BERBAGI UNTUK MENGERTI

Aku Bisa Karena Engkau Ada

Tips Mengatasi Kebiasaan Mengompol pada Anak Mei 1, 2008

Diarsipkan di bawah: Parenting — masteja @ 4:10 am

Para ahli menganggap mengompol sebagai masalah hanya jika itu berlanjut melewati usia 5 tahun. Mengompol dialami kira-kira 1 dari 3 anak berusia 4 tahun dengan jumlah anak laki-laki lebih banyak daripada anak perempuan. Mengompol bahkan umum di antara anak-anak usia prasekolah yang sudah biasa mengendalikan kantung kemihnya pada siang hari, berbulan-bulan atau bertahun-tahun sebelumnya. Pada usia 6 tahun, 10% anak-anak belum juga lepas dari masalah ini. Diantara anak-anak berusia 10 tahun, lima persennya masih kesulitan untuk konsisten tidak mengompol.

 

 

Keturunan barangkali satu-satunya faktor paling penting dalam menentukan siapa yang mengompol. Jika salah satu orang tua biasa mengompol pada masa kecilnya, anak mempunyai 45% kesempatan mengalami masalah yang sama. Jika kedua orangtuanya dahulu biasa mengompol, 75% anak akan mengalami hal yang sama

Dahulu kebiasaan mengompol dianggap sebagai masalah psikologis. Namun sekarang diketahui bahwa faktor biologis memegang peranan lebih besar.

Beberapa faktor yang mungkin jadi penyebab :

  1. Kapasitas kandung kemih yang lebih kecil daripada rata-rata, sekalipun kandung kemih itu sendiri berukuran normal. Pada anak-anak seperti ini, sensasi ingin kencing terjadi lebih sering.
  2. Anak-anak yang sering mengompol mungkin tidur lebih nyenyak daripada anak yang bukan pengompol
  3. Lebih banyak menghasilkan urine daripada rata-rata anak karena produksi hormon antidiuretik (hormon yang mencegah pembentukan air seni)  yang tidak memadai.

Hai ini menjadi catatan penting bagi orang tua agar tidak menghukum, memarahi, atau mengolok-olok anak-anak yang sering mengompol. Bahkan hal itu akan memperparah situasi, karena harga diri anak jatuh dan anak akan kehilangan kepercayaan diri akan kemampuannya menghadapai masalah.

Tips untuk mengatasinya :

  1. Membatasi minum pada malam hari
  2. Menghindarkan anak mengkonsumsi coca-cola, teh, cocoa dan cokelat; karena semuanya mengandung kafein yang bersifat diuretik
  3. Jadwalkan pergi ke kamar mandi, sekali 30 menit sebelum waktu tidur, dan berikutnya tepat sebelum anak Anda diselimuti
  4. Pada siang hari bisa dilakukan ”latihan tidak mengompol”. Dr. Sheldon menjelaskan : ”Anak naik ke tempat tidur dan berpura-pura tidur. Setelah semenit, dia berpura-pura merasa ingin kencing, kemudian pura-pura bangun, turun dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi.” Tujuan pelatihan ini adalah mengakrabkan anak pada rutinitas meninggalkan tempat tidurnya, berjalan ke kamar mandi dan menggunakan toilet.
  1. Berikan pujian atau reward ketika anak berhasil tidak mengompol.
  2. Libatkan anak untuk membantu anda membersihkan tempat tidurnya, dalam suasana kerjasama yang baik, tanpa kemarahan.
  3. Jangan memperlakukan anak seperi bayi dengan memaksa dia mengenakan popokatau celana plastik, atau dengan tidak memperbolehkannya tidur di atas dipan biasa.

 

[umina_fatih, parentingislami.wordpress.com]

Sumber : Eberlein, Tamara. Selamat tidur, balitaku : kiat-kiat mengantar anak tidur lelap. Bandung: Kaifa, 2002

 

Pengalaman Mengamati Anak Belajar Bicara Mei 1, 2008

Diarsipkan di bawah: Parenting — masteja @ 4:08 am

Menyambung apa yang sudah disampaikan oleh saudari Endah Silawati dalam artikel “Bagaimana Membuat Anak Cerewet”, saya dan istri coba sharing sedikit pengalaman tentang Bagaimana Anak Belajar Bicara. Semoga bermanfaaat.

Dulu pertama kali si kecil berbicara, kata “Mama” yang pertama kali keluar dari mulut mungilnya. Kami begitu senang dan pengennya nunjukkin ke neneknya bahwa si kecil sudah berbicara “Mama”. Si Nenek senang sekali mendengarnya, karena dari dulu nenek pengennya memang dipanggil “Mama” oleh si kecil. Dan tentu saja, kakek si kecil tidak mau ketinggalan. Ketika si kecil di bawa ke sana, tak henti-hentinya si kakek mengajari si kecil mengucapkan kata “Papah” walaupun ternyata tidak mudah. Pada saat itu, kata “Papah” tidak keluar dari mulutnya. Setelah satu bulan kemudian kira-kira, baru kata “Papah” akhirnya keluar.

Setelah itu, si kecil semakin mahir berbicara. Pada umur 1 tahun 4 bulan, si kecil sudah memanggil kami “Bii.. Mi..”, dua bulan berikutnya, si kecil sudah bisa mengucapkan dua suku kata menjadi “Abi” dan “Umi” setelah kata “Abi” dan “Umi” selalu kami gunakan ketika kami berkomunikasi dengannya.

Kalau dimati sih, yang pertama, si kecil lebih mudah mengucapkan kata yang suku katanya berulang. Seperti misalnya “Mama”, “Papa”, “Kupu-Kupu”, “Pipi”, dsb. Sehingga biasanya kata-kata yang seperti itu yang pertama kali muncul dari si kecil.

Yang kedua, ternyata pada awal belajar, si kecil biasanya mengucapkan suku kata terakhirnya saja. Jadi kalau katanya adalah “Abi” maka yang pertama kali dia bisa sebutkan adalah “Bi”. Begitu juga untuk kata-kata yang panjang. Nah, sebagai orang tua, kami ingin sekali muncul kalimat thayyibah atau doa dari mulut si kecil. Kemudian, kami coba latih dengan pancingan kata. Misalnya ketika mau makan kami pancing dengan “Bismil??”, kemudian si kecil berkatan “ah”. Di lain waktu ketika selesai makan kami pancing “Alhamduli”, kemudian si kecil menjawab “ah”. Kami juga coba untuk membentuk konsep dirinya dengan pancingan kata yang lain misalnya “Aa Fatih anak Sho??”, kemudian dia menjawab “Leh”. “Aa Fatih anak Pin??”, dia jawab “Tang” dengan gaya cadelnya. Terus saja seperti itu, sedikit sedikit, alhamdulillah si kecil bisa mengucapkan kata yang lebih kompleks. Sekarang, sekali dicontohin, si kecil langsung bisa menyebutkan suku kata terakhirnya, bahkan katanya secara utuh.Dan sekarang si kecil sudah bisa membentuk suatu kalimat sederhana, “Aa Jatoh, sakit”, celotehnya ketika dia terjatuh.

Yang ketiga, walaupun si kecil belum mampu mengucapkan kata, tapi sering kali dia tahu apa yang kita maksud. Ketika saya tanya, “meja yang mana Aa?”, dia bisa menunjukkan benda yang kami maksud walaupun pada saat itu si kecil belum bisa mengucapkannya.

Yang keempat, konsistensi penyebutan kata-kata sangat penting untuk memudahkan si kecil belajar bicara dan mengingatnya. Kata pertama yang kita ucapkan untuk memperkenalkan suatu benda, pekerjaan, sifat pada si kecil, itu yang akan diingatnya. Misalnya sampai sekarang si kecil menyebut aktivitas sholat dengan “Aoh”. Di sudah mengasosiasikan aktivitas tersebut dengan sebuah kata tertentu.

Yang kelima, suatu saat saya mencoba untuk mengajari si kecil mengucapkan “Allahu akbar”. Ternyata susah sekali. Sampai akhirnya saya coba mengucapkannya sambil menggerakan tangan seperti orang sedang takbiratul ihrom. Ternyata berhasil. Si kecil bisa mengucapkan “Allahu akbar”. Alhamdulillah

Yang keenam, kami menyimpulkan anak adalah peniru luar biasa. Apapun dia tiru. Termasuk masalah ucapan. Baik ataupun buruk kata yang sering diperdengarkan oleh orang-orang di sekitarnya, kira-kira seperti itu pula kata yang akan si kecil sebutkan. Jika tante si kecil adalah anak “ABG” seumuran SMA atau kuliahan, maka jangan heran kalau tiba-tiba si kecil berkata “Cape Deeehhh”.

[deFatih & umina_fatih,   http://parentingislami.wordpress.com]

 

My True Love Mei 1, 2008

Diarsipkan di bawah: Parenting — masteja @ 4:07 am

Ditulis pada oleh parentingislami

Tanpa kita sadari kita hidup dalam dunia yang miskin cinta hakiki. Cinta menjadi sesuatu yang terlalu sederhana hingga hanya terukur materi dan kehormatan. Cinta tak lagi suci, terlebih terhadap sesama. Namun sungguh, ada cinta yang luar biasa, bagaikan mutiara dari dasar lautan yang begitu bercahaya. Yang menanti setiap hati yang bening untuk mampu memilikinya.
“ ….adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah….” ( Q.S 2 : 165 )

Seorang ulama besar bernama Dr. Yusuf Qhardawi menuliskan dalam bukunya, saudaraku, cinta pada Alloh dan RasulNya ialah cinta yang seharusnya kita perjuangkan dalam hidup kita. Seharusnya kehidupan kita sebagai seorang muslim dijadikan sebagai kumpulan dari lembaran-lembaran ekspresi cinta yang tercatat pada setiap waktu yang kita habiskan.

Pengorbanan dalam cinta adalah sesuatu yang wajar. Harta dan jiwa raga serta segala macam pengorbanan menjadi konsekuensi yang logis bagi orang yang sudah gila cinta. Sahabat, karena itulah , besar dan kecilnya pengorbanan seorang mukmin juga menjadi tolak ukur seberapa besar cinta dan keimanan kepada Allah dan RasulNya.

Mungkin kita telah begitu sering mengkhianati cinta pada Allah dan Rasulullah, hingga pandangan manusia seringkali menjadi tujuan akhir kita. Sahabat, berapa banyak waktu kita yang terbuang untuk mencari cinta lain yang melenakan dan melalaikan ? Marilah bermuhasabah dan bercermin dari cinta-cinta para sahabat. Sungguh dalam satu qolbu tak ada dua cinta.

Sahabat, Rasulullah bersabda,” sesungguhnya seseorang itu bersama yang dicintainya.” Maka mengapa masih tergoda cinta lain. Yakinlah, ada cinta dalam hatimu. Cinta Ilahi. Siramilah dengan keimanan dan ketaqwaan agar cinta itu terus berkembang hingga masa perjumpaan dengan Sang Kekasih.

Jangan terlena apalagi tertipu, cinta semu yang tak abadi. Karena kau mutiara, raihlah cinta hakiki yang terang dan bercahaya, bukan cinta buta yang menyesatkan. Wallahualam bishawab.

( Azsya / dr. Anita Asmara  http://parentingislami.wordpress.com)

 

Belajarnya Anak ya.. Bermain Mei 1, 2008

Diarsipkan di bawah: Parenting — masteja @ 4:06 am

Sekilas tentang hakikat pendidikan anak

(Bagian Pertama)

Seorang guru Play Group dalam rapat harian melaporkan pada kepala sekolah, “bu kepala, tolong dalam pertemuan orang tua nanti, dibahas tentang hakikat pendidikan pra sekolah ya, terutama difahamkan pada ibu-ibunya. Saya sering melihat salah seorang ibu yang memaksa bahkan mencubit anaknya karena tidak mau terlibat dalam pembelajaran dan asyik bermain balok.”

 

Seorang guru lain menambahkan,”iya bu, sepertinya harus segera di jelaskan. Ada kasus lain lagi bu, ketika saya menanyakan pada mama Arif kenapa Arif tidak bisa ikut tamasya minggu depan, alasannya, karena Arif ikut les privat membaca dan matematika.”

 

Cerita di atas adalah sebuah realita di sekitar kita. Bahkan mungkin sebenarnya lebih parah dari itu. Jika pada cerita tersebut sepertinya kedua guru sudah memahami hakikat pendidikan anak usia dini, bisa jadi pada kenyataannya masih banyak para pendidik anak usia dini sendiri yang belum faham tentang hakikat pendidikan anak usia dini. Terlebih lagi para orang tua yang tidak memiliki latar belakang keilmuan tentang pendidikan anak usia dini. Kebanyakan mereka terlalu memaksakan anaknya untuk ”belajar” sesuatu dengan metoda konvensional yang diterapkan untuk orang dewasa saja sudah tidak efektif lagi. Duduk, diam, dengarkan, tulis dan bacakan kembali, itulah yang dikatakan sebagai belajar. Jika diterapkan pada orang dewasa mungkin mereka mampu protes dan menuntut tehnik pembelajaran lain yang lebih menarik. Tapi apa daya anak-anak, mereka tidak bisa melawan. Apalagi dengan ancaman cubitan atau bahkan pululan.

 

Sebuah Teori Tabularasa memang menyatakan bahwa anak-anak diibaratkan seperti kertas kosong yang bisa diisi apapun. Ya, memang benar, demikian luar biasanya anak-anak, sampai-sampai mereka bisa menghafal banyak hal di luar kepala. Dengan asumsi tersebut, beramai-ramailah orang tua mengisi kertas kosong tersebut. Dan akhirnya, anak-anak pun tumbuh seperti kertas berisi berbagai ilmu yang kumpulannya bisa membentuk sebuah buku. Mungkin terlihat tebal dan pintar. Tapi kaku dan pasif. Tak bisa bergerak dan berbuat.

 

Bukan wahai para orang tua, mereka bukanlah kertas. Mereka bukan pembelajar pasif. Tapi mereka pembelajar aktif. Tahukah wahai para orang tua, banyak teori belajar lain yang lebih moderen telah dilahirkan. Teori konstruktivisme menyatakan bahwa anak adalah pembelajar aktif. Setiap pori-pori tubuh mereka menyerap apa yang mereka lihat, dengar, sentuh, dan apapun yang berinteraksi dengan mereka. Hebatnya lagi, mereka menganalisis dari setiap interaksi mereka dengan lingkungannya. Tapi sayang, kehebatan itu kita sia-siakan. Kita patahkan dengan tehnik belajar yang tidak sesuai. Mereka kita bentuk, bukan kita arahkan. Mereka kita isi, bukan kita fasilitasi. Strategi belajar terbaik bagi mereka adalah adalah apa yang kita namakan dengan bermain. Bukan duduk, diam, dengarkan dan hafalkan.

 

Orang tua pasti bangga ketika anaknya yang masih usia TK sudah bisa membaca dan berhitung. Orang tua pasti semakin bangga ketika anaknya yang masih kecil itu bisa menghafal berbagai kosa kata dalam bahasa Inggris. Orang tua pasti lebih bangga lagi jika memiliki anak yang selalu menurut ketika di suruh duduk di meja belajar menghafalkan segala sesuatu yang dianggap perlu. Mengikuti berbagai les yang melelahkan. Tapi tahukah anda wahai para orang tua, bahwa kebanggaan anda, bahwa kebahagiaan anda sungguh membuat anak-anak anda menderita!

Orang tua pasti jengkel ketika ada anaknya yang aktif bergerak, menaiki meja, memegangi benda yang menarik dan baru dilihatnya, menggigit dan mengulumnya atau membongkar mainan yang baru di beli. Orang tua pasti semakin jengkel ketika ada anaknya yang menggambar tidak sesuai dengan perintah ibu gurunya. Orang tua pasti sangat jengkel ketika ada anaknya yang terus menerus bertanya tentang sesuatu yang dia lihat. Orang tua pasti lebih jengkel lagi ketika rumah berantakan setelah anaknya dan teman-temannya bermain dokter-dokteran. Orang tua pasti sangat lebih jengkel lagi ketika anaknya lebih asyik bermain galah di lapangan atau sekedar bermain sepak bola dari pada duduk di meja belajar dan membaca. Tapi tahukah anda wahai para orang tua bahwa seharusnya anda berbahagia karena anak anda bahagia dan karena kelak dia akan tumbuh menjadi individu yang kreatif dan cerdas. Karena sesungguhnya ketika dia sedang membuat anda jengkel, dia sedang belajar. Sebenar-benarnya makna belajar bagi dia.

 

Bersambung…………….

[Endah]

 

Aspek Perkembangan Motorik dan Keterhubungannya dengan Aspek Fisik dan Intelektual Anak (part 2) Mei 1, 2008

Diarsipkan di bawah: Parenting — masteja @ 4:04 am

B. Urgensi Perkembangan Motorik Anak

Perkembangan motorik merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam perkembangan individu secara keseluruhan. Beberapa pengaruh perkembangan motorik terhadap konstelasi perkembangan individu dipaparkan oleh Hurlock (1996) sebagai berikut:

<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>Melalui keterampilan motorik, anak dapat menghibur dirinya dan memperoleh perasaan senang. Seperti anak merasa senang dengan memiliki keterampilan memainkan boneka, melempar dan menangkap bola atau memainkan alat-alat mainan.

<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>Melalui keterampilan motorik, anak dapat beranjak dari kondisi tidak berdaya pada bulan-bulan pertama dalam kehidupannya, ke kondisi yang independent. Anak dapat bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya dan dapat berbuat sendiri untuk dirinya. Kondisi ini akan menunjang perkembangan rasa percaya diri.

<!–[if !supportLists]–>c. <!–[endif]–><!–[if !supportLists]–>Melalui perkembangan motorik, anak dapat menyesuaikan dirinya dengan lingkungan sekolah. Pada usia prasekolah atau usia kelas-kelas awal Sekolah Dasar, anak sudah dapat dilatih menulis, menggambar, melukis, dan baris-berbaris.

d. <!–[endif]–>Melalui perkembangan motorik yang normal memungkinkan anak dapat bermain atau bergaul dengan teman sebayannya, sedangkan yang tidak normal akan menghambat anak untuk dapat bergaul dengan teman sebayanya bahkan dia akan terkucilkankan atau menjadi anak yang fringer (terpinggirkan)

<!–[if !supportLists]–>e. <!–[endif]–>Perkembangan keterampilan motorik sangat penting bagi perkembangan self-concept atau kepribadian anak.

 

 

 

 

Stimulasi yang bisa diberikan unruk mengoptimalkan perkembangan motorik anak adalah:

  1. Dasar-dasar keterampilan untuk menulis (huruf arab dan latin) dan menggambar.
  2. Keterampilan berolah raga (seperti senam) atau menggunakan alat-alat olah raga.
  3. Gerakan-gerakan permainan, seperti meloncat, memanjat dan berlari.
  4. Baris-berbaris secara sederhana untuk menanamkan kebiasaan kedisiplinan dan ketertiban.
  5. Gerakan-gerakan ibadah shalat

 

 

Perkembangan motorik anak akan lebih teroptimalkan jika lingkungan tempat tumbuh kembang anak mendukung mereka untuk bergerak bebas. Kegiatan di luar ruangan bisa menjadi pilihan yang terbaik karena dapat menstimulasi perkembangan otot (CRI, 1997). Jika kegiatan anak di dalam ruangan, pemaksimalan ruangan bisa dijadikan strategi untuk menyediakan ruang gerak yang bebas bagi anak untuk berlari, berlompat dan menggerakan seluruh tubuhnya dengan cara-cara yang tidak terbatas. Selain itu, penyediaan peralatan bermain di luar ruangan bisa mendorong anak untuk memanjat, koordinasi dan pengembangan kekuatan tubuh bagian atas dan juga bagian bawah. Stimulasi-stimulasi tersebut akan membantu pengoptimalan motorik kasar. Sedangkan kekuatan fisik, koordinasi, keseimbangan dan stamina secara perlahan-lahan dikembangkan dengan latihan sehari-hari. Lingkungan luar ruangan tempat yang baik bagi anak untuk membangun semua keterampilan ini.

 

Kemampuan motorik halus bisa dikembangkan dengan cara anak-anak menggali pasir dan tanah, menuangkan air, mengambil dan mengumpulkan batu-batu, dedaunan atau benda-benda kecil lainnya dan bermain permainan di luar ruangan seperti kelereng. Pengembangan motorik halus ini merupakan modal dasar anak untuk menulis.

 

Keterampilan fisik yang dibutuhkan anak untuk kegiatan serta aktifitas olah raga bisa dipelajari dan dilatih di masa-masa awal perkembangan. Sangat penting untuk mempelajari keterampilan ini dengan suasana yang menyenangkan, tidak berkompetisi agar anak-anak mempelajari olah raga dengan senang dan merasa nyaman untuk ikut berpartisipasi. Hindari permainan di mana seseorang atau sekelompok orang menang dan kelompok lain kalah. Anak-anak yang secara terus menerus kalah dalam sebuah permainan memiliki kecenderungan merasa kurang percaya akan kemampuannya dan akan berkenti berpartisipasi. Tujuan pendidikan fisik untuk anak-anak yang masih kecil adalah untuk mengembangkan keterampilan dan ketertarikan fisik jangka panjang (CRI, 1997).

 

Perkembangan motorik berbeda tingkatannya pada setiap individu. Anak usia empat tahun bisa dengan mudah menggunakan gunting sementara yang lainnya mungkin akan bisa setelah berusia lima atau enam tahun. Anak tertentu mungkin akan bisa melopmat dan menangkap bola dengan mudah sementara yang lainnya mungkin hanya bisa menangkap bola yang besar atau berguling-guling. Dalam hal ini orang tua dan orang dewasa di sekitar anak harus mengamati tingkat perkembangan anak-anak dan merencanakan berbagai kegiatan yang bisa menstimulainya.

Menurut dr. Karel A.L. Staa, M.D olah raga memberi manfaat bagi perkembangan motorik anak. Selain untuk perkembangan fisiknya, olahraga juga amat baik untuk perkembangan otak serta psikologis anak. Mengikutkan anak pada kelompok olahraga akan meningkatkan kesehatan fisik, psikologis serta psikososialnya. Anak menjadi senang mendapat stimulasi kreativitas yang baik untuk perkembangannya.

Selain berbagai kegiatan stimulai, hal lain yang mempengaruhi perkembangan motorik anak adalah gizi anak. Banyak penelitian yang menerangkan tentang pengaruh gizi terhadap kecerdasan serta perkembangan motorik kasar. Levitsky dan Strupp pada penelitiannya terhadap tikus mengungkapkan bahwa kurang gizi menyebabkan functional isolationism ‘isolasi diri’ yaitu mempertahankan untuk tidak mengeluarkan energi yang banyak (conserve energy) dengan mengurangi kegiatan interaksi sosial, aktivitas, perilaku eksploratori, perhatian, dan motivasi. Aplikasi teori ini kepada manusia adalah bahwa pada keadaan kurang energi dan potein (KEP), anak menjadi tidak aktif, apatis, pasif, dan tidak mampu berkonsentrasi. Akibatnya, anak dalam melakukan kegiatan eksplorasi lingkungan fisik di sekitarnya hanya mampu sebentar saja dibandingkan dengan anak yang gizinya baik, yang mampu melakukannya dalam waktu yang lebih lama. Model functional isolationism yang dilukiskan ini sama dengan teori sebelumnya bahwa aspek-aspek essensial dan universal untuk perkembangan kognitif ditekan oleh mekanisme penurunan aktivitas pada keadaan kurang gizi.

Untuk melakukan suatu aktivitas motorik, dibutuhkan ketersediaan energi yang cukup banyak. Tengkurap, merangkak, berdiri, berjalan, dan berlari melibatkan suatu mekanisme yang mengeluarkan energi yang tinggi, sehingga yang menderita KEP (Kurang Energi Protein) biasanya selalu terlambat dalam perkembangan motor milestone. Sebagai contoh, pada anak usia muda, komposisi serat otot yang terlibat dalam pergerakan kontraksi kurang berkembang pada anak yang kurang gizi. Keadaan ini juga berpengaruh terhadap pertumbuhan tulang sehingga terjadi pertumbuhan badan yang terlambat3.

Tengkurap, merangkak, dan berjalan menurunkan ketergantungan atau kontak yang terus-menerus dengan pengasuhnya. Keadaan ini berpengaruh nyata terhadap mekanisme self-regulatory, sehingga anak menjadi lebih bersosialisasi dan ramah dengan lingkungannya. Sebaliknya, bila terjadi keterlambatan dalam locomotion dan perkembangan motorik akan merusak akses terhadap sumber-sumber eksternal yang berpengaruh kurang baik terhadap regulasi emosional, sehingga akan mengakibatkan terhambatnya perkembangan kecerdasan anak. Sehubungan dengan hal tersebut di atas, telah dilakukan penelitian di daerah Jawa Barat yang dilakukan Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi, Bogor dan University of California, Davis, USA untuk dapat menerangkan tentang bagaimana mekanisme gizi berpengaruh terhadap perkembangan kecerdasan anak. Sebanyak tidak kurang dari 17 buah makalah ilmiah dan hasil penelitian ini telah diterbitkan di dalam beberapa jurnal di luar negeri.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa anak-anak yang di usia awalnya mendapat makanan suplemen, pada 8 tahun kemudian nilai tes intelektualnya lebih baik dari pada anak yang tidak mendapatkan suplemen. Sesudah memperhitungkan faktor confounder peneliti berkesimpulan bahwa suplemen makanan pada waktu bayi adalah faktor yang menyebabkan perbedaan. Hasil penemuan ini mendemonstrasikan bahwa suplemen makanan selama tiga bulan pada waktu bayi berumur kurang dari 18 bulan membawa keuntungan yang nyata terhadap kecerdasan anak sampai 8 tahun kemudian. Sedangkan terhadap anak yang berumur lebih dari 18 bulan yang sekarang berumur antara 10–12 tahun, keuntungan tersebut tidak nyata. Hasil penelitian tersebut pun menghasilkan suatu dugaan bahwa perkembangan neurologi sebelum berumur 18 bulan berhubungan erat dengan defisiensi gizi yang dapat bersifat permanen. Umur 18 bulan dari hasil penelitian ini dapat merupakan batas atau cut off point. Hasil-hasil penelitian pada tikus menunjukkan bahwa gizi kurang dapat berakibat defisit myelinisasi pada otak yang irreversibel. Pada tikus, masa-masa kritis terjadi pada saat umur 8–14 hari, dan berdasarkan periode puncak pertumbuhan maka pada manusia dapat terjadi pada usia 6–18 bulan15. Sehubungan dengan hal tersebut, maka bayi kurang gizi yang tidak mendapat suplemen diduga mengalami defisit myelinisasi. Artinya terjadi kesulitan dalam menghantarkan informasi dari satu neuron ke neuron yang lain dan mengakibatkan intelektual anak rendah. Hal ini pun pada akhirnya mempengaruhi perkembangan motorik anak. Refleks anak terhadap lingkungannya akan terhambat.

Data hasil penelitian kroseksional tersebut tidak merupakan data yang representatif dari perubahan dalam diri seorang anak. Walaupun dalam banyak hal perkembangan motorik milestone tidak selamanya mengikuti suatu perubahan kronologi yang ketat, data dari hasil penelitian tersebut dapat dipergunakan sebagai dasar untuk mengestimasi perkembangan motorik pada umur anak tertentu.

Apabila dibandingkan dengan negara-negara Barat, maka perkembangan motorik milestone pada anak Indonesia tergolong rendah. Di Amerika, anak mulai berjalan pada umur 11,4–12,4 bulan11, dan anak-anak di Eropa antara 12,4–13,6 bulan12. Sedangkan di Indonesia, pada sampel yang diteliti adalah 14,02 bulan. Informasi yang cukup untuk menerangkan perbedaan tersebut belum ada, namun besar kemungkinan bahwa faktor gizi, pola pengasuhan anak, dan lingkungan ikut berperanan. Penjabaran tersebut di atas, menghasilkan suatu kesimpulan bahwa pember ian stumulasi untuk mengembangkan kemampuan motorik merupakan hal yang urgen atau penting.

Bagaimanakah Perkembangan Motorik Usia 3-5 tahun ??

bersambung…

[Endah]

 

C. Deskripsi Perkembangan Motorik Usia 3-5 tahun (1) Mei 1, 2008

Diarsipkan di bawah: Parenting — masteja @ 4:03 am

<!–[if !supportLists]–>I. <!–[endif]–>PENDAHULUAN

Pembentukan kualitas SDM yang optimal, baik sehat secara fisik maupaun psikologis sangat bergantung dari proses tumbuh dan kembang pada usia dini. Perkembangan anak adalah segala perubahan yang terjadi pada anak yang meliputi seluruh perubahan, baik perubahan fisik, perkembangan kognitif, emosi, maupun perkembangan psikososial yang terjadi dalam usia anak (infancytoddlerhood di usia 0 ­ – 3 tahun, early childhood usia 3 ­ – 6 tahun, dan middle childhood usia 6-11 tahun). Masing-masing aspek tersebut memiliki tahapan-tahapan sendiri. Pada usia 1 bulan, misalnya pada aspek motorik kasarnya, anak sudah bisa menggerakkan tangan dan kakinya.

Masa balita adalah masa emas (golden age) dalam rentang perkembangan seorang individu. Pada masa ini, anak mengalami tumbuh kembang yang luar biasa, baik dari segi fisik motorik, emosi, kognitif maupun psikososial. Perkembangan anak berlangsung dalam proses yang holistic atau menyeluruh. Karena itu pemberian stimulasinya pun perlu berlangsung dalam kegiatan yang holistik.

Demikian pun dalam kaitan dengan kecerdasan motorik anak, tentu saja dipengaruhi oleh aspek perkembangan yang lainnya, terutama dengan kaitan fisik dan intelektual anak. Dalam makalah ini akan coba di paparkan apa yang dimaksud dengan kecerdasan motorik, pentingnya perkembangan motorik anak, bagaimana proses perkembangan motorik anak pada usia middle age atau anak anak ( 3 – 5) tahun dan stimulasi apa saja yang bisa diberikan untuk mengoptimalkan perkembangan motorik anak usia 3 – 5 tahun.

<!–[if !supportLists]–>II. <!–[endif]–>PEMBAHASAN

<!–[if !supportLists]–>A. <!–[endif]–>Berbagai Pandangan Mengenai Perkembangan Motorik Anak


Fisik atau tubuh manusia merupakan system organ yang komples dan sangat mengagumkan. Semua organ ini terbentuk pada periode prenatal (dalam kandungan). Kuhlen dan Thomshon. 1956 (Yusuf, 2002) mengemukakan bahwa perkembangan fisik individu meliputi empat aspek, yaitu (1) system syaraf yang sangat mempengaruhi perkembangan kecerdasan dan emosi; (2) otot-otot yang mempengaruhi perkembangan kekuatan dan kemampuan motorik; (3) kelenjar endokrin, yang menyebabkan munculnya pola-pola tingkah laku baru, seperti pada remaja berkembang perasaan senang untuk aktif dalam suatu kegiatan yang sebagian anggotanya terdiri atas lawan jenis; dan (4) struktur fisik/tubuh yang meliputi tinggi, berat dan proposi.

Usia emas dalam perkembangan motorik adalah middle childhood atau masa anak-anak, seperti yang diungkapkan Petterson (1996)

During middle childhood, the body and brain undergo important growth changes, leading to better motor coordinator, greater strength and more skilfull problem-solving. Health and nutrition play an important part in these biological developments.

Pada usia ini, kesehatan fisik anak mulai stabil. Anak tidak mengalami sakit seperti uasia sebelumnya. Hal ini menyebabkan perkembangan fisik jadi lebih maskimal dari pada usia sebelumnya.

The period of middle childhood, from age six to age twelve is, also remarkably free from desease. The average child suffers fewer bouts of illness than during the years before school entry, and the risk of death for a contemporary Australian or New Zealand child is lower than at any earlier or later period during the life span. (Petterson, 1996)

Perkembangan fisik sangat berkaitan erat dengan perkembangan motorik anak. Motorik merupakan perkembangan pengendalian gerakan tubuh melalui kegiatan yang terkoordinir antara susunan saraf, otot, otak, dan spinal cord. Perkembangan motorik meliputi motorik kasar dan halus. Motorik kasar adalah gerakan tubuh yang menggunakan otot-otot besar atau sebagian besar atau seluruh anggota tubuh yang dipengaruhi oleh kematangan anak itu sendiri. Contohnya kemampuan duduk, menendang, berlari, naik-turun tangga dan sebagainya.
Sedangkan motorik halus adalah gerakan yang menggunakan otot-otot halus atau sebagian anggota tubuh tertentu, yang dipengaruhi oleh kesempatan untuk belajar dan berlatih. Misalnya, kemampuan memindahkan benda dari tangan, mencoret-coret, menyusun balok, menggunting, menulis dan sebagainya. Kedua kemampuan tersebut sangat penting agar anak bisa berkembang dengan optimal. .
<!–[if !supportLineBreakNewLine]–><!–[endif]–>

Perkembangan motorik sangat dipengaruhi oleh organ otak. Otak lah yang mensetir setiap gerakan yang dilakukan anak.Semakin matangnya perkembangan system syaraf otak yang mengatur otot m,emungkinkan berkembangnya kompetensi atau kemampuan motorik anak. Perkembangan motorik anak dibagi menjadi dua:

  1. Keterampilan atau gerakan kasar seperti berjalan, berlari, mmelompat, naik turun tangga.
  2. Keterampilan motorik halus atau keterampilan manipulasi seperti menulis, menggambar, memotong, melempar dan menagkap bola serta memainkan benda-benda atau alat-alat mainan (Curtis,1998; Hurlock, 1957 dalam Yusuf 2002)

Perkembangan motorik berbeda dari setiap individu, ada orang yang perkembangan motoriknya sangat baik, seperti para atlit, ada juga yang tidak seperti orang yang memiliki keterbatasan fisik. Gender pun memiliki pengaruh dalam hal ini, sesuai dengan pendapat Sherman (1973) yang menyatakan bahwa anak perempuan pada usia middle childhood kelenturan fisiknya 5 %- 10 % lebih baik dari pada anak laki-laki, tapi kemampuan fisik atletis seperti lari, melompat dan melempar lebih tinggi pada anak laku-laki dari pada perempuan.

Perkembangan motorik beriringan dengan proses pertumbuhan secara genetis atau kematangan fisik anak, Motor development comes about through the unfolding of a genetic plan or maturation (Gesell, 1934 dalam Santrock, 2007). Anak usia 5 bulan tentu saja tidak akan bisa langsung berjalan. Dengan kata lain, ada tahapan-tahapan umum tertentu yang berproses sesuai dengan kematangan fisik anak.

Teori yang menjelaskan secara detai tentang sistematika motorik anak adalah Dynamic System Theory yang dikembangkan Thelen & whiteneyerr. Teori tersebut mengungkapkan bahwa untuk membangun kemampuan motorik anak harus mempersepsikan sesuatu di lingkungannya yang memotivasi mereka untuk melakukan sesuatu dan menggunakan persepsi mereka tersebut untuk bergerak. Kemampuan motorik merepresentasikan keinginan anak. Misalnnya ketika anak melihat mainan dengan beraneka ragam, anak mempersepsikan dalam otaknnya bahwa dia ingin memainkannya. Persepsi tersebut memotivasi anak untuk melakukan sesuatu, yaitu bergerak untuk mengambilnya. Akibat gerakan tersebut, anak berhasil mendapatkan apa yang di tujunya yaitu mengambil mainan yang menarik baginya.

“…….to develop motor skill, infants must perceive something in the environment that motivates them to act and use their perceptions to fine-tune their movement. Motor skills represent solutions to the infant’s goal.”

Teori tersebut pun menjelaskan bahwa ketika bayi di motivasi untuk melakukan sesuatu, mereka dapat menciptakan kemampuan motorik yang baru, kemampuan baru tersebut merupakan hasil dari banyak factor, yaitu perkembangan system syaraf, kemampuan fisik yang memungkinkannya untuk bergerak, keinginan anak yang memotivasinya untuk bergerak, dan lingkungan yang mendukung pemerolehan kemampuan motorik. Misalnya, anak akan mulai berjalan jika system syarafnya sudah matang, proposi kaki cukup kuat menopang tubuhnya dan anak sendiri ingin berjalan untuk mengambil mainannya.

Selain berkaitan erat dengan fisik dan intelektual anak, kemampuan motorik pun berhubungan dengan aspek psikologis anak. Damon & Hart, 1982 (Petterson 1996) menyatakan bahwa kemampuan fisik berkaitan erat dengan self-image anak. Anak yang memiliki kemampuan fisik yang lebih baik di bidang olah raga akan menyebabkan dia dihargai teman-temannya. Hal tersebut juga seiring dengan hasil penelitian yang dilakukan Ellerman, 1980 (Peterson, 1996) bahwa kemampuan motorik yang baik berhubungan erat dengan self-esteem.

besambung…

[Endah]

 

Aspek Perkembangan Motorik dan Keterhubungannya dengan Aspek Fisik dan Intelektual Anak (tamat) Mei 1, 2008

Diarsipkan di bawah: Parenting — masteja @ 4:02 am

C. Deskripsi Perkembangan Motorik Usia 3-5 tahun

Tim penulis CRI (1997) menjelaskan bahwa anak usia 3 tahun memiliki kekuatan fisik yang mulai berkembang, tapi rentang konsentrasinya pendek, cenderung berpindah-pindah dari satu kegiatan ke kegiatan yang lain. Meskipun memiliki rentang konsentrasi yang relatif pendek, mereka menjadi ahli pemecah masalah dan dapat memusatkan perhatian untuk suatu periode yang cukup lama jika topik yang diajarkan menarik bagi mereka. Permainan mereka bersifat sosial dan sekaligus pararel. Pada usia ini, anak mengembangkan keterampilan motorik kasar dan melakukan gerakan fisik yang sangat aktif. Energi mereka seolah-olah tiada habisnnya.

Pada usia 5 tahun, rentang konsentrasi anak menjadi agak lama. Kemampuan mereka untuk berfikir dan memecahkan masalah juga semakin berkembang. Anak dapat memusatkan diri pada tugas-tugas dan berusaha untuk memenuhi standar mereka sendiri. Secara fisik, pada usia ini fisik anak sangat lentur dan tertarik pada senam dan olah raga yang teratur. Mereka mengembangkan kemampuan motorik yang lebih baik. Kegiatan-kegiatan seperti memakai baju, menggunting, menggambar dan menulis lebih mudah dilakukan. Secara terperinci, deskripsi perkembangan fisik anak usia 3-5 tahun adalah sebagai berikut.

Tahap Perkembangan Motorik Anak

Usia

Tahap Perkembangan

Tiga tahun

  • Berdiri di atas salah satu kaki selama 5-10 detik
  • Berdiri di atas kaki lainnya selama beberapa saat
  • Menaiki dan menuruni tangga, dengan berganti-ganti dan berpeganngan pada peganngan tangga
  • Berlari berputar-putar tanpa kendala
  • Melompat ke depan dengan dua kaki 4 kali
  • Melompat dengan salah satu kaki 5 kali
  • Melompat dengan sebelah kaki lainnya dalam satu lompatan
  • Menendang bola ke belakang dan ke depan dengan mengayunkan kaki
  • Menangkap bola yang melambung dengan mendekapnya ke dada
  • Mendorong, menarik dan mengendarai mainan beroda atau sepeda roda tiga
  • Mempergunakan papan luncur tanpa bantuan
  • Membangun menara yang terdiri dari 9 atau 10 kotak
  • Menjiplak garis vertical, horizontal dan silang
  • Menjiplak lingkaran
  • Mempergunakan kedua tangan untuk mengerjakan tugas.
  • Memegang kertas dengan satu tangan dan memepergunakan gunting untuk memotong selembar kertas berukuran 5 inci persegi menjadi dua bagian.

Empat tahun

  • Berdiri di atas satu kaki selama 10 detik
  • Berjalan maju dalam satu garis lurus dengan tumit dan ibu jari sejauh 6 kaki
  • Berjalan mundur dengan ibu jari ke tumit
  • Lomba lari
  • Melompat ke depan 10 kali
  • Melompat kebelakang sekali
  • Bersalto/ berguling ke depan
  • Menendang secara terkoordinasi ke belakang dank e depan dengan kaki terayun dan tangan mengayun kea rah berlawanan secara bersamaan.
  • Dengan dua tangan menangkap bola yang dilemparkan dari jarak 3 kaki
  • Melempar bola kecil dengan kedua tangan ke pada seseorang yang berjarak 4-6 kaki darinya
  • Membangun menara setinggi 11 kotak
  • Menggambar sesuatu yang berarti bagi anak tersebut. Dapat dikenali orang lain
  • Mempergunakan gerakan-gerakan jemari selama permainan jari
  • Menjiplak gambar kotak
  • Menulis beberapa huruf

Lima tahun

  • Berdiri di atas kaki yang lainnya selama 10 detik
  • Berjalan di atas besi keseimbangan ke depan, ke belakang dan ke samping
  • Melompat ke belakang dengan dua kali berturut-turut
  • Melompat dua meter dengan salah satu kaki
  • Mengambil satu atau dua langkah yang teratur sebelum menendang bola
  • Menangkap bola tennis dengan kedua tangan
  • Melempar bola dengan memutar badan dan melangkah ke depan
  • Mengayun tanpa bantuan
  • Menangkap dengan mantap
  • Menulis nama depan
  • Membangun menara setinggi 12 kotak
  • Mewarnai dengan garis-garis
  • Memegang pensil dengan benar antara ibu jari dan 2 jari
  • Menggambar orang beserta rambut dan hidung
  • Menjiplak persegi panjang dan segi tiga
  • Memotong bentuk-bentuk sederhana.

Diadaptasi dari CRI (1997)

Perkembangan motorik anak bisa di pantau dengan melakukan suatu tes. Tes yang umum dilakukan untuk memantau perkembangan motorik adalah tes Denver. Tes ini membagi perkembangan anak jadi empat, yaitu perkembangan personal sosial, perkembangan bahasa, serta perkembangan motorik kasar dan motorik halus adaptif. Perkembangan bayi akan diamati setiap 1 bulan sekali. Sedangkan balita, atau tepatnya setelah anak menginjak usia 2 tahun ke atas, cukup 3 bulan sekali. Tes Denver merupakan checklist untuk mempermudah pemantauan akan perkembangan anak, apakah anak sesuai dengan perkembangan usianya saat itu atau tidak.

<!–[if !supportLists]–>D. <!–[endif]–>KESIMPULAN DAN SARAN

Motorik anak perlu dilatih agar dapat berkembang dengan baik. Perkembangan motorik anak berhubungan erat dengan kondisi fisik dan intelektual anak. Faktor gizi, pola pengasuhan anak, dan lingkungan ikut berperan dalam perkembangan motorik anak. Perkembangan motorik anak berlangsung secara bertahap tapi memiliki alur kecepatan perkembangan yang berbeda pada setiap anak.

Pada umumnya anak usia 3 sampai 4 tahun memiliki kekuatan fisik yang mulai berkembang, tapi rentang konsentrasinya pendek, cenderung berpindah-pindah dari satu kegiatan ke kegiatan yang lain. Sedangkan pada usia 5 tahun Secara fisik, pada usia ini fisik anak sangat lentur dan tertarik pada senam dan olah raga yang teratur. Mereka mengembangkan kemampuan motorik yang lebih baik. Kegiatan-kegiatan seperti memakai baju, menggunting, menggambar dan menulis lebih mudah dilakukan

Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menstimulasi perkembangan motorik anak adalah sebagai berikut:

  • Memberikan kesempatan belajar anak untuk mempelajari kemampuan motoriknya, agar ia tak mengalami kelambatan perkembangan.
  • Memberikan kesempatan mencoba seluas-luasnya agar ia bisa menguasai kemampuan motoriknya.
  • Memberikan contoh yang baik, karena mempelajari dan mengembangkan kemampuan motoriknya lewat cara meniru, si kecil perlu mendapat contoh (model) yang tepat dan baik.
  • Memberikan bimbingan karena meniru tanpa bimbingan tak akan mendapatkan hasil optimal. Ini penting agar ia mengenali kesalahannya.
  • Penggunaan KMS (Kartu Menuju Sehat) yang bisa memantau perkembangan motorik anak secara praktis, untuk melihat apakah anak berkembang sesuai dengan tahapannya atau tidak.

[Endah, http://parentingislami.wordpress.com]

DAFTAR PUSTAKA

CRI Team, Pembelajaran Berpusat pada Anak, Washington: CRI

Petterson, Candida (1996) Looking forward through the Lifespan, Australia: Prentice Hall

Santrock, John (2007) Child Development, New York: McGrow

Yusuf, Syamsu LN (2002) Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Bandung: PT Remaja Rosdakarya

 

BAGAIMANA MEMBUAT ANAK “CEREWET”? Mei 1, 2008

Diarsipkan di bawah: Parenting — masteja @ 3:59 am

“Umi kenapa ayam kakinya dua? Kenapa kucing kakinya empat? Kenapa ikan gak ada kakinya dan hidup di air?” Celotehan anak seperti itu kadangkala sering membuat kita sebagai orangtua cukup kewalahan dalam menjawab. Bahkan banyak diantara kita yang kesal kemudian menegurnya. Padahal sebenarnya kekritisan anak yang kita anggap sebagai “cerewet” tersebut merupakan salah satu tanda bahwa dia memiliki kecerdasan linguistik yang baik. Kecerdasan linguistik sangat berkaitan erat dengan kecerdasan kognitif anak. Berarti ketika anak “cerewet” berarti kecerdasan kognitif anak pun berkembang dengan baik.
Sebagai orang tua yang merupakan madrasah utama dan pertama bagi anak, sangat penting untuk memberikan stimulai positif supaya perkembangan linguistik anak bisa optimal. Bagaimana melakukannya? Berikut ini beberapa hal yang bisa kita lakukan dalam mengembangkan kecerdasan liguistik anak.
1. menyediakan bermacam media literasi untuk anak
Media literasi seperti koran, buku anak, iklan, kertas, pensil, dan semacamnya harus disediakan di tempat yang bisa diakses oleh anak yang sedang belajar. Misalnya meja belajar anak atau rak buku pendek yang bisa diakses anak. Ketersediaan media literasi ini bisa mengembangkan kesadaran awal literasi, terutama dalam aspek tertulis (print). Menurut Larrick (198 8) berbagai alat dan bahan untuk membaca dan menulis akan memperkuat perkembangan literasi dini. Anak akan terbiasa berinteraksi dengan media literasi dan bereksplorasi dengannya.

2. mendemonstrasikan beragam kegiatan literasi dan libatkan anak untuk mengalaminya
Anak belajar dari keteladanan. Jika orangtua terbiasa membaca dan menulis, maka anak akan mencontoh hal tersebut. Karena itu, pada saat orang tua melakukan kegiatan literasi baik membaca atau menulis, libatkan anak dalam kegiatan tersebut.. Hal ini kadangkala jarang dilakukan orang tua karena biasanya mereka tidak mau di ganggu ketika membaca atau menulis. Jika memang ada hal penting yang harus segera diselesaikan, dan tidak ingin mendapat gangguan, lakukan aktifitas tersebut di malam hari dan sediakan waktu luang khusus untuk kegiatan literasi dengan anak. Perkembangan anak tidak kalah pentingnya dengan masalah pekerjaan.

3. melibatkan anak dalam interaksi literasi.
Salah satu ciri keluarga yang baik adalah keluarga yang literat yang didalamnya terjadinya diskusi tentang apa yang anggota keluarga lihat, lakukan, dan alami termasuk berbagai buku yang mereka baca, musik yang mereka dengar, atau film yang mereka lihat. Ketika orang tua membicarakan pengalaman sehari-hari, disarankan melibatkan anak dalamnya. Atau, ketika orang tua dan anak anak yang sedang membaca dongeng sebelum tidur, orang tua mungkin dapat menceritakannya dari beragam aspek dongeng yang berbeda misalnya mengangkat aspek latar, alur cerita, dan penokohan tanpa menggunakan istilah literasi yang abstrak. Interaksi literasi inii akan mempercepat dan meningkatkan pembelajaran dan apresisasi literasi anak.

[Endah,  http://parentingislami.wordpress.com]

 

Bunda Ayun Aku dalam Buaianmu! Mei 1, 2008

Diarsipkan di bawah: Parenting — masteja @ 3:58 am

Bila kita perhatikan, pola asuh yang berbeda sangat
terlihat antara pola asuh budaya Barat serta Timur.
Kebanyakan pola asuh yang biasa diterapkan oleh
masyarakat di Barat, tampak menerapkan kemandirian
sejak anak masih kecil. Anak dibiarkan dalam kamar
terpisah sendari dini ( bahkan sejak masih bayi ),
dibiarkan untuk tertidur dalam kamarnya tersebut.
Bandingkan dengan budaya di daerah Timur, bayi
ditidurkan dengan diayun, di-ais ( bahasa Sunda ),
di-emban ( bahasa Jawa ), tidur dalam satu kamar,
bahkan satu tempat tidur dengan ayah bundanya.

Sepintas nampak perbedaan yang jelas terhadap pola
asuh tadi. Namun adakah pengaruh yang signifikan
terhadap pola tumbuh kembang anak selanjutnya?

Ternyata pola tadi sempat ditanyakan dalam bukunya
Dr.Ratna Megawangi, Character Parents space, dikatakan
bagaimana pengaruhnya bila anak dininabobokan oleh
ibunya sebelum tidur.

Ternyata jawabanya sungguh mengejutkan. Pola di Timur
yang biasa kita lakukan ternyata perlu kita syukuri.
Dikatakan bila anak lebih banyak mendapatkan dekapan
dan sentuhan fisik, ada semacam kerinduan terhadap
orangtuanya. Dan hal ini merupakan dasar bagi hubungan
harmonis di dalam kelurga. Di Barat, anak yang diberi
kamar sendiri sejak bayi, dalam perkembanganya anak
bukannya mandiri , malah cenderung untuk individualis.
Hal ini disebabkan karena sebenarnya mereka belum siap
dipisahkan dan masih merindukan ketergantungan kepada
orangtua.
Hal ini didukung juga dengan penelitian yang
memaparkan bahwa hal tadi ( meninabobokan dll ) dapat
menimbulkan efek psikologis kedekatan hubungan antara
ibu dan anak lebih erat. Anak merasa aman, mendapatkan
kasih sayang, dan sentuhan membuat fondasi
perkembangan spiritual dan emosi anak berkembang. Efek
ini juga sama jika kita mendongengkan sebuah cerita.

Pengaruh mengayun ini ternyata sangat luar biasa.
Bukankah anak mudah tertidur saat kita ayun?
Meng’ayun’ sebenarnya ‘fitrahnya’ bayi. Karena ia
terbiasa di’ayun’dalam cairan dalam rahim ibu saat ia
masih dalam kandungan. Lihat saja saat ia menangis,
pola mengayun ini sering membuat tenang (tentu bukan
menangis karena lapar atau basah ya)

Semoga tulisan ini dapat menjadi semangat bagi bunda
atau ayah, yang mungkin kelelahan saat mengayun
anaknya atau yang beranggapan bahwa mengayun anak
membuat jadi kebiasaan yang salah atau bahkan membuat
anak tergantung. Percayalah ini adalah investasi yang
berharga bagi masa depannya kelak. Karena tentu kita
berharap, anak-anak kita bukan saja tumbuh sehat
secara jasmaninya saja, tapi juga sehat mentalnya juga
sehat secara emosionalnya. Amiin

Jadi bunda…., ayunlah anak-anak kita dalam buaianmu….