: Dunia Rumah Tangga — masteja @ 2:20 am
  1. Pudarnya Pesona Cleopatra    
    Toek para suami, Yakinlah… istrimu selalu berusaha membahagiakanmu…
     

    Dengan panjang lebar ibu menjelaskan, sebenarnya sejak ada dalan kandungan aku telah dijodohkan dengan Raihana yang tak pernah kukenal.” Ibunya Raihana adalah teman karib ibu waktu nyantri di pesantren Mangkuyudan Solo dulu”
    kata ibu.

    “Kami pernah berjanji, jika dikarunia anak berlainan jenis akan besanan untuk memperteguh tali persaudaraan. Karena itu ibu mohon keikhlasanmu” , ucap beliau dengan nada mengiba.

    Dalam pergulatan jiwa yang sulit berhari-hari, akhirnya aku pasrah. Aku menuruti keinginan ibu. Aku tak mau mengecewakan ibu. Aku ingin menjadi mentari pagi dihatinya, meskipun untuk itu aku harus mengorbankan diriku.

    Dengan hati pahit kuserahkan semuanya bulat-bulat pada ibu. Meskipun sesungguhnya dalam hatiku timbul kecemasan-kecemasan yang datang begitu saja dan tidak tahu alasannya. Yang jelas aku sudah punya kriteria dan impian tersendiri untuk calon istriku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa berhadapan dengan air mata ibu yang amat kucintai. Saat khitbah (lamaran) sekilas kutatap wajah Raihana, benar kata Aida adikku, ia memang baby face dan anggun.

    Namun garis-garis kecantikan yang kuinginkan tak kutemukan sama sekali.
    Adikku, tante Lia mengakui Raihana cantik, “cantiknya alami, bisa jadi bintang iklan Lux lho, asli ! kata tante Lia. Tapi penilaianku lain, mungkin karena aku begitu hanyut dengan gadis-gadis Mesir titisan Cleopatra, yang tinggi semampai, wajahnya putih jelita, dengan hidung melengkung indah, mata bulat bening khas arab, dan bibir yang merah. Di hari-hari menjelang pernikahanku, aku berusaha menumbuhkan bibit-bibit cintaku untuk calon istriku, tetapi usahaku selalu sia-sia.

    Aku ingin memberontak pada ibuku, tetapi wajah teduhnya meluluhkanku. Hari pernikahan datang. Duduk dipelaminan bagai mayat hidup, hati hampa tanpa cinta, Pestapun meriah dengan emapt group rebana. Lantunan shalawat Nabipun terasa menusuk-nusuk hati. Kulihat Raihana tersenyum manis, tetapi hatiku terasa teriris-iris dan jiwaku meronta. Satu-satunya harapanku adalah mendapat berkah dari Allah SWT atas baktiku pada ibuku yang kucintai.
    Rabbighfir li wa liwalidayya!

    Layaknya pengantin baru, kupaksakan untuk mesra tapi bukan cinta, hanya sekedar karena aku seorang manusia yang terbiasa membaca ayat-ayatNya.
    Raihana tersenyum mengembang, hatiku menangisi kebohonganku dan kepura-puraanku. Tepat dua bulan Raihana kubawa ke kontrakan dipinggir kota Malang.

    Mulailah kehidupan hampa. Aku tak menemukan adanya gairah. Betapa susah hidup berkeluarga tanpa cinta. Makan, minum, tidur, dan shalat bersama dengan makhluk yang bernama Raihana, istriku, tapi Masya Allah bibit cintaku belum juga tumbuh. Suaranya yang lembut terasa hambar, wajahnya yang teduh tetap terasa asing. Memasuki bulan keempat, rasa muak hidup bersama Raihana mulai kurasakan, rasa ini muncul begitu saja. Aku mencoba membuang jauh-jauh rasa tidak baik ini, apalagi pada istri sendiri yang seharusnya kusayang dan kucintai. Sikapku pada Raihana mulai lain. Aku lebih banyak diam, acuh tak acuh, agak sinis, dan tidur pun lebih banyak di ruang tamu atau ruang kerja.

    Aku merasa hidupku ada lah sia-sia, belajar di luar negeri sia-sia, pernikahanku sia-sia, keberadaanku sia-sia.

    Tidak hanya aku yang tersiksa, Raihanapun merasakan hal yang sama, karena ia orang yang berpendidikan, maka diapun tanya, tetapi kujawab ” tidak apa-apa koq mbak, mungkin aku belum dewasa, mungkin masih harus belajar berumah tangga” Ada kekagetan yang kutangkap diwajah Raihana ketika kupanggil ‘mbak’, ” kenapa mas memanggilku mbak, aku kan istrimu, apa mas sudah tidak mencintaiku” tanyanya dengan guratan wajah yang sedih. “wallahu a’lam” jawabku sekenanya. Dengan mata berkaca-kaca Raihana diam menunduk, tak lama kemudian dia terisak-isak sambil memeluk kakiku, “Kalau mas tidak mencintaiku, tidak menerimaku sebagai istri kenapa mas ucapkan akad nikah?

    Kalau dalam tingkahku melayani mas masih ada yang kurang berkenan, kenapa mas tidak bilang dan menegurnya, kenapa mas diam saja, aku harus bersikap bagaimana untuk membahagiakan mas, kumohon bukalah sedikit hatimu untuk menjadi ruang bagi pengabdianku, bagi menyempurnakan ibadahku didunia ini”. Raihana mengiba penuh pasrah. Aku menangis menitikan air mata buka karena Raihana tetapi karena kepatunganku. Hari terus berjalan, tetapi komunikasi kami tidak berjalan. Kami hidup seperti orang asing tetapi Raihana tetap melayaniku menyiapkan segalanya untukku.

    Suatu sore aku pulang mengajar dan kehujanan, sampai dirumah habis maghrib, bibirku pucat, perutku belum kemasukkan apa-apa kecuali segelas kopi buatan Raihana tadi pagi, Memang aku berangkat pagi karena ada janji dengan teman. Raihana memandangiku dengan khawatir. “Mas tidak apa-apa” tanyanya dengan perasaan kuatir. “Mas mandi dengan air panas saja, aku sedang menggodoknya, lima menit lagi mendidih” lanjutnya. Aku melepas semua pakaian yang basah. “Mas airnya sudah siap” kata Raihana. Aku tak bicara sepatah katapun, aku langsung ke kamar mandi, aku lupa membawa handuk, tetapi Raihana telah berdiri didepan pintu membawa handuk. “Mas aku buatkan wedang jahe” Aku diam saja. Aku merasa mulas dan mual dalam perutku tak bisa kutahan.

    Dengan cepat aku berlari ke kamar mandi dan Raihana mengejarku dan memijit-mijit pundak dan tengkukku seperti yang dilakukan ibu. ” Mas masuk angin. Biasanya kalau masuk angin diobati pakai apa, pakai balsam, minyak putih, atau jamu?” Tanya Raihana sambil menuntunku ke kamar. “Mas jangan diam saja dong, aku kan tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk membantu Mas”. ” Biasanya dikerokin” jawabku lirih. ” Kalau begitu kaos mas dilepas ya, biar Hana kerokin” sahut Raihana sambil tangannya melepas kaosku. Aku seperti anak kecil yang dimanja ibunya. Raihana dengan sabar mengerokin punggungku dengan sentuhan tangannya yang halus. Setelah selesai dikerokin, Raihana membawakanku semangkok bubur kacang hijau. Setelah itu aku merebahkan diri di tempat tidur. Kulihat Raihana duduk di kursi tak jauh dari tempat tidur sambil menghafal Al Quran dengan khusyu. Aku kembali sedih dan ingin menangis, Raihana manis tapi tak semanis gadis-gadis mesir titisan Cleopatra.

    Dalam tidur aku bermimpi bertemu dengan Cleopatra, ia mengundangku untuk makan malam di istananya.” Aku punya keponakan namanya Mona Zaki, nanti akan aku perkenalkan denganmu” kata Ratu Cleopatra. ” Dia memintaku untuk mencarikannya seorang pangeran, aku melihatmu cocok dan berniat memperkenalkannya denganmu”. Aku mempersiapkan segalanya. Tepat puku 07.00 aku datang ke istana, kulihat Mona Zaki dengan pakaian pengantinnya, cantik sekali. Sang ratu mempersilakan aku duduk di kursi yang berhias berlian.

    Aku melangkah maju, belum sempat duduk, tiba-tiba ” Mas, bangun, sudah jam setengah empat, mas belum sholat Isya” kata Raihana membangunkanku. Aku terbangun dengan perasaan kecewa. ” Maafkan aku Mas, membuat Mas kurang suka, tetapi Mas belum sholat Isya” lirih Hana sambil melepas mukenanya, mungkin dia baru selesai sholat malam. Meskipun cuman mimpi tapi itu indah sekali, tapi sayang terputus. Aku jadi semakin tidak suka sama dia, dialah pemutus harapanku dan mimpi-mimpiku. Tapi apakah dia bersalah, bukankah dia berbuat baik membangunkanku untuk sholat Isya.

    Selanjutnya aku merasa sulit hidup bersama Raihana, aku tidak tahu dari mana sulitnya. Rasa tidak suka semakin menjadi-jadi. Aku benar-benar terpenjara dalam suasana konyol. Aku belum bisa menyukai Raihana. Aku sendiri belum pernah jatuh cinta, entah kenapa bisa dijajah pesona gadis-gadis titisan Cleopatra.

    ” Mas, nanti sore ada acara qiqah di rumah Yu Imah. Semua keluarga akan datang termasuk ibundamu. Kita diundang juga. Yuk, kita datang bareng, tidak enak kalau kita yang dieluk-elukan keluarga tidak datang” Suara lembut Raihana menyadarkan pengembaraanku pada Jaman Ibnu Hazm. Pelan-pelan ia letakkan nampan yang berisi onde-onde kesukaanku dan segelas wedang jahe.

    Tangannya yang halus agak gemetar. Aku dingin-dingin saja. ” Maaf..maaf jika mengganggu Mas, maafkan Hana,” lirihnya, lalu perlahan-lahan beranjak meninggalkan aku di ruang kerja. ” Mbak! Eh maaf, maksudku D..Din..Dinda Hana!, panggilku dengan suara parau tercekak dalam tenggorokan. ” Ya Mas!”
    sahut Hana langsung menghentikan langkahnya dan pelan-pelan menghadapkan dirinya padaku. Ia berusaha untuk tersenyum, agaknya ia bahagia dipanggil “dinda”. ” Matanya sedikit berbinar. “Te..terima kasih Di..dinda, kita berangkat bareng kesana, habis sholat dhuhur, insya Allah,” ucapku sambil menatap wajah Hana dengan senyum yang kupaksakan.

    Raihana menatapku dengan wajah sangat cerah, ada secercah senyum bersinar dibibirnya. ” Terima kasih Mas, Ibu kita pasti senang, mau pakai baju yang mana Mas, biar dinda siapkan? Atau biar dinda saja yang memilihkan ya?”.
    Hana begitu bahagia.

    Perempuan berjilbab ini memang luar biasa, Ia tetap sabar mencurahkan bakti meskipun aku dingin dan acuh tak acuh padanya selama ini. Aku belum pernah melihatnya memasang wajah masam atau tidak suka padaku. Kalau wajah sedihnya ya. Tapi wajah tidak sukanya belum pernah. Bah, lelaki macam apa aku ini, kutukku pada diriku sendiri. Aku memaki-maki diriku sendiri atas sikap dinginku selama ini., Tapi, setetes embun cinta yang kuharapkan membasahi hatiku tak juga turun. Kecantikan aura titisan Cleopatra itu? Bagaimana aku mengusirnya. Aku merasa menjadi orang yang paling membenci diriku sendiri di dunia ini.

    Acara pengajian dan qiqah putra ketiga Fatimah kakak sulung Raihana membawa sejarah baru lembaran pernikahan kami. Benar dugaan Raihana, kami dielu-elukan keluarga, disambut hangat, penuh cinta, dan penuh bangga. “

    Selamat datang pengantin baru! Selamat datang pasangan yang paling ideal dalam keluarga! Sambut Yu Imah disambut tepuk tangan bahagia mertua dan bundaku serta kerabat yang lain. Wajah Raihana cerah. Matanya berbinar-binar bahagia. Lain dengan aku, dalam hatiku menangis disebut pasangan ideal.

    Apanya yang ideal. Apa karena aku lulusan Mesir dan Raihana lulusan terbaik dikampusnya dan hafal Al Quran lantas disebut ideal? Ideal bagiku adalah seperti Ibnu Hazm dan istrinya, saling memiliki rasa cinta yang sampai pada pengorbanan satu sama lain. Rasa cinta yang tidak lagi memungkinkan adanya pengkhianatan. Rasa cinta yang dari detik ke detik meneteskan rasa bahagia.

    Tapi diriku? Aku belum bisa memiliki cinta seperti yang dimiliki Raihana.
    Sambutan sanak saudara pada kami benar-benar hangat. Aku dibuat kaget oleh sikap Raihana yang begitu kuat menjaga kewibawaanku di mata keluarga. Pada ibuku dan semuanya tidak pernah diceritakan, kecuali menyanjung kebaikanku sebagai seorang suami yang dicintainya. Bahkan ia mengaku bangga dan bahagia menjadi istriku. Aku sendiri dibuat pusing dengan sikapku. Lebih pusing lagi sikap ibuku dan mertuaku yang menyindir tentang keturunan. ” Sudah satu tahun putra sulungku menikah, koq belum ada tanda-tandanya ya, padahal aku ingin sekali menimang cucu” kata ibuku. ” Insya Allah tak lama lagi, ibu akan menimang cucu, doakanlah kami. Bukankah begitu, Mas?” sahut Raihana sambil menyikut lenganku, aku tergagap dan mengangguk sekenanya.

    Setelah peristiwa itu, aku mencoba bersikap bersahabat dengan Raihana. Aku berpura-pura kembali mesra dengannya, sebagai suami betulan. Jujur, aku hanya pura-pura. Sebab bukan atas dasar cinta, dan bukan kehendakku sendiri aku melakukannya, ini semua demi ibuku. Allah Maha Kuasa. Kepura-puraanku memuliakan Raihana sebagai seorang istri. Raihana hamil. Ia semakin manis.

    Keluarga bersuka cita semua. Namun hatiku menangis karena cinta tak kunjung tiba. Tuhan kasihanilah hamba, datangkanlah cinta itu segera. Sejak itu aku semakin sedih sehingga Raihana yang sedang hamil tidak kuperhatikan lagi. Setiap saat nuraniku bertanya” Mana tanggung jawabmu!” Aku hanya diam dan mendesah sedih. ” Entahlah, betapa sulit aku menemukan cinta” gumamku.

    Dan akhirnya datanglah hari itu, usia kehamilan Raihana memasuki bulan ke enam. Raihana minta ijin untuk tinggal bersama orang tuanya dengan alasan kesehatan. Kukabulkan permintaanya dan kuantarkan dia kerumahnya. Karena rumah mertua jauh dari kampus tempat aku mengajar, mertuaku tak menaruh curiga ketika aku harus tetap tinggal dikontrakan. Ketika aku pamitan, Raihana berpesan, ” Mas untuk menambah biaya kelahiran anak kita, tolong nanti cairkan tabunganku yang ada di ATM. Aku taruh dibawah bantal, no.pinnya sama dengan tanggal pernikahan kita”.

    Setelah Raihana tinggal bersama ibunya, aku sedikit lega. Setiap hari Aku tidak bertemu dengan orang yang membuatku tidak nyaman. Entah apa sebabnya bisa demikian. Hanya saja aku sedikit repot, harus menyiapkan segalanya.
    Tapi toh bukan masalah bagiku, karena aku sudah terbiasa saat kuliah di Mesir.

    Waktu terus berjalan, dan aku merasa enjoy tanpa Raihana. Suatu saat aku pulang kehujanan. Sampai rumah hari sudah petang, aku merasa tubuhku benar-benar lemas. Aku muntah-muntah, menggigil, kepala pusing dan perut mual. Saat itu terlintas dihati andaikan ada Raihana, dia pasti telah menyiapkan air panas, bubur kacang hijau, membantu mengobati masuk angin dengan mengeroki punggungku, lalu menyuruhku istirahat dan menutupi tubuhku dengan selimut. Malam itu aku benar-benar tersiksa dan menderita. Aku terbangun jam enam pagi. Badan sudah segar. Tapi ada penyesalan dalam hati, aku belum sholat Isya dan terlambat sholat subuh. Baru sedikit terasa, andaikan ada Raihana tentu aku ngak meninggalkan sholat Isya, dan tidak terlambat sholat subuh.

    Lintasan Raihana hilang seiring keberangkatan mengajar di kampus. Apalagi aku mendapat tugas dari universitas untuk mengikuti pelatihan mutu dosen mata kuliah bahasa arab. Diantaranya tutornya adalah professor bahasa arab dari Mesir. Aku jadi banyak berbincang dengan beliau tentang mesir. Dalam pelatihan aku juga berkenalan dengan Pak Qalyubi, seorang dosen bahasa arab dari Medan. Dia menempuh S1-nya di Mesir. Dia menceritakan satu pengalaman hidup yang menurutnya pahit dan terlanjur dijalani. “Apakah kamu sudah menikah?” kata Pak Qalyubi. “Alhamdulillah, sudah” jawabku. ” Dengan orang mana?. ” Orang Jawa”. ” Pasti orang yang baik ya. Iya kan? Biasanya pulang dari Mesir banyak saudara yang menawarkan untuk menikah dengan perempuan shalehah. Paling tidak santriwati, lulusan pesantren. Istrimu dari pesantren?”. “Pernah, alhamdulillah dia sarjana dan hafal Al Quran”. ” Kau sangat beruntung, tidak sepertiku”. ” Kenapa dengan Bapak?” ” Aku melakukan langkah yang salah, seandainya aku tidak menikah dengan orang Mesir itu, tentu batinku tidak merana seperti sekarang”. ” Bagaimana itu bisa terjadi?”. “

    Kamu tentu tahu kan gadis Mesir itu cantik-cantik, dank arena terpesona dengan kecantikanya saya menderita seperti ini. Ceritanya begini, Saya seorang anak tunggal dari seorang yang kaya, saya berangkat ke Mesir dengan biaya orang tua. Disana saya bersama kakak kelas namanya Fadhil, orang Medan juga. Seiring dengan berjalannya waktu, tahun pertama saya lulus dengan predkat jayyid, predikat yang cukup sulit bagi pelajar dari Indonesia.

    Demikian juga dengan tahun kedua. Karena prestasi saya, tuan rumah tempat saya tinggal menyukai saya. Saya dikenalkan dengan anak gadisnya yang bernama Yasmin. Dia tidak pakai jilbab. Pada pandangan pertama saya jatuh cinta, saya belum pernah melihat gadis secantuk itu. Saya bersumpah tidak akan menikaha dengan siapapun kecuali dia. Ternyata perasaan saya tidak bertepuk sebelah tangan. Kisah cinta saya didengar oleh Fadhil. Fadhil membuat garis tegas, akhiri hubungan dengan anak tuan rumah itu atau sekalian lanjutkan dengan menikahinya. Saya memilih yang kedua.

    Ketika saya menikahi Yasmin, banyak teman-teman yang memberi masukan begini, sama-sama menikah dengan gadis Mesir, kenapa tidak mencari mahasiswi Al Azhar yang hafal Al Quran, salehah, dan berjilbab. Itu lebih selamat dari pada dengan YAsmin yang awam pengetahuan agamanya. Tetpai saya tetap teguh untuk menikahinya. Dengan biaya yang tinggi saya berhasil menikahi YAsmin.
    Yasmin menuntut diberi sesuatu yang lebih dari gadis Mesir.

    Perabot rumah yang mewah, menginap di hotel berbintang. Begitu selesai S1 saya kembali ke Medan, saya minta agar asset yang di Mesir dijual untuk modal di Indonesia. KAmi langsung membeli rumah yang cukup mewah di kota Medan. Tahun-tahun pertama hidup kami berjalan baik, setiap tahunnya Yasmin mengajak ke Mesir menengok orang tuanya. Aku masih bisa memenuhi semua yang diinginkan YAsmin. Hidup terus berjalan, biaya hidup semakin nambah, anak kami yang ketiga lahir, tetapi pemasukan tidak bertambah. Saya minta YAsmin untuk berhemat. Tidak setiap tahun tetapi tiga tahun sekali YAsmin tidak bisa.

    Aku mati-matian berbisnis, demi keinginan Yasmin dan anak-anak terpenuhi.
    Sawah terakhir milik Ayah saya jual untuk modal. Dalam diri saya mulai muncul penyesalan. Setiap kali saya melihat teman-teman alumni Mesir yang hidup dengan tenang dan damai dengan istrinya. Bisa mengamalkan ilmu dan bisa berdakwah dengan baik. Dicintai masyarakat. Saya tidak mendapatkan apa yang mereka dapatkan. Jika saya pengin rending, saya harus ke warung. YAsmin tidak mau tahu dengan masakan Indonesia.

    Kau tahu sendiri, gadis Mesir biasanya memanggil suaminya dengan namanya.
    Jika ada sedikit letupan, maka rumah seperti neraka. Puncak penderitaan saya dimulai setahun yang lalu. Usaha saya bangkrut, saya minta YAsmin untuk menjual perhiasannya, tetapi dia tidak mau. Dia malah membandingkan dirinya yang hidup serba kurang dengan sepupunya. Sepupunya mendapat suami orang Mesir.

    Saya menyesal meletakkan kecantikan diatas segalanya. Saya telah diperbudak dengan kecantikannya. Mengetahui keadaan saya yang terjepit, ayah dan ibu mengalah. Mereka menjual rumah dan tanah, yang akhirnya mereka tinggal di ruko yang kecil dan sempit. Batin saya menangis. Mereka berharap modal itu cukup untuk merintis bisnis saya yang bangkrut. Bisnis saya mulai bangkit, Yasmin mulai berulah, dia mengajak ke Mesir. Waktu di Mesir itulah puncak tragedy yang menyakitkan. ” Aku menyesal menikah dengan orang Indonesia, aku minta kau ceraikan aku, aku tidak bisa bahagia kecuali dengan lelaki Mesir”.
    Kata Yasmin yang bagaikan geledek menyambar. Lalu tanpa dosa dia bercerita bahwa tadi di KBRI dia bertemu dengan temannya. Teman lamanya itu sudah jadi bisnisman, dan istrinya sudah meninggal.

    Yasmin diajak makan siang, dan dilanjutkan dengan perselingkuhan. Aku pukul dia karena tak bisa menahan diri. Atas tindakan itu saya dilaporkan ke polisi. Yang menyakitkan adalah tak satupun keluarganya yang membelaku.
    Rupanya selama ini Yasmin sering mengirim surat yang berisi berita bohong.
    Sejak saat itu saya mengalami depresi. Dua bulan yang lalu saya mendapat surat cerai dari Mesir sekaligus mendapat salinan surat nikah Yasmin dengan temannya. Hati saya sangat sakit, ketika si sulung menggigau meminta ibunya pulang”.

    Mendengar cerita Pak Qulyubi membuatku terisak-isak. Perjalanan hidupnya menyadarkanku. Aku teringat Raihana. Perlahan wajahnya terbayang dimataku, tak terasa sudah dua bualn aku berpisah dengannya. Tiba-tiba ada kerinduan yang menyelinap dihati. Dia istri yang sangat shalehah. Tidak pernah meminta apapun. Bahkan yang keluar adalah pengabdian dan pengorbanan. Hanya karena kemurahan Allah aku mendapatkan istri seperti dia. Meskipun hatiku belum terbuka lebar, tetapi wajah Raihana telah menyala didindingnya. Apa yang sedang dilakukan Raihana sekarang? Bagaimana kandungannya? Sudah delapan bulan. Sebentar lagi melahirkan. Aku jadi teringat pesannya. Dia ingin agar aku mencairkan tabungannya.

    Pulang dari pelatihan, aku menyempatkan ke took baju muslim, aku ingin membelikannya untuk Raihana, juga daster, dan pakaian bayi. Aku ingin memberikan kejutan, agar dia tersenyum menyambut kedatanganku. Aku tidak langsung ke rumah mertua, tetapi ke kontrakan untuk mengambil uang tabungan, yang disimpan dibawah bantal. Dibawah kasur itu kutemukan kertas Merah jambu. Hatiku berdesir, darahku terkesiap. Surat cinta siapa ini, rasanya aku belum pernah membuat surat cinta untuk istriku. Jangan-jangan ini surat cinta istriku dengan lelaki lain. Gila! Jangan-jangan istriku serong. Dengan rasa takut kubaca surat itu satu persatu. Dan Rabbi�?�ternyata surat-surat itu adalah ungkapan hati Raihana yang selama ini aku zhalimi. Ia menulis, betapa ia mati-matian mencintaiku, meredam rindunya akan belaianku. Ia menguatkan diri untuk menahan nestapa dan derita yang luar biasa. Hanya Allah lah tempat ia meratap melabuhkan dukanya. Dan ya .. Allah, ia tetap setia memanjatkan doa untuk kebaikan suaminya.
    Dan betapa dia ingin hadirnya cinta sejati dariku.

    “Rabbi dengan penuh kesyukuran, hamba bersimpuh dihadapan-Mu. Lakal hamdu ya Rabb. Telah muliakan hamba dengan Al Quran. Kalaulah bukan karena karunia-Mu yang agung ini, niscaya hamba sudah terperosok kedalam jurang kenistaan. Ya Rabbi, curahkan tambahan kesabaran dalam diri hamba” tulis Raihana.

    Dalam akhir tulisannya Raihana berdoa” Ya Allah inilah hamba-Mu yang kerdil penuh noda dan dosa kembali datang mengetuk pintumu, melabuhkan derita jiwa ini kehadirat-Mu. Ya Allah sudah tujuh bulan ini hamba-Mu ini hamil penuh derita dan kepayahan. Namun kenapa begitu tega suami hamba tak mempedulikanku dan menelantarkanku. Masih kurang apa rasa cinta hamba padanya. Masih kurang apa kesetiaanku padanya. Masih kurang apa baktiku padanya? Ya Allah, jika memang masih ada yang kurang, ilhamkanlah pada hamba-Mu ini cara berakhlak yang lebih mulia lagi pada suamiku.

    Ya Allah, dengan rahmatMu hamba mohon jangan murkai dia karena kelalaiannya.
    Cukup hamba saja yang menderita. Maafkanlah dia, dengan penuh cinta hamba masih tetap menyayanginya. Ya Allah berilah hamba kekuatan untuk tetap berbakti dan memuliakannya. Ya Allah, Engkau maha Tahu bahwa hamba sangat mencintainya karena-Mu. Sampaikanlah rasa cinta ini kepadanya dengan cara-Mu. Tegurlah dia dengan teguran-Mu. Ya Allah dengarkanlah doa hamba-Mu ini. Tiada Tuhan yang layak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau”.

    Tak terasa air mataku mengalir, dadaku terasa sesak oleh rasa haru yang luar biasa. Tangisku meledak. Dalam tangisku semua kebaikan Raihana terbayang. Wajahnya yang baby face dan teduh, pengorbanan dan pengabdiannya yang tiada putusnya, suaranya yang lembut, tanganya yang halus bersimpuh memeluk kakiku, semuanya terbayang mengalirkan perasaan haru dan cinta. Dalam keharuan terasa ada angina sejuk yang turun dari langit dan merasuk dalam jiwaku. Seketika itu pesona Cleopatra telah memudar berganti cinta Raihana yang datang di hati. Rasa sayang dan cinta pada Raihan tiba-tiba begitu kuat mengakar dalam hatiku. Cahaya Raihana terus berkilat-kilat dimata. Aku tiba-tiba begitu merindukannya. Segera kukejar waktu untuk membagi Cintaku dengan Raihana.

    Kukebut kendaraanku. Kupacu kencang seiring dengan air mataku yang menetes sepanjang jalan. Begitu sampai di halaman rumah mertua, nyaris tangisku meledak. Kutahan dengan nafas panjang dan kuusap air mataku. Melihat kedatanganku, ibu mertuaku memelukku dan menangis tersedu- sedu. Aku jadi heran dan ikut menangis. ” Mana Raihana Bu?”. Ibu mertua hanya menangis dan menangis. Aku terus bertanya apa sebenarnya yang telah terjadi.

    ” Raihanaï…istrimu. .istrimu dan anakmu yang dikandungnya” . ” Ada apa dengan dia”. ” Dia telah tiada”. ” Ibu berkata apa!”. ” Istrimu telah meninggal seminggu yang lalu. Dia terjatuh di kamar mandi. Kami membawanya ke rumah sakit. Dia dan bayinya tidak selamat. Sebelum meninggal, dia berpesan untuk memintakan maaf atas segala kekurangan dan kekhilafannya selama menyertaimu.

    Dia meminta maaf karena tidak bisa membuatmu bahagia. Dia meminta maaf telah dengan tidak sengaja membuatmu menderita. Dia minta kau meridhionya” .
    Hatiku bergetar hebat. ” kenapa ibu tidak memberi kabar padaku?”. “

    Ketika Raihana dibawa ke rumah sakit, aku telah mengutus seseorang untuk menjemputmu di rumah kontrakan, tapi kamu tidak ada. Dihubungi ke kampus katanya kamu sedang mengikuti pelatihan. Kami tidak ingin mengganggumu. Apalagi Raihana berpesan agar kami tidak mengganggu ketenanganmu selama pelatihan. Dan ketika Raihana meninggal kami sangat sedih, Jadi Maafkanlah kami”.

    Aku menangis tersedu-sedu. Hatiku pilu. Jiwaku remuk. Ketika aku merasakan cinta Raihana, dia telah tiada. Ketika aku ingin menebus dosaku, dia telah meninggalkanku. Ketika aku ingin memuliakannya dia telah tiada. Dia telah meninggalkan aku tanpa memberi kesempatan padaku untuk sekedar minta maaf dan tersenyum padanya. Tuhan telah menghukumku dengan penyesalan dan perasaan bersalah tiada terkira.

    Ibu mertua mengajakku ke sebuah gundukan tanah yang masih baru dikuburan pinggir desa. Diatas gundukan itu ada dua buah batu nisan. Nama dan hari wafat Raihana tertulis disana. Aku tak kuat menahan rasa cinta, haru, rindu dan penyesalan yang luar biasa. Aku ingin Raihana hidup kembali. Dunia tiba-tiba gelap semua ……..

    Sumber :
    Buku : Pudarnya Pesona Cleopatra ( Novel Psikologi Islam Pembangun Jiwa )
    Karangan : Habiburrahman El Shirazy ( Penulis Novel best seller Ayat-ayat cinta)

    http://www.dudung.net/