Tidak terlalu berlebihan rasanya, kalau kukatakan aku sangat ‘menikmati’ rasa sakit yang mengiringi proses kelahiran putriku yang keenam kali ini. Sakitnya memang sama sekali tidak berkurang dibandingkan dengan proses kelahiran yang sebelum-sebelumnya. Tetapi lebih karena kekhawatiran, bahwa kali ini adalah kesempatan melahirkan yang terakhir kalinya bagiku.Sebenarnya sudah semenjak usai melahirkan anak kelima, suamiku mulai berpikir serius untuk mencukupkan untuk sementara jumlah anak kami. Atau setidaknya, menunda jaraknya agar lebih jauh lagi. Pasalnya, untuk kedua kalinya, usai melahirkan kala itu aku harus menjalani proses kuretase. Ari-ari tak mau keluar sendiri, itu penyebabnya. Jadi harus dibersihkan di dalam rahim.Sang dokter yang menangani persalinan sudah berpesan khusus, bahwa kondisiku sudah semakin beresiko. Itu yang membuat suamiku sangat khawatir, dan sejak itu ia begitu teliti dan hati-hati mengupayakan agar tidak sampai terjadi kehamilan berikutnya. Usaha ini bisa bertahan hingga setidaknya hampir empat tahun, ketika akhirnya haidku pun akhirnya datang terlambat juga. Dan Alhamdulillah, ternyata suamiku tetap bisa menerima dengan senang hati. Tanpa rasa kecewa. Tanpa rasa terbebani. Kami cuma pasrah dan yakin seratus persen, bahwa kehendak Allah-lah yang terbaik bagi kami.Walaupun kehamilan keenamku cukup sehat, namun tak dapat disangkal bahwa terjadi penurunan kualitas fisik. Lebih mudah sakit, bengkak-bengkak serta kram, kerap kali membuat suamiku tak tega melihat penderitaanku. Ditambah lagi, sang jabang bayi belum mau lahir-lahir juga hingga waktu yang diperkirakan telah lewat sekalipun ! Sangat membuatnya semakin khawatir. Dan semakin memperkuat keinginannya untuk memintaku steril. Beberapa dokter yang sudah ia jadikan tempat berkonsultasi, menyatakan bahwa proses steril termasuk proses KB yang tidak melanggar aturan agama. Maka sepakatlah kami untuk meminta dokter yang kelak akan menangani persalinanku untuk sekaligus melaksanakan steril usai proses persalinan nanti.Itu sebabnya, aku menganggap kehamilan keenam ini menjadi amat bersejarah bagiku. Aku sungguh menikmatinya, sejak ketika kutahu bahwa aku positif hamil. Datangnya rasa mual kuterima dengan segenap rasa syukur. Membuncitnya perut senantiasa kubelai penuh sukacita. Ah, akankah ini yang terakhir kalinya ?Untuk pertama kalinya, aku begitu bangga dengan postur tubuhku yang kian ‘condong ke depan’. Anakku menjulukiku seperti ‘kereta api’, yang tentu saja membuatku tertawa terbahak mendengarnya. Ributnya anak-anakku, si empat setengah tahun, si tujuh tahun dan si sembilan tahun, kala mengomentari kehamilan dan menunggu-nunggu datangnya ‘adik baru’ mereka, menjadi hiburan yang menarik hati. Benar-benar kunikmati !Hingga saat-saat memasuki bulan ke sembilan, harapanku terbelah menjadi dua. Separuh kurasakan masih ingin berlama-lama lagi hamil dan menikmatinya. Sementara separuh yang lain begitu mengharap-harap segera tiba saat persalinan, yang merupakan saat paling mendebarkan ! Tetapi kedua-dua harapan itu sama-sama mengasyikkan!Baru kali ini, aku begitu rajin memeriksakan diri ke dokter selama kehamilan. Hingga saat pemeriksaan terakhir, dokter menyatakan air ketuban sudah mulai menipis. Waktu memang telah lewat dari saat persalinan yang diperkirakan. Maka saat itu juga, dokter menyarankan untuk dilakukan induksi saja. Dirangsang agar si bayi mau cepat lahir. Hatiku berdebar senang. Dokter menawarkan, apakah aku mau langsung menjalani induksi hari itu juga, atau pulang terlebih dulu untuk menjalani induksi esok hari. Keinginanku bulat, ingin saat itu juga. Tetapi aku ingat, belum membawa persiapan persalinan apapun. Bagaimana juga harus memberitahu keluarga di rumah ?Kusesali, keinginan membeli pulsa sedari tadi pagi belum juga terwujud. Hand phoneku tak bisa kumanfaatkan karenanya. Bagaimana aku harus memutuskan tanpa persetujuan suamiku ?Subhanallah, di kala kebimbangan memuncak, hand phone berdering. Suamiku tercinta menelpon ! Kuminta pendapatnya, dan ia pun setuju-setuju saja untuk segera melahirkan. Setengah jam kemudian, suamiku tercinta sudah mendampingiku di rumah sakit untuk memproses segala sesuatunya.*** Tiada habis-habisnya aku bersyukur, karena seluruh proses kehamilan dan persalinanku senantiasa mulus-mulus saja. Mual-mual di tiga bulan pertamanya senantiasa kunikmati saja. Begitu pula panas-dinginnya yang khas di pagi dan sore hari. Selama belasan tahun tersebut, hanya sekali saja aku pernah muntah ketika hamil. Selain itu, jenis makanan apa saja bisa masuk perut.Yang paling tidak terlupakan, tentu saja, proses kehamilan dan persalinan yang pertama. Usiaku masih dua puluh tahun kala itu. Air ketuban pecah pukul sepuluh malam. Rasa kantuk pun hilang. Bertiga bersama suami dan ibuku, kami berangkat ke rumah bersalin.Sayangnya, bidan menjelaskan bahwa proses masih akan lama. Kemungkinan esok hari baru akan terjadi persalinan. Kami disarankan untuk pulang dulu dan kembali esok hari. Tetapi karena hari telah larut, kami memilih untuk langsung memesan kamar saja. Tanpa diduga, rasa sakit datang semakin cepat. Lima belas menit sekali, sepuluh menit, hingga lima menit sekali. Suamiku duduk di samping ranjang dengan muka pucat dan cemas. Hingga saat itu, wajahku hanya meringis menahan sakit, ketika rasa sakit itu datang. Sakit sekali ! Kukuatkan diri untuk menahannya. Tanpa suara, walaupun tetap berteriak dalam hati ! Kucoba terus berdzikir. Sebuah keyakinan yang sudah kupersiapkan jauh sebelum saat persalinan. Bahwa rasa sakit bisa dilawan dengan mengkonsentrasikan pikiran kepada sesuatu pikiran yang kuat.Itulah surga ! Itulah kebesaran Allah ! Maka kucoba untuk membayangkan surga, kebesaran-kebesaran Allah. Kupusatkan pikiranku ke sana, ketika rasa sakit itu mulai datang menyerang. Kubantu dengan lafadz-lafadz dzikir untuk memperkuat konsentrasi. Dan alhamdulillah ! Sangat besar rasa syukurku ketika kutahu bahwa selama hampir setengah jam aku berhasil mengatasi sakit dengan cara itu.Hingga kemudian pikiran lain melintas. Kulirik wajah suamiku yang sedikit tegang. Terlintas dalam pikiranku, tahukah ia betapa berat sakit yang dialami istri yang melahirkan ? Seorang suami harus tahu, pikirku. Harus tahu, supaya ia bisa menghargai istrinya. Supaya ia bisa lebih mencintai anaknya. Supaya ia lebih bisa memberikan cinta kasihnya pada keluarga. Lantas, bagaimana suamiku bisa tahu penderitaanku kalau aku tidak mengeluh ? Jangan-jangan ia berpikir rasa sakit persalinan tak lebih sakit dari pada sekedar sakit perut semata. Maka terlintaslah pemikiran untuk menghentikan dzikir. Biarlah rasa sakit kurasakan. Biarkanlah keluh kesah kukeluarkan. Biarkanlah suamiku mengetahuinya ! Itulah yang kulakukan pada kesempatan datangnya kontraksi berikutnya. Rasa sakit menyerang, kucoba bertahan tanpa berdzikir. Tanpa konsentrasi. Dan….. masya Allah…… kurasakan sakit begitu hebat yang terasa hampir-hampir tak kuat aku menanggungnya !! Tiada lain lagi kulakukan kecuali segera beristighfar !! Sakit sekali !! Seketika hilang kepedulian tentang suamiku. Ah, peduli amat apakah ia tahu penderitaanku atau tidak. Yang jelas aku benar-benar kapok untuk meniadakan dzikir! Sekali-kali tidak !! Saat itu juga kurasakan sepenuh jiwa, itulah maknanya ikhlas. Ketika kucoba dengan segenap keikhlasan untuk mengatasi rasa sakit dengan mengingat-ingat kebesaran-Nya, Dia pun menghilangkan rasa sakit itu. Tetapi manakala keikhlasan sudah tertutupi dengan tujuan-tujuan lain, Allah datangkan lagi rasa sakit itu ! Naudzubillah ……